
Sampai di rumah orang tuanya, Valdo langsung naik ke lantai atas, tepatnya masuk ke kamar Zareena tanpa mengetuk pintu.
Dua orang di dalam sana kaget. Zareena tengah mencoba gaun pertunangan dengan dibantu oleh Belva. Ada beberapa pilihan baju yang membuat Zareena bingung untuk memilih.
"Kau keluar dulu, Belva. Aku ingin bicara sebentar pada Zareena." Valdo membuka pintu lebar, mempersilakan istrinya itu keluar lebih dulu.
"Ada apa?" Zareena meletakkan gaun warna biru di atas tumpukan gaun lainnya. Ia menatap Valdo, perasaannya mengatakan sesuatu yang akan membuatnya berada dalam masalah.
Valdo menutup dan mengunci pintu, lalu memandang lekat adiknya. "Kau tidak mematuhi perintahku. Sejak kapan kau berhubungan bersama Tristan?"
"Apa yang kau maksud?"
"Jangan lagi berpura-pura. Aku tahu semuanya, Zaree." Valdo sedikit meninggikan nada bicaranya. "Kau bahkan liburan bersamanya."
"Aku hanya bersenang-senang dengannya. Tidak ada yang spesial dari hubungan singkat itu."
"Kau menangis. Kau patah hati. Aku tahu itu. Kau hanya tidak menyadarinya."
"Aku mohon, Valdo." Zareena memelas.
Valdo mendekati adiknya. "Kau suka padanya?"
__ADS_1
Zareena mengangguk. "Aku suka padanya."
"Kau tahu Tristan tidak mau berkomitmen. Dia tidak mau menikah atau menjalani hubungan serius. Seharusnya aku tidak menitipkanmu bersamanya waktu itu. Ini salahku."
Zareena menggeleng. "Bukan, Valdo. Sebenarnya ini terjadi sejak pertama kami bertemu."
"Astaga, Zareena!"
"Aku tahu Tristan tidak ingin menikah, dan dia juga tidak ingin menjadikanku kekasih. Itu sebabnya, aku menyetujui perjodohan ini." Zareena mencoba menerangkan jika dirinya tidak masalah akan hal ini. "Kami hanya teman kencan. Tidak lebih dari itu."
"Tapi kau menyukainya. Kau bersedih waktu kita pulang dari makam."
Zareena menggeleng. "Hanya perasaan sesaat. Sudahlah, Val. Aku tidak ingin membahas Tristan lagi. Aku sudah melupakannya."
"Akan aku coba."
Valdo mengangkat tangan, ia tidak yakin Zareena bisa melupakan perasaannya. Valdo lantas melangkah pergi, sedangkan Zareena terduduk di atas tempat tidur.
Menyakini diri jika keputusannya tepat memilih Chris dibanding Tristan, meski rasa suka itu cenderung ke arah pria yang tidak ingin berkomitmen.
Bunyi ponsel terdengar, Zareena memandang benda pipih yang menyala. Dengan malas ia meraih gawai itu, melihat nomor baru yang tertera di layar.
__ADS_1
Zareena melempar begitu saja gawai-nya. Rasa malas menghantui, tetapi ponselnya tidak berhenti memanggil. Lalu, sebuah pesan ia dapatkan.
Mata bulat itu melotot setelah membaca pesan dari nomor tidak dikenal. Zareena bangkit dari duduknya, lalu mencoba menelepon. Jantungnya berdetak kencang ketika mendengar suara yang menjawab.
"Kau mau apa, Tristan?" Zareena berusaha untuk tenang.
"Aku bersumpah akan memberitahu orang tuamu jika kau tidak menemuiku sekarang. Aku berada di dekat rumah. Cepatlah turun, aku menunggumu."
Sambungan telepon itu diputus sebelah pihak. Zareena berdecak, kemudian meraih tas ranselnya yang berada di sofa kamar.
Dengan gegabah, Zareena menuruni anak tangga. Ia menghindari Valdo, tetapi Mary melihatnya.
"Kau mau ke mana, Nak?" Mary memperhatikan raut wajah putrinya. "Ada masalah?"
Zareena tersenyum. "Aku ingin belanja sebentar. Ada yang kurang?"
"Kau masih tidak cukup belanja untuk pertunangan? Biar Mama pergi menemanimu," ucap Mary.
Zareena menggeleng. "Tidak usah, Ma. Aku ingin sendiri memilih barang belanjaanku. Aku pergi dulu."
Tidak ingin ditanya-tanya lagi, Zareena sedikit berlari menuju pintu luar. Mary cuma bisa menggeleng memperhatikan putrinya pergi.
__ADS_1
Bersambung