
Seperti yang Tristan duga sebelum ia menginjakan kaki ke rumah Valdo. Sahabatnya itu enggan untuk menerimanya, bahkan Valdo dengan tegas mengusir sebelum langkahnya masuk ke rumah. Namun, telinga tuli Tristan tetap membuatnya berada di depan rumah itu.
"Apalagi, Tris? Belum cukup kau mempermalukan keluargaku." Valdo menatap Tristan. Pandangan itu menyiratkan kekecewaan terhadap sahabatnya. "Jangan katakan kau menyesal karena itu tidak dapat membuat semuanya kembali. Lebih baik kau pergi dari sini!"
"Aku kecewa, Valdo. Kau tahu, Zareena tidak mengatakan apa pun saat kami bersama. Aku sudah mengatakan padanya, kalau ia adalah milikku, dan berharap kami akan terus bersama," ungkap Tristan menjelaskan.
"Bersama? Lalu, sebagai apa?" Valdo mempertanyakan itu. "Maksudmu kau ingin bersama adikku tanpa ikatan apa pun, sementara dirimu tetap mencintai kekasihmu itu?"
"Aku menyadarainya, Valdo. Aku jatuh cinta pada Zareena. Aku menginginkan dia di sisiku."
Valdo tersenyum getir. "Bagimu ini mudah, Tris? Kau masih tidak sadar atas apa yang kau lakukan? Mau taruh di mana wajah keluargaku? Kau mempermalukan kami. Sekarang kau pergilah."
"Aku akan menemui orang tuamu. Aku akan tanggung jawab atas apa yang telah kuperbuat."
"Terserah padamu. Aku tidak peduli dengan apa yang akan kau lakukan." Valdo menyeret kakinya masuk rumah, lalu menutup pintu.
__ADS_1
Tristan mengembuskan napas kasar, ia memandang sekali lagi kediaman Valdo sejenak. Berharap sahabatnya itu keluar, kemudian memberi maaf padanya.
Namun, Tristan salah menduga. Hal itu tidak mungkin terjadi. Valdo tidak akan pernah memaafkannya sebelum ia bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.
Tristan mengendarai mobil menuju ke sebuah rumah sakit. Setahunya, Chris adalah seorang dokter bedah karena Valdo waktu memberi undangan pernah mengatakannya. Ia telah mencari di internet nama Chris dan pria itu memang bertugas di salah satu rumah sakit London.
Sampai di tujuan, Tristan bertanya resepsionis. Chris tidak bertugas malam ini, tetapi akan ada di jadwal siang besok. Tristan kemudian meminta tempat praktik atau alamat dari dokter tersebut, meski ia mendapat tatapan curiga dari bagian administrasi.
"Aku minta nomor teleponnya saja kalau begitu. Ada hal penting yang ingin kusampaikan. Tolong kau bantu aku." Tristan mencoba membujuk, baginya tidak masalah kalau hanya sekadar nomor telepon.
Dua panggilan tidak terjawab. Tristan tidak putus asa, lalu ia mencoba untuk ketiga kalinya, dan akhirnya terjawab. Terdengar suara dari seberang sana.
"Halo!"
"Chris, ini aku, Tristan! Aku adalah pria yang mengacaukan pertunanganmu kemarin."
__ADS_1
Hening yang Tristan dengar. Suara yang ia dengar tadi belum mengatakan apa-apa lagi. Lalu, Tristan kembali bersuara.
"Aku ingin bertemu denganmu. Coffee shop jalan St. StuartFarm. Aku menunggumu sekarang. Kuharap kau mau menemuiku."
"Aku tidak janji untuk datang," sahut Chris.
"Aku akan tetap menunggumu di sana."
Telepon sambungan diputus Chris. Hanya helaaan napas yang Tristan embuskan. Chris datang atau tidak, ia tetap menuju ke kedai kopi. Paling tidak Tristan akan menunggu sampai kedai itu tutup bila Chris sungguh tidak akan datang.
Mobil melaju menuju jalan St. StuartFarm. Sampai di sana, ia langsung memesan kopi ekspresso panas, kemudian ia sengaja duduk di bagian luar sembari menunggu Chris.
Lewat 15 belas menit, pria yang ditunggu juga tidak datang. Namun, Tristan belum juga enggan untuk beranjak dari sana. Sesuai tekadnya, ia akan menunggu sampai kedai kopinya tutup.
Bersambung
__ADS_1