My Hot Baby

My Hot Baby
Marahnya Valdo


__ADS_3

Jelas saja Valdo kaget atas ucapan Tristan yang seperti tidak menerima kabar bahagia ini. "Aku sudah bilang dan aku mengundangmu ke acara itu."


Tristan bangun dari duduknya. "Kau tidak berkata sejak awal, Valdo. Kau diam saja saat kita bertemu. Kapan perjodohan ini berlangsung? Mengapa bisa?"


Valdo pun bangkit dari duduknya. "Apa aku harus selalu memberitahu apa saja tentang keluargaku? Sebenarnya apa masalahmu?"


Tiba-tiba Valdo terdiam, seperti menyadari sesuatu pada sahabatnya. Ia menatap Tristan lekat. "Apa yang terjadi? Kau bersama Zareena?"


Tristan membisu, ia telah menunjukkan emosi, dan itu membuat Valdo sadar akan sebenarnya yang terjadi.


"Sialan kau, Tristan!" Valdo menghampiri sahabatnya, lalu melayangkan bogem mentah di pipi Tristan. "Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak bersamanya."


"Ya, kami bersama," aku Tristan.


Valdo ingin menghajar Tristan lagi, tetapi pria itu dapat menahannya. Valdo menarik tangannya. "Apa yang kau lakukan pada adikku? Kau sialan, Tristan!"


"Aku menidurinya."


Terjangan tidak dapat Tristan elakkan. Ia menahan rasa sakit di perut. Valdo pantas marah karena ia sudah diperingatkan untuk menjauh dari Zareena.


"Kau tahu kenapa aku melarangmu mendekati adikku. Kau tahu alasannya, Tris." Valdo berkata dengan nada kecewa. "Aku memaklumimu saat kau dan Zareena bermesraan pada hari pernikahanku. Tapi kau malah bertindak lebih dengan membawanya ke tempat tidur. Kau sungguh membuatku kecewa."

__ADS_1


"Adikmu sudah dewasa dan kami melakukannya atas dasar suka sama suka."


"Setidaknya kau ingat kalau Zareena adalah adikku!" tukas Valdo. "Kau tahu kalau dia bersedih saat kembali dari makam, dan aku tahu apa alasannya. Kau ...."


Tristan tersentak mendengarnya. Zareena menangis dari makam, dan dugaannya benar kalau wanita yang mengisi harinya itu memang marah.


Valdo tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ia mengusap wajahnya kasar. "Pertemanan kita cukup sampai di sini."


"Valdo!"


"Aku tidak ingin mengenalmu, Sialan!" Valdo berjalan menarik handel pintu, lalu keluar.


Tristan menyusul dengan meraih pundak sahabatnya. "Aku bisa jelaskan."


"Kami sama-sama suka!" Tristan menerangkan dengan nada tinggi, seakan ia tidak ingin disalahkan begitu saja.


"Itu sebelum Zareena tahu kalau kau masih mencintai Lily!" ucap Valdo. "Adikku bersedih, dan kuyakin dia punya perasaaan padamu. Kau menghancurkannya, Tris. Kau boleh mengencani wanita manapun, tetapi jangan adikku!"


Valdo melanjutkan langkahnya, tetapi Tristan kembali mencegat. "Kami tidak punya hubungan apa-apa, dan kau tidak perlu marah. Kau tidak perlu memutuskan hubungan persahabatan kita. Kami hanya beberapa hari bersama."


"Apa kau bilang? Beberapa hari bersama?"

__ADS_1


"Aku dan Zareena liburan bersama."


"Kau sungguh keterlaluan!" Valdo mendorong Tristan sampai tubuh itu terbentur dinding.


Saat sekretarisnya ingin menolong, Tristan mencegahnya. Ini adalah urusan mereka, dan hanya ia juga Valdo yang dapat menyelesaikannya.


"Kau bukan lagi sahabatku. Kau hanya seorang pria buruk!" tukas Valdo seraya menunjuk Tristan.


"Aku menyukainya," aku Tristan.


"Menyukai tubuhnya maksudmu? Kuharap kau mati menyusul kekasihmu itu," rutuk Valdo.


"Valdo!" bentak Tristan.


"Kita tidak punya hubungan apa-apa." Valdo mengangkat tangannya. "Jangan pernah kau menampakkan batang hidungmu itu di hadapanku maupun Zareena!"


Lalu, melangkah pergi masuk lift. Tristan berjalan menuju ruang kerjanya, meraih undangan yang baru saja ia dapatkan. Ia membuka, kemudian membacanya. Tertera nama Zareena dan Chris di kertas itu.


Tristan meremukkan kertas itu. "Jadi, karena ini kau mengabaikanku. Kau berbohong sebelum kita liburan bersama."


Tristan melempar undangan ke lantai, lalu menginjak-injaknya. Ia mengambil kunci mobil, jas, lalu segera melangkah pergi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2