
Akhirnya, beban pekerjaan terlepas dari pundak Tristan. Selama empat belas hari, ia akan menghabiskan waktu bersama Zareena, dan ia tidak sabar untuk segera bertemu dengan wanitanya itu.
Penginapan, segala macam fasilitas telah Tristan siapkan. Mereka akan menginap di pulau Molis dengan resort pribadi yang hanya akan Tristan dan Zareena tempati. Tidak ada yang akan mengangguk mereka berdua. Mau berbusana atau tidak, keduanya akan bebas di sana.
Sebelum itu, Tristan menelepon Zareena karena besok, mereka akan berangkat. Rencananya Tristan datang lebih dulu agar mereka tidak ketahuan liburan bersama. Sebenarnya Tristan merasa aneh pada hubungannya bersama Zareena. Ia tidak seharusnya bersembunyi, tetapi kesan tidak menggenakkan dari Mary serta Valdo itulah yang membuat Tristan untuk bersembunyi membawa Zareena liburan.
Tristan melakukan panggilan video. Rasa rindu itu membuncah meski keduanya setiap malam selalu bertatap muka walau hanya dari layar ponsel.
"Hai!" sapa Tristan.
"Hai!" balas Zareena, yang sengaja tidak mengenakan apa pun.
Tristan berdecak melihat tampilan Zareena yang semakin berani itu. Wanita itu terlihat polos jika seseorang baru mengenalnya, tetapi begitu liar bila telah menjadi akrab. Zareena sangat pintar menyembunyikan sisinya yang satu ini.
"Kau sengaja ingin menggodaku?" tanya Tristan.
"Aku baru saja selesai mandi, dan kau menelepon."
"Pakai bajumu," ucap Tristan.
"Kau yakin ingin menyuruhku memakai baju?"
Tristan memalingkan wajah ke arah lain, lalu melirik Zareena, tetapi pandangannya turun ke arah bagian yang menggantung. Tristan mengusap wajahnya.
"Pakai celana saja dan biarkan aku melihat bagian atas tubuhmu," ucap Tristan.
__ADS_1
"Baiklah," sahut Zareena sembari tersenyum licik.
Ia mengambil segitiga dalaman, memperlihatkannya kepada Tristan lebih dulu kemudian memakainya dengan gerakan lambat.
"Oh, sial!" umpat Tristan. "Kau akan mendapat balasannya, Zaree."
Zareena terbahak. "Kau ingin melakukan apa?Aku siap menerima tantanganmu."
"Sayang, jangan siksa aku. Sebaiknya kita membahas rencana besok."
Zareena mengambil pelembab tubuh, menuangkannya ke tangan kemudian membalurkannya ke lengan serta tubuh bagian depannya.
"Sayang, kumohon," ucap Tristan.
"Siapa yang akan mengantarmu? Apa aku bisa mengirim supir? Mereka bisa mengatakan kalau itu taksi online yang kau pesan."
Zareena menggeleng. "Orang tuaku sudah tahu kalau aku akan pergi liburan ke Yunani. Aku meminta supir rumah mengantar ke bandara. Kau jangan khawatir, aku tidak akan terlambat."
"Datang satu jam lebih cepat. Aku akan langsung menunggumu di dalam."
"Iya, sampai jumpa besok," ucap Zareena seraya memberi kecupan jarak jauh.
Tristan bergaya dengan menangkap kecupan itu, lalu mengusap wajahnya seolah bibir Zareena telah menyentuh seluruh wajahnya itu.
Zareena tertawa melihat itu. "Semoga tidurmu indah."
__ADS_1
"Kau juga," balas Tristan, lalu panggilan video terputus.
Terdengar pintu diketuk, Zareena lekas meraih piama yang ada di atas tempat tidur, lalu memakainya, dan lekas membuka pintu.
"Mama!"
"Kau sibuk?" tanya Mary.
"Tidak, masuklah."
"Kau sudah bersiap untuk ke Yunani?"
"Ya, seperti yang Mama lihat, aku sudah siap," jawab Zareena.
"Bagaimana pendapatmu tentang Chris?"
"Dia pria baik dan tampan."
Mary tersenyum. "Mama harap kau mau bersanding bersamanya."
"Tapi aku tidak tahu apakah Chris menyukaiku. Kami ingin saling mengenal lebih dulu."
Mary mengangguk. "Iya, Sayang. Tapi Mama berharap sekali Chris bisa menjadi bagian dalam keluarga kita."
Bersambung
__ADS_1