
Sebuah kejutan untuknya. Tristan sama sekali tidak percaya, tetapi ini kenyataan yang sebenarnya. Zareena pergi dari rumah dan entah ke mana wanita itu berdiam diri sekarang.
Tristan melajukan mobilnya ke perusahaan Valdo. Sahabat baiknya itu, ya, setidaknya Tristan masih menganggap Valdo sebagai sahabat, meski pria itu menganggap hubungan pertemanan mereka telah putus.
Baru sampai di depan pintu, Tristan sudah diusir oleh penjaga. Rupanya Valdo telah memutus aksesnya untuk datang ke perusahaan. Kakak kandung dari Zareena itu sungguh tidak ingin diganggu. Kali ini, Valdo benar-benar murka.
Tristan mencoba menelepon, tetapi panggilannya sama sekali tidak dijawab. Mencoba berkali-kali pun sama saja, Valdo tetap mengabaikan dirinya.
Tidak ingin membuang waktu, Tristan masuk mobil, lalu mengendarai kendaraan roda empatnya menuju kediaman Belva. Jika Valdo enggan menerima, maka ia bisa mengorek keterangan dari istri sahabatnya.
Untungnya Belva membiarkannya bicara, meski hanya di luar rumah saja. "Kumohon, Belva. Katakan di mana Zareena sekarang?"
"Aku sungguh tidak tahu, Tristan. Dia tidak kemari atau mengatakan sesuatu pada kami."
"Kalian pasti bohong. Kenapa kalian tidak panik kalau Zareena tidak pulang?"
"Dia bukan kabur. Zareena mengatakan akan tinggal sendiri. Dia keluar rumah dengan kemauannya sendiri," ucap Belva.
__ADS_1
"Aku tidak percaya ini." Tristan menyugar rambutnya ke belakang. "Sahabatnya, Colin. Dia pasti berada bersamanya, kan?"
Belva menggeleng. "Colin juga tidak bisa dihubungi. Aku tidak tahu apa-apa. Sungguh, Tristan."
Namun, Tristan masih tidak percaya. "Aku akan mencari Colin. Zareena pasti bersamanya. Berikan aku nomornya."
Belva manut saja atas permintaan Tristan. Ia memberi nomor kontak Colin, dan pria itu langsung melakukan pemanggilan. Tristan mengumpat karena sahabat Zareena juga tidak bisa dihubungi.
"Terima kasih, Belva. Aku pulang dulu."
"Miles, aku butuh bantuanmu," ucap Tristan dari balik telepon.
"Ada apa?" terdengar suara pria menyahut.
"Kita bertemu di kedai kopi saja. Aku share lokasinya." Telepon itu, Tristan putus begitu saja, lalu ia melaju dengan kecepatan maksimal.
Sampai di kedai kopi Barbara, Tristan menunggu Miles yang akan datang menemuinya. Tidak lama bagi pria itu menunggu karena Miles cepat tiba di lokasi.
__ADS_1
"Ada apa?" Miles mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Kau punya paman yang bekerja di kepolisian, kan? Aku minta kau lacak Zareena juga Colin. Dia lari dari rumah, tetapi aku tidak tahu dia di mana. Valdo tidak mau memberitahu, tetapi istrinya mau bicara. Tapi Belva mengatakan kalau ia tidak tahu juga. Aku tidak percaya. Valdo memang kelihatan tidak peduli pada adiknya, tetapi ia sangat sayang pada Zareena. Aku yakin dia sudah tahu, tetapi hanya diam saja."
"Kau kira Zareena dan Colin buronan?" Miles berdecak.
"Aku ingin menyusul dan membawanya pulang."
"Baiklah, aku akan minta pada pamanku untuk melacak kekasihmu itu."
Tristan tersenyum. "Aku punya nomor kontaknya, tetapi tidak aktif. Aku juga punya foto Zareena, tetapi tidak ada potret Colin. Aku minta secepatnya. Jika pamanmu meminta imbalan, aku akan bayar berapa pun. Oh, ya, lakukan ini secara diam-diam."
Lagi-lagi Miles berdecak. "Seribu dollar jika kau ingin cepat."
"Itu tidak masalah bagiku."
Bersambung
__ADS_1