
Jika Tristan tidak punya waktu untuk bersenang-senang, maka lain halnya dengan Zareena yang berjanji untuk berkencan bersama Chris.
Keduanya berjanji akan makan siang bersama. Lagi pula ini dalam bentuk pengenalan sebelum Zareena pergi liburan bersama Tristan.
Ya, Zareena terlupa jika ia harus menghubungi pria itu. Jika tidak menelepon, maka Tristan akan menggerutu sepanjang malam ketika mereka melakukan panggilan di waktu menjelang tidur.
"Kau sibuk?" tanya Zareena dari balik teleponnya.
"Aku baru saja ingin meneleponmu. Kau telat sekitar lima menit," sahut Tristan.
"Aku baru saja sampai di restoran."
"Kau makan siang bersama seseorang?" tanya Tristan.
"Sendirian, aku baru saja keluar dari tempat latihan. Kau jangan lupa makan. Aku tidak mau kau sakit saat kita liburan. Ah, cepat kerjakan semua pekerjaanmu itu," ucap Zareena tanpa memberi kesempatan Tristan bicara.
"Ya, baiklah."
"Aku tutup teleponnya," ucap Zareena, lalu memutus sambungan telepon itu.
Ia beranjak dari kursinya ketika melihat seorang pria yang berjalan ke meja yang ia tempati. Zareena mempersilakan pria itu untuk duduk.
"Kau sudah lama menunggu? Maaf, aku datang terlambat," ucap Chris.
"Aku juga baru datang. Kita pesan dulu makanannya."
__ADS_1
Chris memanggil pelayan, memberitahu menu yang mereka inginkan, dan wanita dengan memakai seragam mencatatnya setelah itu berlalu.
"Kau libur hari ini?" tanya Zareena.
"Sore ini tidak ada lagi jadwalku. Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu bersama?" usul Chris.
"Boleh juga. Kebetulan aku tidak sibuk."
"Kau ingin ke mana?"
Zareena tampak berpikir. "Kita bisa ke jembatan London atau taman sambil mengendarai sepeda."
Chris mengangguk. "Oke, kita ke sana nanti."
Obrolan itu terhenti ketika pelayan datang membawa makanan yang dipesan keduanya. Chris dan Zareena menyantap dulu makan siang mereka seraya sesekali bicara ringan untuk saling dekat satu sama lain.
"Aku senang kemari untuk sekadar melepas penat," ucap Chris.
"Kau merasa jenuh dengan pekerjaanmu?" tanya Zareena.
"Kadang kalanya seperti itu. Ketika aku bersenang-senang bersama temanku, tiba-tiba telepon memanggil menyuruhku datang ke rumah sakit," tutur Chris.
"Kurasa kau tidak pernah mabuk."
Chris tertawa. "Aku bisa minum alkohol, tetapi aku tidak boleh sampai mabuk, kecuali aku cuti."
__ADS_1
"Ya, kau bisa saja mendapat pasien mendadak."
Zareena melangkah menuju pohon rindang kemudian duduk di bawah sana. Chris menyusul, bersandar di bawah pohon berdampingan bersama wanita yang akan dijodohkan padanya.
"Minggu ini aku akan pergi liburan," kata Zareena.
"Kau ingin liburan?"
"Ya, bersama temanku ke Yunani. Sudah lama aku dan dia merencanakannya."
"Untuk beberapa saat kau tidak bertemu denganku kalau begitu," ucap Chris.
"Setelah aku pulang, kita bisa bertemu."
"Kau menerima perjodohan ini?" tanya Chris.
"Aku belum memikirkannya. Lebih baik saling mengenal lebih dulu," ucap Zareena, lalu memandang Chris. "Bagaimana denganmu?"
"Aku juga ingin mengenalmu. Tapi, aku tertarik padamu. Sungguh, aku suka padamu," ucap Chris.
"Jika dibilang suka, aku juga suka padamu. Kau asik diajak bicara."
"Suka dan menyukai itu dalam pandangan asmara berbeda, kan?" ucap Chris.
Zareena tertawa. "Mungkin. Oh, bagaimana kalau kita naik sepeda keliling taman ini?"
__ADS_1
"Ayo!" sahut Chris setuju.
Bersambung