My Hot Baby

My Hot Baby
Dunia Baru


__ADS_3

"Sayang, malam ini kita akan buat pesta perayaan." Tristan mengatakan seraya tersenyum manis.


"Tumben sekali kau ingat. Bukannya kau ingin mengajakku bulan madu?"


"Kau tidak sedang datang bulan, kan? Kau marah-marah terus dari tadi."


"Entahlah." Zareena mengangkat bahunya. "Aku harus ke toko roti dan memberitahu Nyonya Sarah."


"Kau benar, Sayang. Kita undang juga mereka untuk pesta malam ini. Jangan lupakan Bibi Marta dan Brian. Kau tenang saja. Pesta pernikahan akan kita laksanakan setelah ini. Sesuai yang kau inginkan tentunya."


Hampir saja Zareena terlupa pada Brian. Bagaimana reaksi pria itu nanti bila mengetahui ia telah menikah bersama Tristan? Ia harus memberitahu Brian secepatnya, juga Colin. Sahabat baiknya.


"Aku perlu ponselku." Zareena lekas berjalan keluar. Disusul oleh Tristan dan Miles.


Zareena meraih tas ransel miliknya. Mengambil ponsel dan benar saja jika Brian sudah beberapa kali menghubunginya.


"Anak ini pasti khawatir padaku." Zareena menelepon balik Brian. Tidak membutuhkan waktu lama sampai suara pria itu terdengar dari seberang telepon sana. "Brian, kita perlu bertemu nanti malam."


"Kau ke mana saja? Aku dari tadi menghubungi." Dari nada suaranya, Brian tampak khawatir.


"Kita bertemu nanti malam. Lokasi akan kukirim nanti. Ada hal yang harus kuberitahu. Jadi, kuharap kau datang."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan datang."


Zareena memutus telepon itu. Ia memandang Tristan yang tengah berkacang pinggang saat ini. Ah, Zareena tidak peduli bila suaminya itu cemburu.


"Kita ingin buat pesta di mana?" tanya Zareena.


"Restoran saja. Makan malam setelah itu minum sampanye. Ini juga mendadak." Malah Miles menyahut. "Betul, kan, Tris?" Miles menyikut lengan sahabatnya itu. "Ayolah, kau jangan cemburu begitu. Zareena sudah milikmu."


"Tetap saja dia perhatian pada pria itu." Tristan berjalan mendekati Zareena. Ia membuka pintu mobil. "Masuklah, kita ke toko roti setelah itu pilih restoran untuk nanti malam. Kau juga harus berhenti bekerja. Kita akan pulang ke London."


Zareena masuk mobil. Tristan juga menyuruh Miles untuk ikut bersama mereka. Tapi, pria itu dijadikan sopir oleh Tristan. Nasib Miles yang malang. Hanya untuk sehari, setidaknya ini adalah hari bahagia sepasang pengantin baru.


"Untung saja Nyonya Sarah tidak marah. Aku baru bekerja dan sekarang sudah mengundurkan diri."


"Aku bisa membuatkanmu toko roti seperti itu. Kau jangan merasa bersalah." Tristan menyahut.


"Tetap saja aku merasa mempermainkan dirinya."


"Cepat atau lambat kau memang harus keluar dari sana." Tristan memegang tangan istrinya, lalu mengecup ujung jari halus itu.


"Sekarang kalian ingin ke mana?" sebelum Miles melihat adegan yang akan membuatnya panas dingin, lebih baik menanyakan ke mana tujuan mereka selanjutnya.

__ADS_1


"Hotel!" Tristan menjawab cepat.


Zareena menoleh pada suaminya. Sementara Tristan menyunggingkan senyum kemenangan. Sekarang menolak pun tidak akan berguna karena mereka berdua sudah berstatus suami istri.


"Bukankah kita harus membuat anak?" Tristan mengatakannya seraya tersenyum.


"Bukankah kau sebagai suami harus menyenangkanku?"


"Apa?"


Zareena tersenyum. "Kau menikahiku dengan sebuah cincin ini saja. Apa kau pikir hargaku semurah ini? Lalu, kau ingin meniduriku sepuasmu."


"Sayang, kenapa kau jadi perhitungan?"


"Aku ingin belanja banyak hari ini. Setidaknya sebagai hadiah pernikahan." Zareena menegadahkan tangannya.


Tristan menyerahkan dompetnya. "Semua untukmu."


Miles tertawa. "Selamat datang di dunia pernikahan, Kawan."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2