My Hot Baby

My Hot Baby
Terima


__ADS_3

Pesawat mendarat menjelang sore. Zareena menghirup aroma tanah kelahirannya, London. Ia berhasil pulang, tetapi kepulangan ini membuat dirinya dalam suatu dilema.


Mary akan menagih janji persetujuan Zareena akan perjodohan yang telah direncanakan. Menerima atau menolak? Chris bukanlah pria buruk. Dia sempurna dengan fisik tampan dan pekerjaan mapan. Hanya saja, saat bersamanya, Zareena merasa berada pada kehidupan ketika ia masih berada di kampus.


Terlalu membosankan untuk bersama pria yang seperti itu. Zareena sedikit berhati-hati jika bicara bersama Chris. Hari-harinya mungkin akan dihabiskan dengan membaca buku atau jalan ke taman bersama.


Bersama Tristan, Zareena merasa kebebasan. Ia bisa menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Berani bertindak di luar batas selama ini.


"Kau memikirkan apa?"


Zareena tersentak. "Tidak ada. Apa taksinya sudah datang?"


"Kau tidak lihat di depanmu?" Tristan menggeleng karena Zareena melamun, padahal taksi sudah berhenti di depan mereka dan koper sudah dimasukkan dalam bagasi.


Zareena menyengir. "Maaf, aku tidak lihat. Mungkin karena aku sedikit lelah."


"Sudahlah, ayo, masuk." Tristan membuka pintu, lalu mempersilakan Zareena untuk masuk lebih dulu.


"Kau tidak apa-apa kita satu mobil?" tanya Zareena ketika Tristan telah duduk di sampingnya.


"Aku tidak akan turun dari mobil ketika kau telah tiba. Oh, ya, besok aku ingin kita makan siang bersama."

__ADS_1


"Aku tidak mau menjanjikan apa pun. Kurasa besok aku akan sibuk."


"Benarkah? Bagaimana kalau makan malam?" usul Tristan.


Zareena mengedikan bahu. "Aku akan menghubungimu nanti."


"Jangan sampai lupa."


Zareena tidak menjawab perkataan Tristan. Mobil melaju menuju kediaman Calmington. Zareena berusaha untuk memejamkan mata selagi sopir masih mengendarai kendaraan roda empat itu.


Tristan menyediakan bahunya untuk Zareena bersandar. Wanitanya terlalu lelah dan itu karena dirinya. Menghabiskan waktu berdua benar-benar mereka lakukan. Namun, Tristan tersenyum ketika mengingat tanda yang ia tinggalkan di tubuh Zareena. Jejak itu akan menghilang setelah tiga atau empat hari lagi.


Empat puluh menit, taksi sampai di kediaman Calmington. Sopir keluar membuka bagasi, lalu menunggu salah satu dari dua penumpangnya keluar. Sebenarnya memberi waktu bagi Tristan untuk melepas wanitanya.


"Kau ini tidak pernah puas." Zareena mendorong kepala Tristan agar menjauh. "Berhenti mengecup bibirku. Sopir di luar sedang menunggu."


"Aku akan memberinya tip lebih."


Zareena meraih wajah Tristan, lalu menghujaninya dengan kecupan. "Sudah, aku harus masuk. Sampai jumpa nanti."


Tristan tidak bisa menahan Zareena untuk lebih lama bersamanya. Ketika koper telah diberikan oleh sopir, Zareena melambaikan tangan, maka berakhir sudah kebersamaan mereka.

__ADS_1


Sopir kembali melajukan mobil menuju kediaman Tristan. Sementara Zareena masuk ke rumah dengan disambut oleh Mary serta Henry.


"Bagaimana liburanmu?" tanya Mary. "Kau bersenang-senang, kan?"


"Tentu saja. Yunani sangat menyenangkan."


"Biarkan anakmu beristirahat, Mary," celetuk Henri.


"Baiklah." Mary langsung membawa putrinya menuju lantai atas. Sementara pelayan mengikuti dari belakang sembari membawa koper milik anak majikannya.


"Sayang, kau sudah memikirkan perjodohan ini?"


Zareena menoleh pada ibunya. Baru saja tiba, ia sudah dicerca dengan pertanyaan tentang perjodohan. "Jika Chris menerima perjodohan ini, maka aku akan menerimanya juga."


"Sayang, kau serius, kan?" Mary memastikannya sekali lagi.


Zareena menggangguk. "Ya, itu jika Chris menerima perjodohan ini."


"Mama sayang padamu. Kau memang putrimu Mama yang paling cantik." Mary mendaratkan kecupan di kening putrinya. "Mama akan segera memberitahu ini pada keluarga Chris. Kita akan segera mengadakan pertemuan keluarga."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2