
Untungnya Tuan Smith mau menyewakan lantai atas untuk Zareena. Kediaman pria paruh baya itu unik karena bagian atas punya pintu tersendiri. Zareena bisa langsung naik turun melewati tangga yang berada di samping bangunan rumah menuju kamar. Lantai itu juga memiliki dapur kecil, mesin penghangat ruangan serta pendingin.
"Kamar yang lumayan. Kurasa aku akan betah di sini," celetuk Zareena.
"Aku baru menyuruh orang untuk membersihkannya. Kau bisa langsung tinggal di sini." Suara bass Smith terdengar menyahut.
"Oh, Tuan Smith, aku ingin menyewa lantai ini selama tiga bulan. Tapi, bisakah kau kurangi harganya?" Zareena menampilkan senyum termanis agar Smith luluh.
Smith tertawa. "Sudah se-tua ini, aku masih saja luluh pada gadis cantik. Baiklah, kau bisa mendapatkan lantai ini."
Zareena tersenyum senang. Ia berjalan menghampiri Smith, memeluknya, lalu mendaratkan kecupan di pipi. "Terima kasih banyak."
Sementara Brian yang berada di dekat mereka cuma bisa memajukan bibir. Seharusnya Zareena mengecup pipinya juga karena ia yang memberitahu rumah sewa ini.
"Tidak masalah. Kau seperti anakku saja. Dia wanita yang ceria. Ketika aku sampai Boston nanti, aku akan menceritakan tentang dirimu."
"Kau bisa saja." Zareena salah tingkah.
"Jika kau perlu sesuatu, minta pada pelayan di bawah. Pelayanku Emma akan membantumu."
Zareena mengangguk. "Baik, aku meminta bantuannya bila ada sesuatu yang diperlukan."
__ADS_1
Pembayaran sewa dilakukan, Zareena membayar tiga bulan penuh sesuai yang mereka sepakati. Sementara dua hari lagi, Smith akan berkunjung ke Boston dalam waktu yang belum ditentukan untuk kembali.
"Aku akan pulang setelah membantumu pindah," ucap Colin.
"Aku hanya memindahkan koper saja kemari." Zareena menyahut seraya memeriksa ruangan secara detil setelah kepergian dari si pemilik rumah. Tuan Smith tidak membual, kamar yang ia tempati telah dibersihkan.
"Setiap hari, aku akan mengunjungimu, Zareen." Giliran Brian bersuara.
Colin langsung menatap sepupunya. "Untuk apa?"
"Kau ini, aku sedang berusaha mendekatinya."
"Kalau kau ingin tidur bersama Zareena, maka urungkan niatmu itu."
"Kau pikir, Zareena seperti itu? Zareena tidak akan melakukan itu bersama pria yang tidak dicintainya." Terang-terangan Colin mengatakannya.
"Zareena diam saja, kenapa kau malah seperti ibunya? Kau begitu cerewet, Colin."
"Aku ...."
"Kenapa kalian malah bertengkar?" Zareena memotong ucapan Colin. "Aku akan tidur bersama pria yang kuinginkan, Brian. Bisa saja kau memiliki kesempatan."
__ADS_1
Wajah Brian berbinar mendengarnya. "Aku bukan hanya ingin menidurimu, tetapi aku sungguh ingin menjadi kekasihmu. Bagaimana kalau kita menikah saja?"
"Jangan dengarkan omongannya, Zaree. Dia selalu asal bicara." Colin menyela.
"Aku tahu dia bercanda."
"Aku serius!" Brian mengucapkannya dengan nada tegas.
Colin mengibaskan tangannya. "Hentikan pembahasan ini. Selama aku tidak di sini, kau harus menjaga Zareena."
"Tidak perlu kau katakan. Aku akan menjaga Zareena dengan segenap kemampuan."
"Dia bicara omong kosong lagi."
Zareena memeluk sahabatnya Colin. "Kau jangan khawatir, aku akan baik-baik saja." Lalu, ia beralih merangkul Brian. Tapi, pria itu malah menunjuk pipinya. Zareena mengecup kecil pipi Brian. "Terima kasih banyak sudah membantuku."
"Di sebelah sini belum, Zaree." Brian menunjuk bibirnya.
Zareena tersenyum sinis. "Kau tahu ini apa?" sembari menunjukkan kepalan tangan. "Kau tidak akan bisa mengunyah daging bakar lagi. Aku pastikan kau hanya makan bubur."
Brian menelan ludah. "Aku hanya bercanda."
__ADS_1
Bersambung