
Seminggu ini keduanya tidak bertemu lantaran Tristan didera kesibukkan. Pria itu sengaja mengambil banyak pekerjaan, dan harus diselesaikan sebelum jadwal liburan tiba.
Selama dua minggu, Tristan dan Zareena akan bersama dan hal itu sungguh membuat keduanya tidak sabar. Sebenarnya bisa saja mereka bertemu untuk saling melepas rindu, tetapi keduanya memang ingin menunda.
Bertemu setelah lama berpisah tentulah akan lebih istimewa. Tristan akan memeluk wanitanya dengan erat agar Zareena tidak bisa lari. Membayangkan itu, Tristan menjadi bersemangat untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.
Setiap hari Tristan dan Zareena juga tidak melewatkan untuk saling memberi kabar. Bangun pagi, makan siang, sampai waktu menjelang tidur. Seperti saat ini, keduanya melakukan panggilan video ketika sama-sama makan siang. Bedanya Tristan di kantor dan Zareena di tempat kursus memasaknya.
"Kau sungguh tidak pergi bersenang-senang?" tanya Zareena.
"Untuk apa? Aku akan bersenang-senang denganmu nantinya."
"Benar juga. Aku jadi tidak sabar. Ke mana kau akan membawaku?"
"Pulau Molis, Yunani."
Zareena membuka lebar bibirnya. "Kau serius kita akan ke sana?"
Tristan mengangguk. "Kita akan menikmati keindahan pulau di sana. Musim panas yang begitu indah dan itu akan dilewati oleh kita berdua."
__ADS_1
"Aku harus belanja."
"Kau butuh sesuatu? Aku bisa membantumu mendapatkannya," kata Tristan.
Zareena menggeleng. "Aku bisa sendiri. Aku perlu menyiapkan beberapa pakaian."
"Kau sudah izin pada orang tuamu?"
Inilah yang paling penting. Tristan tidak memberitahu kalau ia akan liburan bersama Zareena kepada Valdo, dan berharap Zareena juga merahasiakannya.
"Aku bilang memang ingin liburan dan mereka mengizinkan."
"Tentu saja tidak," jawab Zareena. "Kau ingin Valdo dan ibuku marah? Sebaiknya kau beritahu kakakku kalau kau sudah berubah."
"Astaga! Memangnya aku melakukan apa? Aku tidak mabuk dan berjudi. Ya, memang aku menjalin hubungan bersama beberapa wanita. Hanya teman tidur dan tidak serius," ungkap Tristan.
"Lalu aku?"
"Jelas kau berbeda. Kau bukan wanita seperti mereka."
__ADS_1
Sungguh Zareena ingin jika Tristan menyatakan perasaannya. Kalau memang pria itu benar mencintai atau menyukai dirinya sebagai pasangan. Namun, sepertinya itu tidak akan terjadi. Tristan tetaplah pria yang tidak ingin menjalin hubungan serius. Begitu juga Zareena yang menginginkan Tristan untuk menidurinya saja.
"Sudah waktunya. Aku harus mengikuti kelas terakhir. Kita ketemu lagi sampai waktu liburan itu tiba," ucap Zareena.
"Kau sungguh tidak ingin bertemu denganku?" tanya Tristan.
"Aku akan memelukmu ketika kita bertemu nanti."
Layar telepon langsung berganti profil dari Zareena. Hanya embusan napas yang keluar dari bibir Tristan karena ia belum puas bicara, tetapi wanita itu telah memutus sambungan video-nya secara sepihak.
"Aku akan bersabar, Sayang. Tunggu saja ketika kau telah berada di genggamanku," gumam Tristan, lalu kembali melahap makanannya.
Zareena menerima pesan dari Valdo yang mengatakan jika pria yang ingin dikenalkan padanya akan datang bertamu untuk makan malam. Ia disuruh pulang lebih awal untuk menyiapkan segalanya.
"Aku heran, kenapa Valdo begitu antusias menjodohkanku dengan pria ini?" gumam Zareena sedikit kesal. "Pasti dia ingin balas dendam karena aku mendesaknya untuk menerima Belva."
Zareena setuju untuk berkenalan lebih dulu pada pria yang akan menjadi calon suaminya. Jika merasa tidak cocok, maka ia boleh menolak. Begitulah hal yang disampaikan kedua orang tuanya tadi malam.
Bersambung
__ADS_1