
"Pilihan yang terpaksa." Tristan menebak dengan tepat. "Kau yakin itu pilihanmu?"
"Sebelum kita liburan, aku telah memikirkannya."
Zareena mencoba mengukuhkan hati. Jika perjodohan itu memang atas kehendaknya, dan bukan paksaan dari siapa pun. Ia memang berniat membangun keluarga dalam hubungan pernikahan.
"Untuk apa kau marah?" tanya Zareena.
"Aku pernah mengatakannya padamu. Jika kau menginginkan seorang anak, keluarga, aku bisa mewujudkannya. Kita bisa hidup bisa bersama."
"Tapi aku menginginkan pernikahan. Aku menginginkan seorang pria mencintaiku!"
"Oh, kau pikir calon suami itu akan mencintaimu? Kalian baru saling mengenal." Tristan menggeleng. "Kau jangan membicarakan cinta, Zaree. Kau tidak tahu apa artinya itu."
"Lalu, kau tahu apa artinya cinta?" Zareena mengangguk-angguk, mengingat kalau Tristan adalah sosok pria setia. "Ya, kau tentu tahu. Kau masih menjaga cintamu untuknya."
Mata Tristan membulat. "Jangan kau mencampuradukkan masalah kita dengan Lily!"
"Dan kau jangan mencoba mencampuri urusanku!" tunjuk Zareena. "Kita tidak punya hubungan apa pun, dan aku berhak menentukan nasibku sendiri."
Zareena hendak melangkah pergi, tetapi Tristan, meraih tangannya, lalu dalam sekejap bibirnya sudah berada dalam pagutan bibir pria itu.
Tristan mendesak Zareena agar membalas permainan bibirnya. Tangannya menelusup masuk pada tengkuk belakang gadis itu, dan sebelah tangannya lagi memeluk erat.
__ADS_1
Seolah tidak peduli pada penjaga rumah yang memalingkan wajahnya, Tristan tidak ingin melepas kecupan hangat itu.
"Lepas, Tris!" Zareena mencoba menarik diri. Sialnya ia dipeluk oleh pria itu hingga susah untuk membebaskan diri.
Tristan menggigit bibir bagian bawah Zareena, menelusup masuk ketika bibir itu terbuka. Hangat, nikmat, sama seperti yang biasa mereka lakukan.
Lelah melawan, Zareena membiarkan Tristan melakukan apa yang pria itu inginkan. Diberi peluang seperti itu, permainan bibir Tristan begitu lembut. Perlahan, Tristan menarik diri, memandang Zareena sesaat, lalu kembali menyatukan bibir mereka.
"Cukup, Tristan," ucap Zareena, yang memalingkan wajahnya.
"Kau sudah berjanji untuk selalu ada bersamaku."
"Aku tidak pernah menjanjikan itu." Zareena mendorong tubuh Tristan agar menjauh darinya. "Chris adalah calon suamiku dan aku telah menyerahkan semua yang ada pada diriku kepadanya."
Zareena mengangguk. "Ya, aku tidur bersamanya."
"Kau serius?" Tristan mengumpat. "Kau pasti bohong."
"Aku tidur bersama Chris dan kau tidak berhak untuk marah!" ucap Zareena tegas.
"Kau bohong!"
"Aku tidur bersama Chris," dusta Zareena, lalu melangkah pergi.
__ADS_1
"Zareena!" Tristan menyusul lagi, bahkan memberi perintah agar penjaga tidak membuka pintu gerbang.
"Apa lagi, Tristan!"
"Aku tidak terima ini!"
"Aku tidak peduli. Buka gerbangnya, biarkan aku pergi." Zareena berkata tegas.
Tristan tersenyum sinis. "Kau akan tetap di sini. Aku ingin lihat apa yang akan dilakukan calon suami itu."
"Kau jangan keterlaluan." Zareena mulai marah. "Apa, sih, maumu?"
"Batalkan pertunangan itu."
"Oh, lalu kau ingin menikahiku?"
Tristan terdiam. Dari dalam lubuk hatinya, ia ingin pertunangan ini batal, dan mengembalikan keadaan seperti semula. Ia ingin Zareena berada di sisinya.
"Maafkan aku, Tristan. Tapi aku mengingikan pria yang mencintaiku." Zareena menantangnya. "Mencintaiku. Kau paham, kan!" Lalu, berjalan menuju pos penjaga. Zareena menekan tombol otomatis agar pagar membuka.
"Zareena!" panggil Tristan lirih.
"Terima kasih untuk hari-hari menyenangkan yang kau berikan," ucap Zareena, lalu keluar. Namun, ia berhenti melangkah sesaat. "Aku tunggu kedatanganmu. Aku ingin kau memberi ucapan selamat di hari istimewaku nanti."
__ADS_1
Bersambung