
Zareena lekas berlari menuju bagian depan kapal. Merentangkan tangan seraya membiarkan angin laut menyentuh kulit halusnya.
Semilir angin mampu membuatnya lupa akan pernikahan yang sebentar lagi ia lakukan. Mumpung masih belum terikat pada pria mana pun, Zareena ingin melakukan hal yang membuatnya bahagia.
Kapan lagi bisa sebebas ini. Punya teman kencan yang tampan juga kaya. Tidak lupa jika pria itu begitu panas di atas ranjang.
Zareena tersentak saat merasakan tangan yang melingkar di pinggangnya. Ia memutar diri, mengalungkan kedua lengan tangan di leher Tristan.
"Kau suka berada di sini?" tanya Tristan.
"Sangat suka," jawab Zareena, seperti berbisik.
"Aku tidak salah dengan menyewa kapal ini," ucap Tristan. "Kau ingin melihat tempat tidurnya? Kita bisa merebahkan diri lebih dulu sebelum makan malam dimulai."
Zareena tersenyum. "Kau tidak lelah?"
"Sama sekali tidak. Aku bahkan sangat bersemangat."
"Tapi aku ingin melihat matahari terbenam."
Tristan tersenyum. "Sudah kuduga."
"Kau kecewa?" tanya Zareena.
Tristan menggeleng. "Tentu saja tidak. Apa kau juga ingin melihat bintang malam?"
__ADS_1
"Sayang, itu impianku."
"Kalau begitu, kita akan piknik."
"Piknik?" Zareena mengerutkan kening.
Dapat Tristan lihat wajah keheranan wanitanya. "Kita akan bersantai di sini."
"Makan malam di sini saja."
Tristan mengecup hidung mancung itu. "Aku akan suruh pelayan kapal menyediakannya."
Yacht mewah itu berjalan lambat menyusuri keindahan pulau Milos dan berhenti tepat di tengah lautan tidak jauh dari bibir pantai. Tristan meminta pelayan untuk menyediakan tempat khusus bersantai di lantai teratas kapal.
Zareena langsung mengenyakkan diri di atas bantal, disusul Tristan di sebelahnya. Langit biru menjadi kelam. Matahari sore yang cerah berubah warna jingga. Sebentar lagi raja cahaya akan turun, dan potongan dari panorama alam ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.
"Kau tahu, entah kenapa selama menatap matahari terbenam, aku merasa dalam dunia fantasy," ucap Zareena. "Aku ingin selalu menatapnya dan tidak ingin kembali dalam dunia nyata."
"Sayang, apa kau tengah kesusahan?" tanya Tristan.
"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Zareena.
"Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Ada yang salah? Hidup dalam dunia dongeng itu, kan, sangat indah."
__ADS_1
Tristan menggeleng. "Tidak, Sayang. Kadang impian itu sendiri telah menghancurkanmu."
"Kau tidak percaya akan mimpi?" Zareena menyambut gelas berisi sampanye yang diberikan oleh Tristan. Meneguknya sedikit, dan merasakan alirannya sampai ke tenggorokan.
"Tadinya aku percaya jika mimpi itu benar-benar ada."
"Lalu?" Zareena semakin penasaran.
"Kurasa menjalani hidup seperti air mengalir sudah tepat. Aku tidak ingin bermimpi dalam menginginkan sesuatu. Aku mendapatkan semua berdasarkan otak berpikirku, dan sikapku," ucap Tristan.
"Benarkah? Kau juga tidak bermimpi mendekatiku?"
Tristan tertawa. "Aku mendekatimu karena aku menginginkannya. Aku lebih baik bertindak langsung daripada bermimpi dalam angan-angan tidak jelas yang malah akan membuatku tidak bisa mendapatkanmu."
"Kurasa itu bagian dari mimpi," kekeh Zareena.
"Bukan, Sayang. Mimpi itu adalah bila kau menginginkan diriku bersamamu sampai kita tua nanti."
"Kau tidak yakin kita bisa hidup menua bersama?"
"Aku tidak ingin berharap," ucap Tristan. "Aku hanya ingin menjalani kehidupan ini saja sebagaimana nasib membawa hubungan ini."
Zareena tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya pada raja cahaya yang telah turun menuju peraduannya. Sinar berwarna jingga mulai tenggelam, dan cakrawala menggelap, seperti hati Zareena saat ini.
Bersambung
__ADS_1