
Zareena menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tiba-tiba ia menyesal telah mengatakan persetujuannya menerima perjodohan ini. Seharusnya, ia mengatakan untuk lebih mengenal Chris lagi.
Bukannya Chris juga mengatakan untuk saling mengenal dulu? Bagaimana kalau pria itu menolaknya? Zareena sendiri yang akan malu. Tapi, jika Chris menolak, bukannya itu malah bagus? Zareena menarik rambutnya sendiri. Bingung akan pilihan hatinya. Di satu sisi menginginkan Tristan dan di sisi lain ingin bersama Chris demi membahagiakan kedua orang tuanya.
"Kita lihat saja ke depannya. Siapa pun yang ingin menikahiku, maka aku akan menerimanya," gumam Zareena, lalu meraih bantal dan mencoba memejamkan matanya.
Sebelum itu, ia sudah menghubungi Tristan. Mengucapkan selamat tidur pada pria yang telah mengenalnya luar dalam. Mengingat pria itu, Zareena menjadi bergairah. Bawahnya basah gara-gara membayangkan Tristan yang menyentuhnya.
Zareena menggeleng. Ini sungguh membuatnya gila. Jika Chris menerima perjodohan ini, maka Zareena berjanji tidak akan mendekati Tristan. Ia akan menjauh, dan bila perlu tidak mengenal pria itu selama-selamanya.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Mary untuk mengadakan pertemuan keluarga. Ketika Zareena turun untuk sarapan, Mary mengatakan kalau malam ini keluarga Chris akan datang.
"Aku kira Mama akan menundanya sampai beberapa hari lagi. Aku baru saja pulang dari liburan." Zareena tidak setuju dengan pertemuan keluarga yang mendadak ini.
"Tadinya begitu, tetapi orang tua Chris akan pergi ke Amerika. Sebelum itu, mereka ingin bertemu dengan kita demi membahas lebih lanjut perjodohan ini." Wajah Mary berseri-seri menjelaskannya.
"Seperti tidak tahu saja. Mamamu memang suka begitu, kan?" sela Henry.
Zareena kembali menyuap roti dari piringnya. Ibunya memang seperti itu. Contohnya saja Valdo, yang terus didesak untuk menikahi Belva, dan sekarang ini giliran dirinya.
"Kau jangan keluar hari ini. Bersiaplah untuk menyambut calon suamimu," ucap Mary.
__ADS_1
"Aku ada janji bersama Colin. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."
"Pulang setelah makan siang. Kau harus dandan yang cantik, Sayang."
"Apa putri Mama tidak cantik?"
"Tentu saja cantik. Tapi, ini malam istimewa bagimu. Kau harus mempersiapkan dirimu."
Zareena kehabisan kata-kata untuk membantah. Akhirnya, ia mengiakan saja perkataan Mary. Sehabis sarapan, Zareena langsung keluar rumah. Ia menemui Colin di apartemen wanita itu. Tentu saja sahabatnya itu telah menunggu Zareena demi sebuah fakta yang membuat Colin berteriak.
"Jadi, kau ingin aku bercerita yang mana dulu? Zareena memberi pilihan pada sahabatnya.
"Kisahmu bersama Tristan. Selama dua minggu kalian bersama."
Colin terdiam beberapa saat, lalu berteriak. "Kau melakukannya?"
"Kau ini, kecilkan suaramu."
Colin menyengir. "Aku sangat kaget. Kau menyerahkan dirimu pada pria itu."
Zareena tersenyum. "Sangat sayang jika aku tidak tidur dengannya. Tristan begitu menggiurkan."
__ADS_1
"Bagaimana permainannya?"
"Aku sangat ketagihan."
Colin tidak dapat menahan gelak tawanya. Sahabatnya sudah menjadi wanita dewasa yang liar. Zareena sudah tidak polos lagi.
"Wow! Kurasa dia sangat hebat di atas ranjang," seloroh Colin. "Lalu, kabar apalagi yang ingin kau beritahu padaku."
"Aku akan dijodohkan."
"Apa?" Colin kaget. "Apa aku salah dengar? Kau dijodohkan?"
Zareena mengangguk. "Iya, dia Chris. Seorang dokter bedah saraf."
"Kau jangan bercanda." Colin tidak akan mempercayai ini.
"Untuk apa aku bercanda?"
"Kau serius?" tanya Colin. "Kau baru tidur bersama Tristan. Kau tidak punya perasaan padanya?"
Zareena mengedikan bahu. "Entahlah. Yang pasti, aku sudah menerima Chris."
__ADS_1
Bersambung