
Tristan membuka pintu mobil dari sebelahnya. Ia masuk, membuka sabuk pinggang dan pakaiannya yang membelenggu tangan Zareena.
Pria itu memakai pakaiannya dulu. Kemudian merapikan penampilan dari wanitanya yang masih terlihat heran, tidak percaya, dan kaget juga.
"Kita akan menikah, Zaree. Sekarang juga, Sayang." Tristan mengecup pipi mulus itu.
"Kau pasti bercanda. Aku tidak ingin menikah denganmu."
"Kau tidak mau, tetapi aku mau. Apalagi hal yang membuatmu tidak bisa menerimaku? Aku mencintaimu, dan aku sudah merelakan Lily."
"Kau belum melamarku."
Tristan terperangah, lalu ia tersenyum. "Kau akan mendapatkannya setelah ini. Tapi sekarang kita harus menikah dulu."
Tristan keluar lebih dulu. Ia berlari kecil membuka pintu mobil, dan menyambut Zareena keluar.
"Ayo, Sayang."
Zareena menyambut uluran tangan itu. Tristan menggandengnya erat, lalu berjalan bersama masuk ke altar.
Sungguh tidak dapat dipercaya jika Tristan memang telah menyiapkan semuanya. Ada beberapa orang yang akan menjadi saksi pernikahan mereka. Rasanya Zareena membayangkan saat ini ia tengah memakai gaun pengantin. Zareena dan Tristan sudah berada di depan seorang pria yang akan menikahkan mereka.
"Kumohon untuk cepat lakukan segera pernikahannya. Kau bacakan saja secara singkat nasihat pernikahan," ucap Tristan.
__ADS_1
"Jangan disingkat. Aku ingin mendengarnya secara utuh." Zareena menyahut.
"Oke, ikuti apa kata istriku."
Selesai dengan serangkaian kalimat pembuka pernikahan, pria yang memakai baju khusus itu bertanya pada Tristan. "Apa kau, Tristan Douglas Thompson bersedia menikah dengan Zareena Calmington?"
"Ya, aku bersedia." Tristan menjawab.
"Apakah kau, Zareena Calmington bersedia menikah dengan Tristan Douglas Thompson?"
Zareena tidak menjawab, tetapi ia memandang Tristan dulu. Yang dipandang berdoa dalam hati agar pernikahan ini lancar.
"Kau bersedia?" pria yang bertugas menikahkan bertanya lagi.
"Nona?" Pria itu tidak menghiraukan Tristan.
"Aku bersedia menikah dengannya," jawab Zareena.
Tristan dapat merasakan urat saraf tegangnya mereda. Zareena menerimanya, dan mereka diberkati sekarang. Mereka sudah resmi menjadi pasangan suami dan istri.
"Dengan ini, kalian resmi menjadi suami dan istri."
Miles segera menyerahkan kotak cincin. Kemudian Tristan menyematkan cincin berlian itu di jari manis Zareena. "Ini sudah kupersiapkan sebelum datang mencarimu."
__ADS_1
Kemudian Tristan langsung saja mengecup bibir Zareena. 6 orang saksi yang terdiri dari pria dan wanita bertepuk tangan, dan Miles telah mengabadikan moment itu lewat kamera ponsel. Lalu, Zareena dan Tristan menandatangani buku catatan pernikahan, bahwa mereka telah terbukti melakukan pernikahan di gereja itu.
"Kau ingin bulan madu di mana?" tanya Tristan.
"Apa?" Zareena menaikkan sebelah alisnya. "Kau ingin mengajakku bulan madu?"
"Sehabis menikah kita bulan madu, kan?" Tristan memandang Miles. "Benarkan, Mil?"
Miles menggeleng. "Kau tidak akan mendapatkan malam pertamamu, Tris."
"Apa, kenapa?" Tristan beralih pandang pada Zareena. "Sayang, kau masih marah?"
Zareena mendengkus, ia melewati Tristan begitu saja menuju saksi yang Miles bawa. Zareena mengucapkan terima kasih pada mereka semua.
Tristan mendekati Miles. "Apa maksudmu tadi?"
"Habis menikah, tentu saja kau harus membuat pesta. Kau kira Zareena tidak ingin memakai gaun pengantin dan mengundang teman-temannya. Kau juga harus menemui orang tuanya, kan?"
"Aku tahu itu. Apa salah aku tanya tentang bulan madu?" lagi-lagi Tristan tidak mengerti.
"Setidaknya kau buat pesta dulu di sini. Sekarang cepat kau beritahu Zareena kalau kita akan berpesta. Kalau tidak, malam ini kau tidak bisa menikmati surga dunia." Miles menepuk pundak Tristan seakan memberi semangat.
"Kau benar, Miles. Malam ini kita buat pesta."
__ADS_1
Bersambung