
Chris menyeka ujung bibir sang kekasih yang telah ia cicipi manisnya. Zareena tersenyum, kepalanya menatap ke depan, dan wujud pria di sana terlihat. Begitu juga Chris yang mengerutkan kening karena ada yang memandang mereka.
"Dia siapa?" Chris menoleh pada Zareena.
"Oh, dia Tristan. Sahabat kakakku."
"Astaga! Kita bermesraan di depan dia."
Zareena menenangkan Chris dengan menangkup tangan calon suaminya. "Kau di sini saja, biar aku yang menyapa. Valdo juga tidak berada di sini."
"Biar kita bersama saja."
Zareena mengangguk, mendebat malah akan membuat curiga. Keduanya berjalan keluar dari gerbang, lalu menghampiri Tristan.
"Hai, Tris!" Zareena tersenyum. Melindungi wajahnya dari rasa canggung, bersalah, dan khawatir. Takut jika Tristan bicara macam-macam pada Chris saat ini. "Kau mencari Valdo?"
"Oh, jadi, dia calon suamimu?" Tristan beralih pandang pada Chris, lalu mengulurkan tangan. "Aku Tristan."
Chris dengan senyum ramah menyambut uluran perkenalan itu. "Chris Hemswort, calon suami Zareena."
Tristan mengangguk. "Kau cocok bersamanya." Lalu, beralih menatap Zareena.
__ADS_1
Namun, tatapan itu penuh amarah, penyesalan yang Zareena tahu bahwa Tristan saat ini tengah terluka. Alasannya, Zareena tidak tahu, dan tidak ingin menebak.
"Baiklah, kalau Valdo tidak di sini, aku pergi dulu," pamit Tristan.
"Hati-hati di jalan, Bung." Chris mengucapkannya seolah ia telah akrab pada Tristan.
Anggukkan dan senyuman yang Tristan berikan sebagai balasan pada Chris. Ia masuk mobil, menghidupkan mesin, tetapi sebelum jalan, Chris langsung membawa Zareena masuk menuju kendaraan yang masih terparkir di halaman rumah.
Tristan memandang tangan yang merangkul pinggang ramping itu. Lalu mengingat, saat Zareena mengatakan kalau dirinya telah tidur bersama dokter itu.
Semakin dongkol hati Tristan, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak ada alasan untuk mencegah Chris bersama Zareena.
"Sialan!" umpat Tristan, lalu lekas mengendarai mobilnya.
Zareena tersentak mendengar pertanyaan tiba-tiba yang dicetuskan Chris. "Kenapa kau bertanya demikian?"
"Dari raut wajahnya, sepertinya Tristan itu marah." Sembari memandang lekat
Zareena tertawa. "Dari mana kau tahu?"
Chris meraih tangan kekasihnya. "Aku ini dokter. Sedikit banyak aku tahu membaca raut wajah seseorang."
__ADS_1
"Aku tidak percaya."
"Baiklah, dulu aku pernah belajar tentang itu." Chris berusaha menjelaskan.
"Lupakan itu, perutku sudah lapar, kapan kita akan pergi makan?" Zareena membuka pintu mobil, lalu masuk.
Chris menghela. "Dia tidak percaya padaku. Terserahlah."
Mobil keluar dari halaman rumah ketika Chris sudah mengendarainya. Melaju menuju restoran yang menjadi tempat mereka untuk bersama.
Sesampainya di restoran, Chris langsung memesan makanan untuk mereka. Sedikitnya pria itu tahu apa yang menjadi santapan kesukaan Zareena. Wanita yang telah masuk dalam kehidupannya ini, menyukai pasta serta makanan manis.
"Kau tahu, departemen kami mendapat keluhan. Keluarga pasien mengatakan jika aku tidak benar menjahit luka di kepala yang diakibatkan karena kecelakaan," tutur Chris.
Mulai lagi. Sebenarnya Zareena malas untuk mendengar cerita mengenai pekerjaan Chris. Ia merasa tidak akan pernah menyambung di seputar kesehatan.
"Bagaimana kau mengatasinya?" Zareena bertanya disela kunyahannya.
"Pertama kali anaknya bukan dibawa ke rumah sakit kami. Setelah parah baru dipindah, dan kau tahu, aku membungkam mereka dengan rekam medis."
"Kau hebat, Chris."
__ADS_1
Zareena memujinya, dan satu fakta yang ia ketahui, Chris memang haus akan pujian. Zareena ingin makan siang ini cepat berlalu atau berharap Chris mendapat telepon mendadak dari rumah sakit.
Bersambung