
Zareena cuma bisa menggeleng ketika melihat Colin berlari untuk bisa memeluk sepupunya, Brian. Seorang pemuda yang seumuran dengan mereka telah datang menjemput.
"Aku merindukanmu, Brian." Colin memeluk sepupunya itu dengan begitu erat.
"Kau sendiri begitu lama tidak mampir kemari."
"Sekarang aku sudah datang." Colin menarik diri, lalu memperkenalkan sahabatnya. "Dia temanku, Zareena."
Brian mengulurkan tangan. "Hai, aku Brian."
Zareena menyambut uluran tangan itu. "Zareena, sahabat Colin."
"Nama yang bagus. Sesuai dengan orangnya."
Colin menyikut perut Brian. "Jangan coba-coba untuk mendekatinya. Zareena sudah ada yang memiliki."
Brian tampak menyesal. "Sayang sekali. Padahal aku jatuh cinta padanya."
__ADS_1
Zareena cuma tersenyum. "Apa kita akan terus berada di halte ini? Kapan kau akan membawa kami ke rumah? Sejujurnya perutku ini sudah lapar."
"Tenang saja, malam ini kita akan buat acara barbeque. Aku telah mengundang teman-temanku untuk datang. Malam ini kita pesta." Brian membuka pintu mobil. "Ayo, masuklah."
"Mobil yang unik, Brian," ucap Zareena.
Brian tertawa. "Kendaraan tua ini kesayangan ayahku. Mobil ini akan keluar dari garasi bila kami ingin ke kota."
"Termasuk menjemput tamu dari London." Colin ikut menyela.
Ketiganya masuk dengan Zareena duduk di kursi belakang, dan Brian lekas mengendarai mobil antiknya. Sepanjang perjalanan begitu memanjakan mata. Bangunan di sana tampak seragam karena semua di cat dengan warna putih. Jendela rumah mereka juga terbuka, dan penghuninya tampak bersantai menikmati angin yang berembus.
Rumah putih yang cukup nyaman. Ketiganya turun dari mobil. Kediaman yang khas di Cumbria. Halaman luas yang berpagar kayu yang ditumbuhi tumbuhan merambat. Lalu, di sekeliling beranda rumah, ditanami dengan bunga aneka warna.
"Rumahmu indah, Brian." Lagi-lagi Zareena memuji.
"Kau akan melihat ini di setiap rumah. Ibuku memang suka tanaman. Ayo, masuk, ibuku sudah menunggu kalian."
__ADS_1
Benar saja yang dikatakan Brian. Seorang wanita paruh baya menyambut mereka. Colin memeluk bibinya yang bernama, Marta. Tercetak jelas betapa cantiknya wanita itu. Rambut berpotongan bob dengan warna pirang. Tubuhnya ramping di usia yang tidak lagi muda. Tidak salah jika Brian juga tampan. Pria itu juga murah senyum yang membuatnya tidak bosan dipandang.
"Kalian pasti lelah. Ini sudah sore, sebaiknya kalian bersihkan diri dulu," ucap Marta.
"Aku menyiapkan kamar kalian di atas. Maaf, kalau kamarnya hanya seadanya karena kalian malah mendadak kemari," Brian menyahut.
"Ya, Colin yang mengajak secara tiba-tiba." Zareena menimpali.
"Itu tidak masalah, yang penting kami bisa tidur saja itu sudah cukup. Tapi, sebelum itu, lebih baik kami makan dulu." Tanpa malu Colin mengatakannya. Perutnya sudah sangat keroncongan. Ia perlu mengisinya dengan makanan lezat buatan Marta.
"Aku sudah siapkan makanan. Terserah kalian mau makan dulu atau mandi. Ayo, aku bawa ke ruang makan." Marta mempersilakan keduanya menuju ruang dapur.
"Terima kasih, Marta. Kau begitu baik," ucap Zareena seraya tersenyum manis.
Marta tersenyum. "Ini tidak masalah. Kita makan bersama."
Sementara itu Tristan memantapkan diri berkunjung ke kediaman Valdo. Ia menyesal telah membuat kekacauan di pesta pertunangan Zareena. Orang pertama yang ingin temui adalah sahabatnya itu.
__ADS_1
Bersambung