
Jantung Zareena berdegup kencang tatkala mobil telah berhenti di sebuah pemakaman Role Dream. Valdo keluar lebih dulu, lalu Zareena menyusulnya.
"Kak, memangnya siapa yang tiada?" Zareena sengaja menyebut Valdo dengan sebutan 'kakak' agar pria itu mau jujur padanya.
"Kekasih Tristan. Setiap tanggal 28 July, tiap tahunnya, maka Tristan akan datang kemari. Sudah tiga tahun, ia kehilangan wanita yang dicintai. Sampai sekarang Tristan masih belum melupakannya," ungkap Valdo.
"Tristan punya kekasih?" Zareena tergagap menanyakan hal itu.
Valdo mengangguk. "Kau kira dia tidak normal?"
"Bukan begitu maksudku. Kukira dia pemain wanita."
"Lily adalah wanita yang ia cintai. Mereka berpacaran sejak masa di universitas dulu. Lalu, Tristan berniat melamarnya karena sudah mapan dengan kehidupannya. Namun sayang, Lily pergi meninggalkannya. Lily menderita kanker dan tidak memberitahu Tristan." Valdo menghela napas panjang ketika mengingat itu. "Tiga bulan pertama sungguh sangat menyiksa Tristan. Dia menyaksikan kekasihnya menderita. Itu sebabnya ia tidak ingin menikah. Tristan bilang, kalau dia mencintai wanita, maka mereka akan pergi. Dulu ibunya, lalu kekasihnya. Nasib sahabatku itu begitu malang."
Kini Zareena tahu alasan terkuat dari keputusan Tristan yang tidak ingin menikah. Masa lalu masih hadir di dalam benaknya. Keputusan Zareena memang tepat memilih Chris, daripada menunggu Tristan. Mencintai pria yang masih terbelenggu pada masa lalu, akan sangat menyiksa.
Zareena tidak tahu harus apa ketika melihat punggung lebar itu menghadap nisan sambil menangis. Tristan tentulah sangat mencintai Lily, dan Zareena ikut larut dalam kesedihan itu.
"Tristan," tegur Valdo, yang telah berdiri di samping pria itu
Tristan menoleh. "Terima kasih sudah datang."
Valdo meletakkan bunga lily di samping bunga mawar merah yang Zareena yakini sebagai bunga dari Tristan.
__ADS_1
"Lily sudah tenang di sana," ucap Valdo.
"Aku ikut berduka cita, Tristan."
Tristan kaget mendengar suara yang ia kenali. Tristan menoleh ke belakang. "Zareena, kau di sini?"
Zareena tersenyum. "Maaf, aku tadi memaksa Valdo untuk membawaku."
Tristan menoleh pada Valdo, lalu kembali memandang Zareena. "Ya, terima kasih."
Dering telepon membuyarkan suasana canggung itu. Valdo meminta izin menjauh untuk mengangkat teleponnya.
"Aku tidak tahu kau punya rahasia." Zareena membuka obrolan. Ini juga agar kecanggungan di antara mereka segera berakhir.
"Kau sangat mencintainya?"
Tristan mengakui. "Ya, sangat."
"Wanita yang beruntung," ucap Zareena. Lalu, memandang lekat Tristan. "Apa rumah di Swiss itu adalah rumah kenangan kalian?"
"Tadinya begitu. Dia tiada sebelum aku menunjukkan rumah itu padanya. Setiap ke sana aku selalu mengenangnya."
Zareena mengangguk. "Iya, kau pernah menyebutnya. Aku kira kau hanya merindukan masa kecilmu saja. Tidak mengira kau punya hal yang tidak kuketahui."
__ADS_1
"Kadang ada hal-hal yang tidak bisa diberitahu kepada orang lain."
"Kau benar, Tris."
"Tristan," tegur Valdo.
Tristan memberi pelukan pada Valdo. "Kau memang sahabatku. Setiap tahun kau datang."
"Aku selalu ada untukmu, Tristan."
"Kalian malah saling berpelukan," celetuk Zareena.
"Maaf, aku membawa si bawel ini. Dia mengganguku sejak pagi."
"Tidak apa-apa," sahut Tristan sembari melirik Zareena.
Perubahan yang Zareena rasakan. Tristan tidak seperti kemarin. Entah karena ada Valdo atau ini adalah hari bersedihnya. Tidak ada sentuhan yang Zareena rasakan dari pria itu.
"Lebih baik aku kembali ke mobil," kata Zareena.
Valdo mengangguk. "Aku akan menyusulmu."
Zareena tidak tahan untuk pergi dari sana. Hatinya tidak karuan saat ini. Berbagai rasa hadir dalam benaknya. Entah mau marah, sedih atau kecewa.
__ADS_1
Bersambung