
Lantai menjadi salah satu alas Tristan untuk tidur. Ia tidak akan bergeming keluar dari kamar ini hanya karena tidak bisa tidur di kasur yang empuk. Asalkan bersama Zareena di samping, ia dapat tidur dengan nyenyak.
Sementara Zareena yang belum bisa tidur juga mulai iba bila Tristan sungguh menginap di kamarnya yang kecil, dan tidur di lantai. Tapi ia harus menguatkan hatinya. Hitung-hitung sebagai pelajaran buat pria itu.
Zareena tidak peduli lagi. Lebih baik ia lekas tidur karena besok harus pergi bekerja di pagi hari. Ia akan bersikap bodo amat pada Tristan. Lagian, ia tidak ada menyuruh pria itu menginap. Jika Tristan sakit, maka itu bukan salahnya.
Sementara Tristan begitu gelisah. Ia tidak bisa tidur di lantai. Zareena juga tidak memberinya selimut, sedangkan wanita itu telah pulas. Tristan bangun, ia mengintip Zareena yang sudah berubah posisi menjadi telentang. Ia mengecup kening wanitanya, lalu merangkak naik ke atas tempat tidur. Biar saja Zareena marah nantinya, asal ia dapat tidur nyenyak malam ini.
Pagi hari, Zareena dibangunkan oleh aroma dari sosis yang dipanggang. Ia beringsut bangun dari tidurnya dan disambut oleh senyuman Tristan.
"Kau masih di sini rupanya." Zareena turun dari kasur, mengambil handuk yang tersampir di gantungan kawat, lalu melangkah menuju kamar mandi.
"Sayang!" tegur Tristan.
Zareena berhenti melangkah. "Jangan panggil aku seperti itu."
"Aku sudah siapkan sarapan untukmu. Kau makanlah, aku keluar sebentar."
Tristan berjalan pergi keluar, lalu Zareena memandang satu gelas susu serta dua sosis panggang. Ia melewatkan mandi terlebih dulu. Mengisi perut yang keroncongan, lebih penting saat ini.
__ADS_1
"Dia sungguh nekat untuk terus di sini. Kita lihat saja, apa dia bisa masih bertahan," gumam Zareena, kemudian berjalan masuk kamar mandi.
Zareena kira, Tristan akan kembali lagi. Setelah keluar bilik mandi, ia tidak menemukan pria itu di dalam kamar. Zareena membuka handuknya begitu saja. Lalu, ia mencari pakaian yang akan dikenakan, dan saat itu pintu terbuka lebar. Tristan masuk lagi. Terpaku melihat Zareena yang belum mengenakan apa pun.
"Kau sungguh tidak sopan!"
Dengan cepat handuk disambar. Tristan cuma tersenyum, lalu berjalan menuju nakas. Ponselnya berada di sana rupanya.
"Aku akan mengantarmu ke toko roti. Kau bersiaplah."
"Tidak perlu!" Zareena berkata dengan nada ketus. "Cepat keluar!"
"Kau benar. Buat apa aku menyembunyikannya darimu." Zareena melepas lagi handuknya. Dengan santai ia memakai pakaiannya, dan Tristan tidak lepas memandangnya.
Bagaimana rasanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh? Saat ini Tristan merasakannya. Tubuh itu seolah memanggilnya. Tristan tidak tahan, ia mengumpat, lalu segera keluar.
Zareena tertawa. "Dia sendiri malah kepanasan."
Tristan mencoba menenangkan tubuhnya. Tadinya ingin menggoda Zareena, ternyata ia malah terjebak. Seharusnya ia langsung keluar saja tadi, dan tentu bagian bawah sana tidak ikut menegang.
__ADS_1
Tristan menoleh pada pintu yang terbuka. "Biar aku yang mengantarmu."
"Tidak perlu, Tris."
"Ayolah, Zaree." Tristan mendesaknya.
"Kau sungguh tidak punya kerjaan?"
"Aku sudah kaya. Tidak perlu lagi bekerja."
"Karena kau kaya, lebih baik kau cari wanita sana. Kau bisa bersenang-senang."
"Aku hanya ingin dirimu."
"Aku tidak suka kau."
"Hentikan, Zareena!" Tristan bersuara keras.
"Apa maumu?" Zareena menatapnya tajam.
__ADS_1
Bersambung