My Hot Baby

My Hot Baby
Titipan


__ADS_3

Terasa sepi. Ada yang hilang dari diri Zareena ketika memutuskan untuk menjauh dari Tristan. Pria itu juga tidak lagi menghubungi. Jangankan telepon, mengirim pesan singkat saja tidak. Zareena yakin sekali jika pria itu tidak merasakan kehilangan sama sekali. Tristan memiliki banyak wanita. Ia tidak akan kesepian karena itu.


Zareena bangun dari duduknya kemudian keluar dari kamar ketika mendengar seruan dari Valdo. Kakaknya tiba-tiba saja kembali dari bulan madu. Zareena lekas menuruni anak tangga.


"Ada apa, Valdo?" tanya Zareena.


Raut wajah Valdo tampak khawatir dan itu membuat Zareena heran. Terlebih kakaknya itu pulang bulan madu dengan begitu cepat.


"Berkemaslah, Zaree. Aku akan menitipkanmu kepada Tristan," kata Valdo.


"Ada apa memangnya?" tanya Zareena, lalu menatap Belva. "Ada apa, Belva?"


"Ada orang yang menyerang papa dan mama di sana. Kau harus berlindung."


Zareena membelalak. "Maksudmu apa? Papa dan mama bagaimana? Aku akan ikut bersamamu."


"Tidak boleh. Kau harus tetap di sini. Aku dan Belva akan ke sana. Kami punya visa kunjungan, sedangkan kamu tidak ada. Tetaplah di sini. Aku akan meminta Tristan menjagamu."


"Jelaskan dulu apa yang terjadi?" kata Zareena.

__ADS_1


"Saat mama dan papa menghadiri pertemuan bisnis, mobil mereka diserang. Sampai sekarang pelakunya belum tertangkap. Kau harus tetap di sini. Kau harus pindah ke rumah Tristan," ucap Valdo.


"Aku mau ikut, Kak. Aku ingin bersama papa dan mama."


"Mama dan papa saja tidak berani keluar dari apartemen."


"Aku akan diam di rumah saja."


Valdo menggeleng. "Tidak, Sayang. Siapa tahu peneror itu akan kemari. Kau akan pindah ke tempat Tristan."


"Kau bisa menyewa pengawal," kata Zareena.


"Itu sama saja membuat mereka waspada pada kita. Peneror itu tidak akan muncul dan susah untuk menangkapnya. Zareena, kumohon untuk tidak membantah. Pergilah bersama Tristan."


Nyawa Zareena bisa saja terancam. Siapa yang tahu jika peneror itu punya anak buah yang saat ini mungkin saja mengintai. Menitipkan Zareena kepada Tristan merupakan pilihan baik. Pria itu akan menjaga Zareena sampai nanti Valdo bisa membawa pulang kedua orang tuanya.


"Kau sudah datang, Tris," kata Valdo.


Tristan mengangguk. "Ya, aku datang untuk membantumu."

__ADS_1


Valdo memandang adiknya. "Ayo, Sayang. Pergi bersama Tristan."


Zareena luluh jika Valdo sudah menyebutnya begitu. Ini artinya, sang kakak tidak ingin terjadi apa-apa padanya. Zareena mengusap air matanya kemudian bergegas menaiki anak tangga.


"Kau perlu bantuanku, Val?" tanya Tristan.


"Aku hanya perlu kau menjaga adikku. Aku akan lihat siapa yang berani mengusik keluargaku," ucap Valdo geram.


Zareena cuma membawa pakaian seadanya. Bila ia memerlukan sesuatu, maka ia tinggal minta pada Tristan. Zareena menyerahkan kopernya kepada pelayan untuk dibawa ke mobil pria itu.


"Kami akan pulang cepat," kata Valdo.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri," ucap Zareena.


"Aku tahu, Sayang. Tapi kau adalah wanita. Please, patuhi perintahku."


Zareena memeluk Valdo kemudian Belva. Ia memang bisa beladiri, tetapi tidak menyalahkan jika ia adalah seorang wanita. Sekuat-kuatnya tenaga wanita, ia tetap akan kalah pada pria.


"Aku pergi," ucap Zareena.

__ADS_1


Tristan mengulurkan tangannya, tetapi Zareena enggan untuk menyambut. Ia berjalan keluar dengan diikuti oleh pria itu dari belakang. Tidak disangka. Rupanya di luar rumah ada beberapa pria yang memakai baju hitam. Mereka semua adalah pengawal Tristan. Pantas saja Valdo percaya pada pria itu.


Bersambung


__ADS_2