My Hot Baby

My Hot Baby
Menolak


__ADS_3

"Kita harus mandi dengan benar sebelum melakukannya," bisik Tristan.


Zareena tertawa, lalu mengubah posisinya menghadap pria itu. Ia mencondongkan tubuh, mengecup kembali bibir yang tengah bicara. Mengelus rahang tegas itu, menelusuri dagu, turun lagi sampai pada bawah, lalu berhenti tepat di tonggak yang sedang menantang.


"Dia merindukanmu," ucap Tristan.


"Aku juga merindukannya."


"Kau takut?"


"Sebenarnya." Zareena memandang Tristan lekat. "Menurutku karena ukurannya."


"Aku tidak akan menyakitimu."


"Aku percaya padamu," ucap Zareena.


Masih saling menyatukan bibir, lalu Tristan meraih sabun cair yang tergeletak samping bathtub. Menuangkan sabun beraroma mawar bercampur fragrance ke tangan. Menggosoknya sampai berbusa, kemudian membalurkannya pada tubuh depan Zareena.


"Aku suka menatapnya," ucap Tristan pelan. Seperti bisikan, tetapi lebih kepada seruan gairah yang diberikan.


Zareena mendesis ketika Tristan membersihkan ujung-ujung putik miliknya. Sesekali mencubit, mencengkeramnya hingga busa-busa sabun keluar dari sela jari pria itu.


"Lembut," ucapnya lagi.

__ADS_1


Bisa saja Zareena pingsan atas ucapan yang mengundang hasrat. Ia tidak tahan, ia ingin Tristan menuntaskan pemanasan ini, lalu masuk pada intinya.


"Jangan siksa aku," ucap Zareena lirih.


"Aku membersihkan dirimu, Sayang. Aku tidak menyiksamu."


Zareena tidak ingin ia tersiksa sendiri, jemarinya masih berada di bawah sana. Ia melakukan apa yang Tristan lakukan padanya tadi. Memilin ketegangan itu, seperti dirinya tengah membentuk pot di mesin putar.


"Aku akan hidupkan keran airnya," kata Tristan.


"Kenapa? Aku masih ingin berendam dalam lautan busa sabun ini."


"Sudah cukup berendamnya, lebih baik kita bilas, lalu bergelung dalam selimut," usul Tristan.


"Tris, apa kau ingin menikah?" tanya Zareena tiba-tiba.


Tristan masih membasuh kaki itu, dan terus memberikan kecupan kecil yang membuat Zareena merasa geli.


"Tidak, Sayang. Menikah hanya akan mengekang kita," jawab Tristan.


Zareena menaikkan satu lagi kakinya, lalu menurunkan kaki sebelahnya ke dalam air. Tristan kembali membasuhnya, dan melakukan hal seperti tadi.


"Kau ingin menikah?" tanya Tristan.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, tetapi wanita perlu status, kan?"


"Status itu yang akan membuatmu berubah. Kehidupanmu akan membosankan." Tristan memandang Zareena.


"Mungkin saja. Aku tidak bisa berkomentar karena belum merasakan kehidupan pernikahan," ucap Zareena. "Kenapa kau tidak pernah mengajak wanita untuk serius? Maksudku menjadikan salah satu dari sekian banyak perempuan sebagai pacar."


"Aku tidak ingin mencintai seseorang secara berlebihan. Kau tahu, mereka bisa saja pergi. Aku tidak mencintai wanita," ujar Tristan.


"Kau mencintai Valdo?" tanya Zareena.


"Sayang, ayo, aku tunjukkan caraku bermain."


"Kau bilang tidak ingin mencintai wanita."


"Bukan berarti aku menyukai pria," protes Tristan. "Maksudku, aku hanya ingin menjalani saja."


"Kau tidak ingin menikah, tidak ingin mencintai, tetapi membiarkan suatu hubungan berjalan begitu saja?"


Tristan mengiakan ucapan Zareena. "Ya, aku hanya ingin mengikuti arus yang mengalir saja."


Tristan sudah berkata demikian dan itu artinya tidak masalah memilih Chris sebagai pendamping hidup. Orang tuanya juga setuju dan menginginkan dokter itu sebagai menantu. Zareena tidak masalah akan pikiran Tristan. Kadang ia pun mendengar teman-temannya menyesal setelah menikah karena merasa gerak mereka terkekang atau masalah lain dalam rumah tangga. Namun, Zareena menginginkan pernikahan. Memakai baju pengantin, mengucapkan janji suci dan melahirkan seorang anak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2