
Memberi waktu? Tristan melakukan itu dengan tidak menghubungi Zareena. Kesal sudah pasti karena wanita itu juga tidak menghubunginya.
Tristan tidak fokus bekerja. Tiap ada kesempatan, Tristan selalu mengecek ponsel. Ya, siapa tahu Zareena mengirim pesan atau menelepon, tetapi tidak sengaja ia lewatkan.
Namun, khayalan itu terpatahkan sebab Zareena tidak mengirim pesan apa pun. Hubungan itu menjadi renggang, Tristan dan Zareena kembali menjadi orang asing.
Jari-jarinya gatal mengecek setiap status media sosial milik Zareena. Tidak ada postingan apa pun atau cerita keseharian wanita itu. Sungguh ini menyiksa Tristan sebab ia tidak tahu apa yang Zareena lakukan.
"Sialan!" Tristan melempar bolpoin begitu saja. "Seharusnya aku tidak mengatakan untuk memberinya waktu. Sekarang aku juga yang susah." Ia bersandar pada badan kursi, mendongak memandang langit-langit ruang kerja, lalu mengembuskan napas panjang. "Zareena perlu waktu bersama teman-temannya. Dia pasti akan menghubungiku."
Meski tersiksa, Tristan berhasil membiarkan Zareena selama tiga hari. Kesal, marah, bergelayut dalam benaknya. Sudah lewat beberapa hari, tetap masih tidak ada kabar. Tristan memutuskan untuk menelepon, mengirim pesan, tetapi sayang, hasilnya nihil. Zareena tidak bisa dihubungi sama sekali.
"Sial!" Tristan melempar map yang ada di meja kerjanya. Tidak di rumah, maupun kantor, perasaannya tidak menentu.
Bila di rumah, Tristan akan mengingat malam kebersamaannya dengan Zareena dan itu lebih menyiksa. Jika di kantor, ia ingin marah-marah lantaran Zareena yang terus mengabaikannya.
Tristan menoleh pada pintu yang terbuka. Ia mengusap wajah, lalu bangun dari kursinya. Sementara pria yang baru datang heran dengan apa yang ia lihat.
"Kau bangkrut?" tanya Valdo, ketika melihat map berwarna-warni itu berserakan di lantai.
__ADS_1
Tristan mengenyakan tubuhnya di sofa. "Hanya kesal."
"Kau bisa cerita padaku kalau ada masalah." Valdo turut mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Ini bukan masalah pekerjaan. Ada hal lain yang mengangguku."
Valdo tertawa. "Jangan bilang karena seorang wanita. Kau tidak mungkin jatuh cinta pada seorang gadis, kan?"
Tristan memandang sahabatnya. Jatuh cinta? Ia menggeleng, tidak mungkin ia jatuh cinta pada Zareena. Mereka hanya teman yang saling mengisi.
Valdo memperhatikan raut wajah sahabatnya itu. "Kau ini kenapa?" Valdo bertepuk tangan sekali. "Kau sungguh jatuh cinta?"
"Lupakan, aku bukan kesal karena wanita." Tritan mengibaskan tangannya. "Ada apa kau kemari?"
"Undangan pertunangan Sabtu depan."
Tristan menyambut kertas undangan itu, melihatnya sekilas, lalu meletakkannya di meja. "Kau ingin tunangan lagi?"
"Dasar kau ini. Baca dulu undangannya."
__ADS_1
"Nanti saja." Tristan menoleh kertas undangan yang ia letakkan dalam posisi terbalik.
"Si cerewet yang tunangan," ucap Valdo.
Tristan mengerutkan kening. "Si cerewet siapa? Apa kita punya teman yang cerewet?"
"Adikku yang akan tunangan."
"Apa?" Tristan memandang Valdo dalam raut wajah kaget.
"Kenapa kaget begitu?" Valdo heran.
"Katakan sekali lagi."
"Zareena akan bertunangan. Calon suaminya seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit London." Valdo bahkan memberitahu pekerjaan calon suami adiknya.
"Zareena, bertunangan?" Tristan mengucapkan kalimatnya seperti mengeja.
Valdo mengangguk. "Iya, dia menerima perjodohan yang diatur ibuku. Chris tampan, dan baik. Cocok saja untuk Zareena." Valdo tertawa. "Sekarang, anak itu tidak akan bisa lagi mengaturku. Waktunya Zareena yang akan diatur oleh suaminya."
__ADS_1
"Kenapa kau tidak bilang padaku dari awal?" Tristan mengatakan hal itu dalam keadaan marah. "Kenapa kau baru bilang padaku sekarang, hah?"
Bersambung