My Hot Baby

My Hot Baby
Usai


__ADS_3

Zareena menganggukkan kepala ketika menyantap satu potong kecil daging ayam panggang buatan Tristan. "Lumayan, ini enak."


"Aku selalu memasak sendiri bila berada di sini."


"Kau begitu menikmati waktumu sendiri di sini?" ucap Zareena. "Lalu, apa kau memikirkan masa depan selama berdiam di rumah ini?"


Tristan tersenyum. "Sayangnya tidak. Aku mengenang masa lalu."


"Kau bilang masa lalu dirimu begitu buruk."


"Kau benar, tetapi ada hal yang membuatku untuk mengenangnya. Di sini aku bisa menghadirkan kenangan menyenangkan itu. Belaian, sentuhan, cinta dan kasih sayang. Aku pernah merasakan hal itu sebelum takdir merenggutnya."


Zareena berpikir kalau Tristan mungkin sangat merindukan ibunya. Dia mungkin adalah anak yang paling disayang, sebelum rahasia itu terbongkar dan menjadikannya sebagai anak yang tersisih.


"Jangan memikirkan hal itu lagi," kata Tristan seraya meneguk habis Tequila yang Zareena tuangkan untuknya. "Kau mau aku hidupkan perapian?"


"Ini musim panas. Kurasa tidak tepat untuk menghidupkannya."


"Kukira kau ingin melihat perapian." Tristan terkekeh. "Aku akan mengajakmu kemari di musim dingin."


"Itu sangat berbahaya bagiku."

__ADS_1


"Aku akan melindungimu."


"Justru itu, aku tidak percaya. Kau pasti akan terus menahanku di kamar tidur."


Tristan tertawa mendengarnya. "Kau sangat manis, Sayang." Mencondongkan tubuh untuk dapat mengecup bibir Zareena.


"Aku sangat lelah. Lebih baik kita pergi tidur."


"Kau tidak ingin mabuk bersamaku?"


Zareena menggeleng. "Aku sungguh lelah melakukan perjalanan jauh. Ah, biar aku bantu kau membersihkan meja."


Zareena mengangguk, beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju kamar tidur. Sementara Tristan membersihkan meja makan serta dapur yang selesai dipakai.


Selesai dengan urusan semuanya, Tristan menyusul Zareena ke kamar. Wanita itu sudah terlelap. Ia menaikkan selimut agar Zareena tetap merasa hangat, lalu mendaratkan kecupan di pipi.


Lantas, Tristan keluar lagi. Ia melangkah menuju rak buku. Tristan mengambil buku paling teratas bersampul hitam. Ia membuka buku itu, membelai halaman satu per satu sampai menemukan satu foto di dalam sana.


Tristan mengecupnya, lalu mengembalikan foto itu dalam buku tersebut, kemudian memeluknya erat seolah hanya itu saja yang ditinggalkan oleh kenangan yang ia punya.


......................

__ADS_1


Pagi menyambut dengan cerah. Seperti janji Zareena kalau dirinya yang memasak selama mereka berdiam di rumah hangat itu. Ia juga senang karena Tristan menyukai apa yang ia sajikan.


Ketika melihat pria itu lahap memakan masakan yang ia buat, Zareena merasa kalau saat ini mereka memang tengah hidup bersama sebagai pasangan. Tristan juga bertingkah seperti warga desa lainnya. Ke mana-mana bersepeda, lalu mengunjungi peternakan sapi milik salah satu warga.


Selama berada di rumah itu juga, tiada malam tanpa saling menyatukan tubuh. Berbagi kehangatan seolah tidak pernah puas bagi keduanya. Sampai pada akhirnya, baik Tristan maupun Zareena harus merelakan waktu mereka untuk berpisah. Besok, mereka harus pulang ke London setelah dua minggu bersama.


"Kau ingin aku merencanakan liburan lagi?" tanya Tristan.


"Ini sudah cukup, Tris. Kita bisa bertemu kapan pun."


"Pindah ke apartemenmu, Zareena. Aku tidak leluasa bila menemuimu di rumah. Tidak ada alasan aku harus menemuimu, kan? Valdo juga tidak bisa dijadikan alasan karena kakakmu itu sudah pindah dari sana."


"Aku bisa menemuimu." Zareena menghela. "Memangnya aku ingin pergi ke mana? Aku akan tetap di London."


Tristan mengangkat bahu. "Entahlah, aku merasa kau akan pergi."


"Tidak ada alasan aku pergi dari London. Aku lahir di sana."


Maksud Tristan bukan seperti itu. Namun, ia merasa Zareena tidak akan menjadi miliknya lagi. Tristan bingung dengan perasaannya. Ia ingin bersama Zareena, tetapi ia tidak mau mengikat wanita itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2