
Resepsi antar teman ini adalah salah satu ide dari Valdo. Tamu yang hadir bisa minum sebanyak yang diinginkan. Mereka berpesta, bersenang-senang atas kebahagian kedua mempelai.
Zareena tidak ingin menyia-yiakan kesempatan untuk merebut perhatian dari Tristan. Mumpung kedua orang tuanya tidak ikut dalam acara yang kebanyakan dihadiri oleh sahabat dari sepasang pengantin. Sementara untuk sang kakak, Valdo. Terlihat sibuk dengan istri dan temannya yang lain.
"Wanita itu terus menempel padanya," bisik Colin yang memperhatikan Tristan serta Stacy.
"Jaga pandanganmu. Jangan sampai di tau kalau dia memperhatikan," balas Zareena.
"Kita harus mendekat untuk memancingnya."
"Kau benar. Ayo, kita mendekat ke meja bar," kata Zareena.
Keduanya berjalan bersama sembari bercanda. Zareena pura-pura tidak melihat Tristan yang merangkul pinggang seorang wanita. Ia duduk di kursi bar dengan memesan minuman bersama Colin.
Tristan yang memperhatikan penampilan Zareena malam ini, begitu terpesona. Gaun silver mengkilap di atas lutut. Berlengan panjang, tetapi terbuka dibagian punggung dan berleher rendah.
"Stacy, malam ini kau sendiri saja," kata Tristan.
"Kau mengajakku kemari untuk menemanimu, kan?"
"Menemaniku ke pesta ini bukan menemaniku ke kamar tidur," ralat Tristan.
Stacy mendengkus. "Lebih baik aku kembali ke kamarku. Sia-sia saja aku datang kemari."
Tristan mana peduli Stacy akan marah. Ada mangsa yang lebih membuatnya terpikat. Sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Ia telah berkunjung ke negara super romantis. Tidak baik pulang tanpa melakukan hal yang luar biasa malam ini.
"Nona Zareena," tegur Tristan.
"Ada apa?" jawab Zaree ketus.
"Kau marah lagi?"
"Menurutmu?" tanya Zaree. "Apa aku harus tersenyum setelah apa yang kau lakukan padaku?"
__ADS_1
"Maafkan aku, Nona Zareena," ucap Tristan. "Bisakah kita bicara sebentar?"
Zareena memandang Colin lebih dulu kemudian ia beralih menatap Tristan. "Baiklah, aku akan ikut bersamamu."
Tristan mengulurkan tangan dan Zareena menyambutnya. Keduanya jalan bersama keluar dari tempat acara.
"Kau ingin mengajakku ke mana?" tanya Zareena.
"Kamarku. Jika bicara di sana, Valdo akan marah padaku."
Kening Zareena berkerut mendengarnya. "Kenapa Valdo marah padamu?"
"Dia tidak suka kita dekat."
"Kau serius?" tanya Zareena.
Tristan mengangguk, lalu membuka pintu kamar dan mempersilakan Zareena masuk ke dalam. Langsung saja Zareena mendaratkan tubuhnya di tepi tempat tidur, sedangkan Tristan menuangkan minuman beralkohol di kedua gelas.
"Itu memang benar. Kakakmu menginginkan pria baik untukmu," ucap Tristan seraya memberi Zareena segelas air.
Tristan terkekeh. "Kau terlalu menarik, Sayang."
"Benarkah? Kau bahkan menolakku."
"Bisakah kita melupakan itu? Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu," kata Tristan.
Zareena bangun dari duduknya, lalu meletakkan gelas di meja. Ia mendekat pada Tristan yang duduk di sofa, mencondongkan diri hingga hidung mereka bersentuhan.
"Kita bisa mulai dari awal," ucap Zareena.
Tristan langsung menekan tengkuk leher Zareena. Ia menyentuh bibir merah itu. Mengecupnya, menjelajahi ruang dalam mulut Zareena. Mengabsen setiap deretan gigi, membelit lidah yang membakar hasrat untuk gerakan yang menuntut.
Zareena naik ke pangkuan Tristan. Membiarkan Tristan menjamahnya dengan sentuhan rakus seakan pria itu tidak pernah merasakan nikmatnya tubuh seorang wanita.
__ADS_1
"Kau luar biasa," ucap Tristan di tengah permainan bibirnya.
"Kau juga sama, Sayang," balas Zareena, lalu kembali menyatukan bibirnya.
Tangan Tristan tidak tinggal diam, ia mengusap punggung Zareena yang terbuka. Memperdalam kecupan bibir, lalu turun ke dagu, dan menjalar ke daun telinga.
"Bisa kita melakukannya?" tanya Tristan.
Zareena mengangguk. "Iya, kita bisa melakukannya."
Tanpa ragu lagi, Tristan kembali menjelajahi tubuh Zareena. Ketika ia ingin menyingkap bagian depan tubuh wanita itu, pintu kamar diketuk dengan keras.
"Sial! Siapa yang menganggu kita?" tanya Tristan kesal.
Zareena bangun dari pangkuan Tristan dan merapikan penampilannya. "Buka saja pintunya."
Berat hati Tristan melangkah membuka pintu. Ia heran karena sahabat Zareena yang berada di depan.
"Colin!" tegur Zaree.
"Kau meninggalkan tas di meja bar," kata Colin.
"Ya, aku sangat ceroboh. Terima kasih telah mengantarkannya padaku."
"Dari mana kau tau kamarku?" tanya Tristan.
"Aku bertemu wanita yang bersamamu tadi," jawab Colin, lalu memandang Zareena. "Kau harus kembali ke pesta. Valdo tadi mencarimu."
"Iya, aku belum menyapanya. Kau pergilah dulu. Nanti aku menyusul," ucap Zaree.
"Kau melewatkan kebersamaan kita lagi," protes Tristan.
Zareena mengecup pipi pria itu. "Masih banyak waktu untuk kita."
__ADS_1
Setelah itu Zareena pergi meninggalkan Tristan seorang diri dengan bagian tubuh yang menegang di bawah sana.
Bersambung