
Gelisah sudah pasti. Ingin marah, tetapi tidak bisa. Tristan merasa gerah sampai ia membuang jas yang dikenakan begitu saja. Jas itu disampirkan di badan kursi, lalu ia mencoba menghubungi Zareena. Namun sayang, nomor itu tidak lagi aktif.
Satu jam terlewat. Tristan berharap mobil sedan hitam yang menepi di bahu jalan, adalah Chris. Pengemudi di dalam turun, Tristan dapat merasa lega karena Chris datang menemui dirinya. Ia bangun dari duduk, melambaikan tangan agar Chris menghampirinya.
"Biar aku pesankan kopi untukmu," ucap Tristan ketika Chris telah duduk di kursi berhadapan dengannya.
"Tidak perlu. Waktuku tidak banyak. Cepatlah bicara apa yang ingin kau katakan padaku." Sebenarnya Chris malas untuk datang, tetapi ia tidak mungkin membiarkan Tristan menunggu sampai larut malam di kedai kopi.
"Aku minta maaf atas kejadian tempo lalu." Kalimat pertama yang ia ucapkan. Dalam hati, Tristan cemburu karena sempat melihat Chris bermesraan dengan Zareena. "Aku melakukannya karena menyadari perasaanku."
"Lalu, kau membuat malu Zareena?" Chris menggeleng, menatap Tristan dengan jijik. "Kau tahu apa beda diriku dan kau? Aku mengutarakan perasaanku dan memberinya status, sedangkan kau tidak. Seharusnya kau tidak melakukan itu, Tris."
"Aku baru menyadari kalau dia yang kuinginkan selama ini. Aku tidak bisa berpisah darinya. Kau benar, kita punya perbedaan. Aku ragu atas perasaanku, dan aku menyesalinya."
"Lalu, kau ingin aku mundur?" tanya Chris.
"Aku mencintainya." Tristan tidak enggan lagi membuat pengakuan.
__ADS_1
"Aku dan Zareena sudah menjadi teman."
Chris juga tahu kalau Zareena punya perasaan pada Tristan. Itu sebabnya ia mundur sebelum merasakan sakit hati yang mendalam.
Chris beranjak dari duduknya. "Kurasa obrolan kita cukup sampai di sini."
Tristan pun bangun dari kursinya. "Aku sungguh minta maaf karena membuat malu keluarga kalian."
"Semua sudah terjadi. Maaf pun tidak bisa menyelesaikan segalanya. Tapi, aku salut kau meminta maaf padaku langsung."
"Aku sangat menyesalinya." Tristan mengakui itu.
Setelah mengatakan hal itu, Chris masuk mobil, lalu mengemudikan kendaraan roda empatnya dari sana. Tristan pun akan meminta maaf pada orang tua Zareena, dan ia akan menemui mereka pada esok hari.
Di lain tempat, Zareena menikmati pesta barbaque-nya bersama Brian dan teman baru. Brian mengundang dua pria dan tiga teman wanita. Selain tampan, rupanya sepupu Colin ini jago bermain gitar dan bernyanyi.
"Kau bisa menjadi penyanyi, Brian." Zareena mengucapkannya secara tulus.
__ADS_1
"Kau bisa saja. Aku tidak berkeinginan untuk itu."
"Kau tidak berkeinginan mengunjungi London?"
"Aku beberapa kali ke sana."
"Brian ke London hanya untuk mengejar seorang wanita. Tapi sayangnya, wanita itu menipunya," sela Colin.
Zareena sedikit kaget mendengar kabar itu. Lalu ia menoleh pada Brian. "Apa itu benar, Brian?"
"Jangan dengarkan omongan Colin. Itu semua tidak benar karena selama hidup Brian, wanita itu sendiri yang mengejar." Ia mengatakannya dengan penuh percaya diri.
"Bukan begitu. Brian mencari wanita itu karena ditipu. Sebenarnya wanita itu adalah seorang pria." Salah satu teman pria Brian menyela.
"Brian, kau?" Zareena menggeleng karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Aku bersumpah kalau aku tidak menidurinya dan aku bersumpah kalau aku normal. Aku mengenal siluman pria itu lewat situs perkenalan. Aku memberinya uang." Brian menyesal karena hal bodoh yang ia lakukan.
__ADS_1
"Brian!" Zareena tidak dapat menahan tawanya begitu juga dengan yang lain.
Bersambung