
Di ruang latihan tidak ada, lalu di tempat kursus juga Zareena tidak terlihat. Lalu, di mana wanita itu? Nomor ponsel saja tidak aktif. Mau tidak mau, Tristan harus mengunjungi wanita itu, kan?
Tekadnya kuat untuk bertandang ke kediaman Zareena, dan untuk alasannya, Tristan akan memikirkannya selama perjalanan.
"Zareena tidak mungkin marah karena aku tidak memberitahunya tentang Lily, kan?" gumamnya.
Tristan mempunyai perasaan tidak enak tentang ini. Mungkin saja Zareena marah karena ia tidak jujur pada sosok Lily. Sebenarnya Tristan memang tidak ingin bercerita apa pun. Sebuah rahasia tidak harus diberitahu. Sayangnya, Valdo malah membawa adiknya ke makam kemarin.
Tristan turun dari mobil sedan super match series 15 keluaran terbaru warna silver metalik. Penjaga rumah segera menghampiri karena memang mengenal sosok sahabat Valdo itu.
"Tuan Tristan, mau masuk?" penjaga rumah siap membuka gerbang.
"Apa Zareena ada di rumah?"
"Nona keluar sejak pagi."
"Begitu rupanya. Katakan pada Zareena kalau aku mencarinya." Tristan langsung masuk mobil, lalu kembali mengendarainya.
Penjaga rumah menggeleng. Padahal ia ingin memberitahu kalau Zareena pergi sejak pagi bersama Chris, dan kediaman Calmington akan sibuk seminggu ini karena ada acara pertunangan.
__ADS_1
Di sisi lainnya, dalam apartemen yang cukup luas, Zareena menunjukkan kebolehannya memasak menu makan siang untuk Chris. Hari cerah untuk menghabiskan waktu bersama pasangan.
"Kau merasa tidak terganggu karena menemaniku?" tanya Chris tidak enak hati. "Maksudku, kau pasti punya kegiatan lain, kan?"
Zareena tersenyum menanggapi. "Kita memang harus menghabiskan waktu bersama, kan? Aku tidak keberatan meluangkan jadwal latihan dan kursus memasakku."
"Aku dapat panggilan tugas tadi malam, dan tidak sempat menelepon, itu sebabnya dari rumah sakit, aku langsung menemuimu."
"Kau tidak tidur, Chris. Istirahatlah."
"Tapi aku ingin bersamamu."
Chris menyuap satu sendok sup itu ke dalam mulut. "Aku akan gendut jika terus makan enak."
Zareena tertawa. "Itu tidak akan terjadi. Aku akan selalu menyediakan makanan sehat untukmu jika kita telah menikah nanti."
"Kau akan menjadi istri yang baik."
Selesai makan bersama, keduanya menghabiskan waktu dengan menonton film bersama. Namun, hanya Zareena yang menonton karena Chris malah memejamkan matanya.
__ADS_1
"Dia terlihat lelah, tetapi masih memaksakan diri untuk menemaniku." Zareena meraih bantal, lalu merebahkan kepala Chris di atasnya.
Karena Chris tertidur, Zareena pun ikut merebahkan diri di samping pria itu. Tidur bersama di lantai dengan beralaskan karpet tidak masalah baginya.
Zareena tidak sadar ia berada di dalam kamar Chris. Ruangan itu bercat dinding putih bersih. Ada beberapa pajangan figur action dari beberapa tokoh film serta beberapa buku tebal yang Zareena yakini sebagai sumber acuan bagi pekerjaan Chris.
Pintu kamar mandi bergeser. Chris keluar dengan pakaian lengkap dan rambutnya yang basah.
"Kau selesai mandi?" tanya Zareena. Terbiasa akan Tristan yang keluar kamar mandi hanya memakai handuk, Zareena malah merasa heran melihat Chris keluar dengan pakaian lengkap.
"Kau ingin mandi?"
"Tidak perlu. Aku ketiduran, lebih baik aku pulang," Zareena tergagap menjawab tawaran itu.
"Kita makan malam dulu," ucap Chris. "Aku sudah pesan makanan untuk kita berdua. Aku tidak mau membangunkanmu tadi."
Zareena mengangguk. "Baiklah, kita makan malam lebih dulu."
Zareena menyempatkan diri membasuh wajahnya dulu, lalu menyusul Chris yang menunggu dirinya di ruang makan.
__ADS_1
Bersambung