
"Sialan!" Brian tidak mau kalah, ia membalas apa yang sudah Tristan perbuat lebih dulu. Brian memberi pukulan di rahang pria itu. "Beraninya kau!"
"Kau ...." Tristan mengumpat seraya kembali memberi pukulan di perut Brian.
"Hentikan!" Zareena berteriak.
Namun, Tristan dan Brian tidak peduli. Keduanya beradu kekuatan. Zareena maju ingin memukul Tristan, tetapi terhalang oleh Miles.
"Menyingkir dari hadapanku!" Zareena melayangkan tinjuannya pada Miles, tetapi dapat ditahan pria itu.
"Biar aku saja yang turun tangan." Miles berkata demikian.
Zareena mundur, mempersilakan Miles melerai keduanya. Miles memberi tendangan pada dua pria yang berkelahi itu. Sontak itu membuat Tristan dan Brian naik pitam.
"Berhentilah berkelahi!" Miles memberi penegasan pada ucapannya.
"Kau!" Tristan maju, tetapi mendadak ia cuma bisa mematung.
"Apa?" Zareena menghadang seakan menantangnya.
"Aku mencarimu dan kau malah bersama dia!" Tristan menunjuk Brian yang tengah menyeka ujung bibirnya yang mengucurkan noda merah.
"Kau siapa sampai bisa melarangku?" tanya Zareena, lalu menunjuk wajah Tristan. "Kita tidak cukup dekat sampai kau bisa melarangku."
"Kau jangan menyangkalnya, Zaree! Aku tahu perasaanmu, dan aku juga punya perasaan yang sama."
Zareena tersenyum sinis. "Artinya, kau membenciku? Karena saat ini aku sangat membencimu, Tristan!"
"Ikut bersamaku. Kita harus bicara." Tristan meraih tangan Zareena. Menyeret wanita itu untuk ikut dengannya.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" Zareena menarik tangannnya, lalu berlari pada Brian. "Menjauh dariku. Aku sudah punya kekasih."
"Kemari, Zareena." Tristan mengulurkan tangannya.
"Ayo, Brian. Kita pergi dari sini."
"Zareena!" panggil Tristan lagi.
"Dia wanitaku, bukan wanitamu, Bung. Jangan berharap kau bisa bersamanya." Brian mengacungkan jari tengah pada Tristan.
"Sialan!" Tristan ingin menyerang lagi, tetapi Miles menghalangi. "Biarkan aku menghentikan mereka."
"Kau harus tenang, Tris. Zareena akan semakin membenci dirimu."
"Kau lihat pria itu, kan?"
Tristan hanya bisa memandang keduanya masuk mobil, lalu berlalu dari restoran. Ia tidak membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Jelas pria yang bersama Zareena mengatakan kalau mereka tengah menjalin hubungan.
"Kita pulang saja ke hotel. Besok pagi, baru kita temui Zareena." Miles mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Aku tidak peduli jika Zareena bersama pria itu. Dia harus tetap menjadi milikku."
Tristan langsung saja melangkahkan kakinya. Miles cuma bisa menggelengkan kepala menyaksikan kisah cinta rumit yang tengah dihadapi sahabatnya saat ini.
"Hentikan mobil di apotik," ucap Zareena.
"Aku baik-baik saja." Brian terus mengemudikan mobilnya.
"Ayolah, Brian." Zareena membujuk.
__ADS_1
Rayuan Zareena mempan di diri Brian. Mobil berhenti di depan apotik. Zareena keluar, sedangkan Brian tetap menunggu di dalam. Tidak lama wanita itu muncul dengan membawa kotak obat pertolongan pertama.
Zareena membuka pintu, lalu masuk. "Menepilah dulu. Kau perlu diobati."
"Aku baik-baik saja."
"Kau marah padaku, Brian?"
"Tidak," jawab Brian. "Aku cuma kecewa saja."
"Kenapa?" kening Zareena berkerut.
"Karena aku belum puas menikmati bibirmu."
Zareena langsung memukul lengan Brian. "Kau ini."
"Aku sudah banyak dipukuli. Jangan lagi memukulku."
"Menepilah, aku harus mengobatimu."
Mobil menepi di bahu jalan. Brian membuka sabuk pengamannya, menghadap Zareena untuk diobati.
Zareena mencondongkan tubuh, ia mengecup ujung bibir Brian, rahang, lalu pelipis di dekat mata. "Itu hadiah untukmu."
"Aku sudah sembuh. Terima kasih, Zaree."
Zareena mengacak-acak rambut pria itu. "Kau ini seperti anak kecil. Kau mau jadi adikku?"
"Aku menolak tegas," jawab Brian.
__ADS_1
Bersambung