
"Aku benar, kan? Zareena terlihat sangat cantik." Sekali lagi Tristan mengatakannya. "Karena kecantikannya itu, aku menyukainya. Sepertinya aku jatuh cinta padanya."
Hal itu membuat kegaduhan, tamu semakin penasaran dengan apa yang akan Tristan katakan selanjutnya. Termasuk Chris serta kedua orang tua Zareena sendiri.
"Memang dia cantik, dan sangat cantik serta menawan di dua minggu terakhir kami." Tristan kembali memuji Zareena. "Aku jatuh cinta padamu, Zaree."
"Tristan!" tegur Valdo.
"Oh, biarkan aku mengatakan semuanya. Aku ingin memberitahu Chris bahwa calon istrinya ini begitu membuatku tergila-gila di atas ranjang."
Chris beralih menatap Zareena. "Apa yang dia katakan?"
Bibir Zareena kelu untuk menjawab. Semua mata tertuju padanya. Tristan telah mempermalukan ia di depan banyak orang. Jadi, ini rupanya rencana Tristan untuk membatalkan pertunangan.
"Hentikan, Tristan!" Valdo kembali menegur.
"Kenapa aku harus menghentikan ini? Hubungan kami berakhir dua minggu yang lalu. Kami liburan bersama di Pulau Milos dan Swiss. Kami menghabiskan waktu di atas tempat tidur, dan sekarang Zareena akan bertunangan bersama Chris. Aku cuma ingin berbagi pengalaman." Tristan begitu menikmati wajah-wajah terperangah dari semua yang hadir. "Kuberitahu padamu, Chris. Tubuh seorang perawan itu begitu nikmat. Maafkan aku yang telah lebih dulu mencicipi tubuh calon istrimu itu."
__ADS_1
"Sialan!" Valdo maju, lalu memberikan pukulan di wajah Tristan. "Hentikan omong kosongmu itu."
Tristan mengusap rahangnya. "Kau bahkan mengetahui kalau adikmu memang liburan ke Yunani. Sayangnya, dia tidak liburan bersama teman-temannya, tetapi bersamaku."
"Colin!" panggil Mary. "Apa Zareena tidak liburan bersamamu?"
Colin tersentak mendapat pertanyaan seperti itu. Ia memandang Zareena yang seakan pasrah bila ia menjawab apa adanya.
"Aku harap kau jujur." Mary mengharapkan itu.
Colin menggeleng. "Zareena tidak liburan bersamaku."
"Kalian bisa melanjutkan pertunangan. Aku hanya memberitahu itu saja. Lagi pula Zareena telah memilih calonnya." Tristan sama sekali tidak merasa bersalah telah mengungkapkan semuanya.
"Apa maumu, Tristan?" Zareena berkata lantang. "Hubungan itu telah berakhir. Jangan menganggu kehidupanku lagi!"
Tristan tertawa. "Rencana perjodohan ini telah berlangsung sebelum kita liburan, Sayang. Ketika kita telah bersama. Ketika aku menyatakan kau adalah milikku. Kau menghabiskan waktu bersamaku, lalu berencana memiliki pria lain dalam hidupmu. Kau pikir aku bisa kau permainkan begitu saja?"
__ADS_1
"Kupikir cukup sampai di sini saja," sela Chris, yang hendak melangkah pergi.
"Tunggu, Chris. Hubungan kami telah berakhir. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya." Zareena mengenggam tangan Chris, tetapi pria itu menepisnya.
"Aku tidak ingin melanjutkan perjodohan ini. Selagi kita jalan bersama, kau juga bersamanya, Zaree. Bagaimana kalau kita sudah menikah nanti? Apa kau akan jalan bersama Tristan?"
Chris melangkah pergi, disusul oleh kedua orang tua serta sahabatnya. Tamu-tamu yang lain seolah mengerti apa yang terjadi. Mereka satu per satu menyeret langkah keluar.
"Kau mempermalukan keluarga kami. Sekarang pergilah," usir Valdo.
"Aku tidak mempermalukan, tetapi hanya mengungkapkan fakta yang sebenarnya." Tristan maju mendekat. Berdiri di hadapan Zareena. "Lihat, kan? Pertunanganmu sudah batal. Selamat berbahagia, Zareena."
Tristan melangkah pergi setelah puas mengacaukan segalanya. Henry menatap kecewa pada putrinya, lalu menyeret kakinya keluar dari pesta.
Satu tamparan di dapat Zareena dari sang ibu. "Mama kecewa." Lalu ikut menyusul suaminya.
"Untuk ini aku menyuruhmu tidak dekat dengan Tristan. Kau membuat semuanya kacau, Zareena." Valdo juga turut kecewa.
__ADS_1
Bersambung