
Pagi hari Valdo sudah dibuat kesal dengan kedatangan sang adik ke rumahnya. Ia sudah menikah, lalu mengapa Zareena masih mengusiknya?
"Kau sungguh membenciku?" Zareena berkacak pinggang memandang Valdo. "Aku adikmu. Kemarin saja kau sangat khawatir padaku."
"Mau apa kemari?"
"Adikmu berkunjung, dan kau bertanya ada apa?" Zareena menggeleng tidak bertanya. "Kau sungguh tidak sayang padaku rupanya."
Jika bukan karena mereka bersaudara, Valdo mungkin akan menendang adiknya keluar. "Kau ingin bertemu Belva, dia ada di dalam sana. Pergi dan temui dia jika kau ingin minta ditemani belanja. Tanggal pertunanganmu, kan, sudah ditetapkan."
Pertunangan akan dilaksanakan dua minggu mendatang. Zareena tentu harus bersiap untuk hari istimewanya itu, termasuk membeli perlengkapan apa saja yang dibutuhkan untuk acara.
"Jangan menghalangiku. Aku akan terlambat," ucap Valdo. "Minggir dari pintu, aku mau lewat."
"Pantas saja Belva begitu kurus. Ini pasti karena kau menyiksanya."
"Belva!" teriak Valdo. "Cepat kemari."
Hanya istrinya yang bisa menyelamatkan dirinya. Dengan celemek di badan dan tangan penuh terigu, Belva menghampiri keduanya.
"Ada apa? Kukira kau sudah pergi, Valdo."
"Kau tidak lihat ada pengganggu di sini." Melihat Belva yang seperti itu, Valdo malah tambah kesal.
__ADS_1
"Zareena, aku tengah membuat pangsit. Valdo menginginkannya. Kau masuklah dulu," kata Belva.
"Tidak perlu Kakak ipar. Sepertinya suamimu ini sangat tergesa-gesa." Zareena memperhatikan penampilan sang kakak. "Dia bahkan tidak melihat apa yang saat ini kubawa."
Zareena menunjukkan bingkisan yang ia bawa. Mempermainkannya ke kiri kanan pada wajah Valdo yang terlihat kesal. Belva menahan tawa karena itu, sedangkan Valdo hanya diam.
"Tadi malam kau menginginkan lasagna buatan mama, kan?" Zareena menyerahkan kotak makan pada Belva. "Mama sudah membuatnya dan kalian bisa memakannya nanti siang."
"Aku kira mama tidak mau membuatkannya." Belva begitu senang mendapat perhatian dari mertuanya.
"Kau ini bicara apa? Mama sangat menyayangimu."
"Oke! Keperluanmu sudah selesai, kan? Sekarang, biarkan aku pergi," sela Valdo.
"Aku ada urusan. Siapa suruh kau tidak datang bersama sopir."
"Aku datang bersama sopir taksi. Sekarang sopir-nya telah pergi."
Valdo menatap adiknya. "Aku akan mengantarmu. Sekarang minggir!"
Dengan senang hati Zareena menggeser tubuhnya dan mempersilakan Valdo untuk lewat. Hari yang bikin semangat adalah mengerjai Valdo di pagi hari.
Buru-buru Zareena masuk dalam mobil agar Valdo tidak bisa pergi meninggalkannya. Keberuntungan Zareena karena Valdo yang membuka pintu, tetapi kesialan bagi sang kakak.
__ADS_1
Mobil keluar dari gerbang rumah. Melaju meninggalkan perumahan menuju jalan raya besar. Namun, Valdo menghentikan mobil di depan toko bunga dan itu membuat Zareena heran.
Valdo masuk dengan membawa sebuket bunga Lily, lalu melanjutkan perjalanan mengantar Zareena lebih dulu.
"Untuk siapa bunga itu?" Zareena tidak akan membiarkan kakaknya selingkuh.
"Aku mau ke makam. Tristan sudah menungguku di sana. Kau kuantar pulang dulu."
"Siapa yang tiada?"
"Kau ini banyak tanya." Valdo mulai malas meladeni kebawelan adiknya.
"Aku mau ikut."
"Aku antar kau pulang dulu."
"Aku mau ikut!" Zareena mengucapkannya dengan tegas.
Valdo mengembuskan napas pasrah, ia memutar arah menuju pemakaman. Mendebat Zareena juga percuma karena ia akan tetap kalah.
Zareena ingin ikut karena ada nama Tristan yang disebut Valdo. Tentu saja ia sangat penasaran akan hal itu. Ada banyak rahasia yang belum diketahuinya, dan sekarang Zareena akan tahu apa itu.
Bersambung
__ADS_1