My Hot Baby

My Hot Baby
Gangguan


__ADS_3

Zareena mengeliat karena ia tidak tahan dipeluk Tristan seperti ini. Ia berusaha untuk melepaskan diri, tetapi pria itu malah semakin mendekapnya.


"Aku sudah bilang untuk tidak bergerak. Kenapa kau seperti cacing yang kepanasan?" kata Tristan.


"Aku merasa gerah," ucap Zareena.


"Mudah saja. Buka pakaianmu."


"Apa? Kau ini!" Zareena menepuk tangan Tristan, membalik diri, lalu mendorong pria itu agar menjauh darinya.


"Kau tidur saja dengan pakaian dalamanmu. Aku janji tidak akan menyentuhmu, kecuali kau yang menginginkannya," ucap Tristan.


"Tidak mudah untuk meniduriku."


"Tapi kita hampir melakukannya." Tristan bangun dari tidur, lalu menindih Zareena. "Kita bisa melakukan hal seperti malam itu. Aku akan memuaskanmu."


Ucapan yang begitu menggoda. Mengulang kejadian waktu itu, tentu saja Zareena begitu berminat untuk kembali merasakan sapuan lidah yang menggelitik sari-sari wanitanya itu.


"Lebih baik kau tidur. Jika kita begini terus, maka kau sendiri yang akan pusing," ucap Zareena ketika kembali merasakan desakan di sela kakinya.


"Kau yang melakukan ini padaku," bisik Tristan.


"Hentikan!"


Zareena menggigit bibir ketika jemari Tristan menggelitik perutnya. Kelima jari itu naik sampai menangkup miliknya yang memang tidak dilindungi oleh penutup berbusa.

__ADS_1


Jelas sekali Tristan tersenyum karena ia berhasil membuat anak dari buah itu muncul mencuat. Zareena tidak ingin bersuara, tetapi tangan yang memelintir itu begitu menggodanya.


"Jangan!" kata Zareena.


"Jangan apa?" tanya Tristan.


"Jangan, berhenti."


"Jangan berhenti?" Tristan tersenyum. "Tentu saja, aku tidak akan berhenti sebelum mendapatkannya."


Salahkah hasrat Zareena yang besar itu. Ia sendiri menginginkan sentuhan yang mendebarkan. Ia ingin tangan itu menangkup, mencengkeram hingga ia menjerit.


"Kau menikmatinya, Sayang," ucap Tristan yang membuka jubah satinnya.


Zareena menggeleng. "Jangan lakukan ini padaku."


Tristan menaikkan kaus yang dipakai Zareena ke atas. Ia menunduk, mengecup bagian atas dari tubuh wanita itu. Zareena pun menikmatinya. Terlebih ketika Tristan mencucup miliknya seperti pria yang belum pernah meneguk air.


"Tristan!" ucap lirih Zareena yang telah merinding akan gairah.


Tanpa melewatkan satu jengkal pun, Tristan menikmati tubuh mulus itu. Zareena membelai, mencengkeram helaian rambut Tristan ketika pria itu meninggalkan gigitan yang terasa menyakitkan, tetapi nikmat.


Namun, hal yang paling Tristan sesalkan adalah suara ponsel yang berdering. Tristan berdecak ketika benda pipih itu tidak dapat berhenti memanggil.


"Sialan! Siapa yang menelepon?" kata Tristan yang mengambil gawai itu dari atas meja lampu tidur. "Sial, Valdo!"

__ADS_1


Tristan turun dari tempat tidur, ia memberi kode agar Zareena diam. Tristan menarik napas dulu sebelum mengangkat panggilan dari sahabatnya.


"Halo, Valdo."


"Hei, kalian di mana? Kenapa kau lama mengangkat teleponku?"


"Kami sedang nonton," jawab Tristan.


"Di mana Zareena? Aku ingin bicara padanya."


Tristan menyerahkan ponsel itu kepada Zareena. Sama seperti hal Tristan, wanita itu juga menarik napas panjang sebelum bicara.


"Halo, Valdo."


"Kau baik-baik saja? Kenapa teleponku tidak diangkat?"


"Iya, ponselku berada di kamar. Bagaimana dengan mama dan papa?" tanya Zareena.


"Kami baru tiba. Nanti aku telepon lagi setelah bertemu mama dan papa. Jaga dirimu dan jauhi Tristan," pesan Valdo, lalu memutus sambungan telepon itu.


"Apa kata kakakmu?" tanya Tristan.


"Aku disuruh untuk menjauh darimu," jawab Zareena.


"Apa?" Tristan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

__ADS_1


"Kurasa kakakku benar. Kau begitu berbahaya," ucap Zareena.


Bersambung


__ADS_2