My Hot Baby

My Hot Baby
Chris


__ADS_3

Zareena rasa pria di depannya ini adalah tipe lelaki yang sebenarnya sangat cocok untuknya. Menurut kepribadian, keduanya memang serasi.


Pria bermata teduh, berkacamata, hidung mancung dengan bibir tipisnya. Rambutnya lurus yang disisir rapi bersama tubuh tegap di balik jas yang lelaki itu kenakan. Tingginya juga tidak lebih dari Tristan, dan pastinya Chris Hemswort, nama dari pria itu memiliki kesan baik dalam dirinya. Pintar sudah pasti serta seorang kutu buku, seperti yang Zareena suka.


Namun, itu mungkin cocok untuk Zareena sebelum berubah menjadi liar seperti sekarang. Sekarang ia merasa kembali ke fase awal ketika belum mengenal sosok Tristan.


Zareena mengenakan rok tutu berwarna hitam panjang dilengkapi blouse putih serta rambut yang ia sanggul dengan menyisakan anak rambut di sisi kiri dan kanan. Jika Tristan melihat itu, Zareena yakin jika pria itu akan mengatakan kalau dirinya adalah wanita yang baru masuk kuliah. Herannya, kenapa dia malah mengenakan pakaian seperti yang sekarang? Seharusnya Zareena memakai gaun beludru warna hitam tanpa lengan dan di atas lutut.


"Bawa Chris bicara di taman, Zareena," ucap Mary.


Zareena tersenyum, lalu teringat jika dulu Tristan juga seperti ini. Kedua keluarga sudah selesai makan malam dan menyisakan obrolan untuk perkenalan lebih lanjut.


"Ayo, Chris. Kita bicara di taman belakang," ajak Zareena.


"Tentu," jawab pria itu seraya tersenyum manis.


Nilai tambah karena Chris memang sangat manis bila tersenyum. Sosoknya begitu ramah, dan begitu mudah didekati.


Keduanya berjalan bersama menuju taman belakang yang memang disiapkan oleh Mary untuk mereka berbincang. Zareena mengakui jika ibunya seperti sangat menyukai pria berkacamata ini.


"Kau hebat sekali," kata Zareena membuka pembicaraan.


"Aku hebat? Kenapa?" tanya Chris.

__ADS_1


"Duduklah," ucap Zareena mempersilakan. "Menurutku kau hebat karena menjadi seorang dokter."


Chris tersenyum. "Menurutmu aku hebat, tetapi menurutku aku mendapatkan keahlian ini karena belajar. Sampai sekarang aku masih berkutat dengan buku-buku."


"Kau seorang dokter bedah saraf dan itu sangat keren," kata Zareena kagum.


"Kau terlalu memuji, aku juga kagum padamu. Kau pandai memasak."


"Itu keahlian yang dimiliki banyak orang."


"Tentu saja berbeda. Semua wanita atau pria dewasa mungkin bisa memasak, tetapi belum tentu bisa menyajikan hidangan yang berbeda. Aku sungguh menikmati makan malam di rumahmu," ucap Chris.


"Aku berkeinginan membuat satu restoran atau toko roti, juga menjadi chef yang muncul di TV," kata Zareena.


"Itu bagus."


"Kenapa? Ada sesuatu hal yang membuatmu tidak ingin memujudkannya?" tanya Chris.


"Bukan, sebenarnya aku melakukannya karena hobi."


"Kakakmu bilang kau juga seorang atlit Judo. Kau begitu menakjubkan," kata Chris.


"Kapan Valdo bicara seperti itu?" tanya Zareena.

__ADS_1


"Saat aku menunggumu turun dari lantai atas."


Zareena tertawa. "Kau sungguh menungguku?"


"Aku hanya penarasan."


"Lalu, bagaimana kesanmu terhadapku?" tanya Zareena.


"Kau menarik juga cantik."


"Semua pria juga mengatakan hal sama."


"Tapi aku suka gaya bicaramu. Senyummu manis dan tentu saja kau bisa memasak," ucap Chris.


"Kau suka wanita rumahan, ya?" tanya Zareena.


"Aku suka wanita yang keibuan. Mengerti diriku dan pekerjaanku. Kau tahu kalau aku bisa saja dipanggil tiba-tiba untuk menangani pasien."


Zareena mengangguk. "Kau tidak punya pacar?"


"Kalau aku punya, aku tidak mungkin datang kemari," jawab Chris.


"Benar juga."

__ADS_1


Keduanya tertawa bersama. Mereka saling bertukar nomor telepon. Berjanji untuk saling menghabiskan waktu bersama jika punya waktu luang. Tapi, Apa Zareena menerima perjodohan ini?


Bersambung


__ADS_2