
"Kau yakin ini rumahnya?" Tristan bertanya untuk memastikan lagi jika mereka telah sampai di kediaman Marta, bibi dari Colin.
"Pamanku tidak mungkin salah memberi alamat. Ini memang rumah dari bibi Colin. Ayo, kita turun dari mobil dan temui kekasihmu itu, Teman." Miles menepuk pundak Tristan. Ketika ia hendak turun dari mobil, Tristan meraih tangannya. "Ada apa?"
"Tunggu di sini. Ada yang keluar." Tristan menunjuk seorang pemuda yang keluar dari rumah, lalu berjalan menuju pintu pagar yang hanya setinggi dada pria dewasa. Mata Tristan lekat memandang, lalu ia berdecak. "Bukannya itu pria semalam?"
Miles pun melihatnya. "Iya, itu pria semalam yang bersama Zareena."
"Siapa dia? Pamanmu tidak memberitahu seluk beluk bibi Colin?" Tristan menoleh pada sahabatnya itu.
"Kau cuma menyuruhku mencari tahu kerabat Colin, bukan mencari tahu seluk-beluk keluarga wanita yang bernama Marta."
"Ya, pasti pamanmu mendapat informasi si bibi Colin itu punya suami dan anak."
"Sebentar, aku lihat lagi berkasnya." Miles menjangkau tas ransel miliknya yang berada di kursi belakang.
"Sudahlah, kita tinggal tanya saja sama bibi Colin itu. Lihat, pria itu sudah pergi dengan sepeda motornya."
__ADS_1
"Kau ini!" Miles berdecak, tadi saja Tristan menyuruhnya mencari tahu, dan sekarang pria itu juga yang mencegahnya.
Keduanya keluar dari mobil. Tristan berjalan lebih dulu dengan Miles yang mengekor di belakang. Lonceng besi di tekan pada pintu sebanyak dua kali oleh Tristan. Sementara Miles mencoba melihat area dalam dari balik jendela kaca.
"Permisi!" seru Tristan.
"Wanita itu datang," kata Miles setelah melihat seorang wanita melangkah menuju depan rumah.
Pintu terbuka. Menampilkan Marta yang heran akan dua pria yang tidak ia kenal. "Siapa kalian?Apa kalian berdua teman Brian?"
"Pria yang keluar dari rumahmu tadi, Brian namanya?" Miles bertanya.
Tristan tersenyum. "Jangan takut, Nyonya. Kenalkan, aku Tristan dan ini sahabatku, Miles."
"Halo, aku Miles."
"Kalian mencari siapa?" Marta bertanya sekali lagi.
__ADS_1
"Aku kekasih Zareena. Kami sedikit bertengkar dan dia lari bersama Colin. Aku tahu dia kemari karena Colin pernah cerita jika dia punya bibi yang tinggal di sini."
Miles terperangah atas kata-kata yang Tristan ucapkan. Sungguh di luar dugaan, sahabatnya itu begitu pandai membuat alasan. "Ya, itu benar." Miles membenarkan.
"Zareena tidak tinggal di sini. Dia hanya menginap satu hari di rumahku, lalu ia menyewa rumah Tuan Smith," jawab Marta.
"Bisa kau beritahu aku alamatnya." Tristan berharap sekali Marta mau mengatakannya.
"Sayangnya, Zareena juga pasti tidak ada di rumah. Kudengar dari Brian, dia mendapat pekerjaan di toko roti De Belgiam."
"Tidak apa-apa. Aku akan menemuinya di sana. Terima kasih sudah memberitahu kami." Tristan mengucapkannya dengan tulus. "Senang bicara denganmu, Nyonya."
Marta mengangguk, lalu menjawab ucapan Tristan. "Sama-sama. Senang bicara denganmu juga."
Miles dan Tristan undur diri. Kemudian tanpa membuang waktu lagi, Tristan langsung melajukan mobil menuju toko roti yang disebutkan oleh Marta tadi.
"Del Balgiam." Tristan mengulang nama toko roti itu. "Miles, pasang matamu dengan benar. Cari nama toko itu. Pasti tokonya tidak jauh dari pasar."
__ADS_1
"Mataku sudah benar terletak di sini." Miles berkata sembari menunjuk dua matanya. "Memangnya aku harus memasangnya di mana lagi?"
Bersambung