
Siulan Miles menarik perhatian karyawan perusahaan Tristan. Setelah diizinkan masuk, pria itu dengan leluasa mencari perhatian pada gadis cantik yang juga tebar pesona kepadanya.
"Hai, Manis. Kau punya waktu malam ini?" Miles mengeluarkan ponsel. Memberikannya kepada gadis berambut pirang. "Tuliskan nomormu di sini. Malam ini, kita akan bersenang-senang."
"Kau bisa mendapatkanku malam ini."
Miles bersorak senang. "Aku tidak sabar untuk itu. Tunggu aku nanti malam ...." Miles melihat nama yang tertera di layar setelah wanita itu memberikan telepon genggam miliknya. "Esme ...."
"Ya, kutunggu kau datang, Sayang."
"Pasti," ucap Miles seraya mengedipkan mata, lalu berjalan lagi menuju lift khusus tamu CEO.
Deringan telepon terdengar, Miles berdecak ketika melihat nama yang tertera pada layar teleponnya. Ia menggeser tombol hijau, lalu mendekatkannya ke daun telinga.
"Aku sedang berada dalam lift. Kau ini tidak sabaran."
"Kau yang tidak muncul. Sedari tadi kau bilang sudah dalam lift, dan sekarang kau mengatakannya lagi. Kau tidak terjebak di dalam sana, kan?" suara Tristan terdengar kesal dari balik telepon.
Miles yang enggan meladeni temannya, lekas memutus sambungan telepon itu. Ia sudah berada dalam lift, dan tengah menuju ruangan pria itu. Tristan saja yang tidak sabaran menunggu.
Sampai di lantai ruangan itu, Miles disambut oleh sekretaris. Cantik dan itu sesuai dengan seleranya. Senyum manis tersungging di bibir, dan Miles siap untuk melancarkan serangan mematikan.
__ADS_1
"Namaku Miles," ucapnya seraya mengulurkan tangan.
"Kristin, Tuan. Saya sekretaris kedua Tuan Tristan."
"Nama yang cantik." Miles memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah. "Sesuai orangnya. Kau singel atau doubel?"
Kristin tertawa kecil. "Aku singel."
"Pas sekali. Aku juga sendiri. Kau punya waktu malam ini?"
Suara deheman mengagetkan Kristin dan Miles. Tristan berkacak pinggang di depan pintu ruangan sembari melihat pemandangan sahabatnya yang merayu sang sekretaris.
"Kris, kau lupa apa yang kusuruh?" tegur Tristan.
"Lanjutkan pekerjaanmu, dan kau Miles, cepatlah kemari."
"Kau seperti bos saja," gerutu Miles sembari berjalan menghampiri sahabatnya.
"Aku memang seorang bos. Sudah dapat apa yang kuminta?" Tristan bicara seraya mengenyakkan diri di sofa. Disusul oleh Miles yang duduk di sebelahnya.
Miles meletakkan berkas di meja. "Zareena terlihat di halte antar kota dua hari yang lalu. Dia bersama seorang wanita menumpang bus menuju South Lakeland. Kurasa itu Colin."
__ADS_1
"Apa dia ke daerah Cumbria?" Tristan menebak.
Miles mengangguk. "Sopir bus itu mengantar mereka ke sana. Pamanku juga melacak keluarga Colin. Wanita itu punya bibi yang bernama Marta yang tinggal di desa Hawkshead, Lake Distrik."
Tristan tersenyum. "Dia berada di sana rupanya. Aku akan menemuinya kalau begitu."
"Bayaran untuk pamanku jangan kau lupakan." Miles mencoba mengingatkan.
Tristan bangun dari duduknya, melangkah pada meja kerja mengambil ponsel. "Aku transfer ke rekeningmu saja. Ucapkan terima kasih untuknya."
"Kau ingin sendirian ke sana?"
"Kau mau ikut?"
Miles berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Boleh juga idemu. Setidaknya kau tidak akan menjadi kuda liar yang kehilangan arah di sana."
"Hei, apa maksudmu?"
Miles mengedikan bahu. "Kau pikir Zareena akan berlari ke pelukanmu jika kau bertemu dengannya? Kurasa sekarang dia tengah bersenang-senang bersama seorang pria. Kau tahu, bila wanita patah hati, maka ia akan melampiaskannya kepada pria lain."
"Tidak mungkin!" Tristan terlihat marah mendengarnya.
__ADS_1
Bersambung