My Hot Baby

My Hot Baby
Tidak Ragu


__ADS_3

Wajah Zareena ditekuk lantaran Tristan malah tertidur pulas di atas kasur empuk setelah pergulatan panas yang terjadi pada mereka berdua.


Pria itu berjanji untuk membawanya berjemur di pantai, tetapi rasa lelah menghantui dan membuat Tristan terlupa akan janji yang tadi pagi diucapkannya.


Bahkan, pria itu tertidur dengan tidak mengenakan apa pun dan belum membersihkan diri dari sisa pertempuran tadi.


Satu botol kecil berisi pil kontrasepsi serta dua kotak pengaman tergeletak begitu saja di meja. Tristan tidak mengunakan pelindung sama sekali, dan entah pria itu lupa atau memang sengaja tidak mau memakainya.


Sementara Zareena juga belum menelan pil pencegah kehamilan. Ia terlupa akan benda yang disiapkan sejak awal itu. Menurut perhitungannya, ia masih belum berada di masa subur.


"Tristan!" seru Zareena.


Sama sekali tidak ada pergerakan. Zareena bangkit dari duduknya, menghampiri pria yang tengah nyamannya memeluk bantal. Zareena naik saja ke atas tubuh Tristan. Membiarkan pria itu merasa terbebani oleh kehadirannya.


Tristan mengeliat, tetapi Zareena malah menggerakkan tubuhnya naik turun, seperti saat mereka berada di tepi kolam renang.


"Sayang, kau berat," ucap Tristan.


Zareena berhenti memompa tubuhnya. "Tadi kau tidak merasa berat saat aku memompa tubuhmu."


"Ini beda, Sayang," kata Tristan. "Biarkan aku mengubah posisiku."


"Aku tidak mau melakukan itu lagi."


"Kau tidak suka tidur denganku?" Dengan tenaganya, Tristan menjatuhkan Zareena, lalu langsung membalik keadaan. Kini giliran Tristan yang menindih wanita itu. "Kau serius tidak menikmati permainan kita?"


"Bukan itu. Aku sangat suka akan dirimu. Tapi aku ingin kita jalan-jalan. Kau membawaku liburan bukan hanya untuk meniduriku, kan?" tanya Zareena.

__ADS_1


Tristan tertawa. "Apa yang kau tanyakan ini? Tentu saja tidak, Sayang. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu saja. Sekarang kau bersiap, malam ini kita akan bermalam di yacht.


"Kau telah menyiapkan semuanya?" tanya Zareena.


"Tentu saja. Malam ini sampai besok kita akan berada di kapal."


"Kau bersihkan dirimu dulu."


"Tubuh ini telah bercampur pada bau tubuhmu. Biarkan saja aku menikmatinya," kata Tristan.


"Mandi dulu," ucap Zareena yang mendorong tubuh pria itu.


"Ya, baiklah, aku akan pergi mandi. Kau bersiaplah sekarang."


Tristan turun dari tempat tidur tanpa malu memperlihatkan dirinya yang polos tanpa sehelai benang pun. Namun, ekor matanya tanpa sengaja menangkap botol obat.


"Aku akan meminumnya."


"Kau boleh tidak meminumnya," kata Tristan.


"Kenapa? Kau ingin aku hamil?"


"Sebenarnya aku belum siap memiliki anak, tapi kalau kau menginginkannya itu tidak apa-apa. Kita bisa tinggal bersama, kan?"


"Kau ingin menikahiku?" tanya Zareena.


"Kita bisa hidup bersama, Zaree."

__ADS_1


"Orang tuaku akan mengusirku jika hamil tanpa menikah lebih dulu," ucap Zareena.


"Aku bersedia saja kalau kau ingin hamil."


"Aku tidak menginginkannya untuk saat ini."


Tristan tersenyum. "Keputusanmu tepat."


Kemudian berlalu masuk kamar mandi. Zareena merasakan sedikit nyeri pada hatinya. Ia memang menyukai Tristan, dan bila pria itu mengajaknya untuk menikah, maka Zareena akan mengiakan.


Namun, Tristan sudah mengatakan tidak ingin menikah dan hubungan mereka saat ini bukanlah sepasang kekasih, melainkan teman yang saling suka dalam hal memuaskan.


Zareena turun dari tempat tidur, berjalan mengambil botol obat yang hendak ia minum, tetapi enggan. Mendengar ucapan Tristan tadi, Zareena tidak ragu untuk menelan satu butil pil itu.


Bersambung


Zareena



Tristan



Chris


__ADS_1


__ADS_2