My Hot Baby

My Hot Baby
Makan Malam


__ADS_3

Zareena mempersilakan seseorang di luar sana untuk masuk ke dalam. Pelayan wanita yang datang menjemputnya untuk makan malam. Zareena sudah mengenakan gaun malam dengan bagian punggung yang terbuka dan rambut yang ia sanggul ke atas.


"Tuan Tristan sudah menunggu, Nona," ucap pelayan itu.


Zareena tersenyum. "Sepertinya dia menyiapkan makan malam yang spesial malam ini."


"Tentu. Karena Anda adalah wanita istimewa," sahut wanita itu yang usianya tidak jauh berbeda dari Zareena.


"Apa dia bekerja keras sore tadi?"


Pelayan itu tersenyum. "Silakan Nona tanya sendiri pada Tuan," ucapnya ketika sudah memenuhi tugas mengantar Zareena ke ruang makan.


Tristan tersenyum memandang sang wanita yang begitu memesonanya. Ia berjalan kemudian mendaratkan kecupan ringan di pipi Zareena.


"Silakan duduk," ucapnya sembari menarik kursi.


"Terima kasih," balas Zareena yang langsung duduk.


Tristan meraih botol warna hijau, membuka tutupnya kemudian menuangkan air berwarna putih ke gelas ramping berkaki tinggi.


"Untukmu, Sayang," ucap Tristan seraya memberi minumam itu pada Zareena.


Gelas berdenting, lalu keduanya menyesap sampanye itu sedikit demi sedikit. Zareena menyodorkan kembali gelasnya dan Tristan kembali menuang air itu.


"Sampanye yang enak," kata Zareena.

__ADS_1


"Laurent Priute," jawab Tristan yang menyebut merek minumannya.


"Pantas saja. Aku sangat menyukainya."


"Isi perutmu dulu setelah itu kita bisa kembali menikmatinya."


Malam ini Tristan yang menjadi pelayan bagi Zareena. Ia betul-betul merasa diperhatikan oleh pria itu. Begitu dimanjakan seolah Zareena merasakan kalau ia adalah wanita yang paling dicintai.


"Kokimu sangat pandai memasak," puji Zareena.


"Tapi aku ingin sekali mencoba masakanmu. Cokelat yang tempo hari kau berikan sangat enak," kata Tristan.


"Aku akan senang menunjukkan keahlianku."


"Aku tidak sabar untuk itu."


Selesai makan malam, Tristan membawa Zareena ruang musik. Ada piano, pemutar musik dengan piring hitam serta ada gitar juga di sana.


"Kau bisa memainkan semua alat musik ini ?" tanya Zareena.


"Sedikit," jawab Tristan yang melangkah ke kotak musik, lalu menyalankannya. Lagu klasik dari piring hitam mengalun. Tristan mengulurkan tangannya dan Zareena menyambutnya. Keduanya berdansa bersama.


"Kau sangat cantik," puji Tristan.


"Kau begitu berbeda setelah aku mengenalmu cukup lama."

__ADS_1


"Kau menyukaiku?" Tristan mengecup tulang selangka Zareena.


"Ya, aku menyukaimu."


Pelukan itu terasa erat. Membuat Zareena menengadah, memberi peluang bagi Tristan untuk menjelajahi sepanjang tulang jenjang wanita itu.


Tristan menyentuh dagu, lalu mendaratkan kecupan di bibir. Zareena membuka, membiarkan Tristan masuk mengobrak-abrik mulutnya.


"Kau pria yang panas," bisik Zareena seraya menggigit daun telinga Tristan.


"Dan kau begitu menggodaku," balas Tristan dengan mendorong Zareena ke dinding ruangan.


Tristan menurunkan gaun dari tubuh Zareena, mengecup seluruh bagian depan tubuh gadis itu. Ia tidak dapat menahan segala hasrat yang tengah terbakar saat ini.


Zareena menjerit pelan ketika Tristan membasahi ujung kelembutannya dengan lidah yang basah. Memutar-mutarnya kemudian mencucupnya kuat.


Tubuh Zareena mengeliat di dinding. Tatanan rambutnya telah kusut. Gaunnya sudah melorot sampai setengah badan dan Tristan menikmati dua kelembutan seperti bayi yang rakus.


"Kau begitu indah, Sayang," ucap Tristan.


Zareena semakin merapatkan wajah Tristan di antara belahan padat miliknya. Mengapit wajah pria itu hingga memerah.


"Nikmati dia, Sayang," ucap Zareena.


"Terima kasih sudah mengizinkanku," kata Tristan.

__ADS_1


Secara bergantian Tristan mempermainkan dua buah kelembutan milik Zareena. Ia semakin senang saat suara nikmat keluar dari bibir gadis itu. Membuat Zareena semakin tersiksa, memaksanya agar wanita itu menuntut hal yang lebih dalam lagi.


Bersambung


__ADS_2