
Masih berharap Tristan menelepon atau mengirim sebuah pesan, seperti apa yang diucapkan oleh pemuda itu saat di makam. Nyatanya, tidak ada tanda pesan masuk sama sekali atau telepon dari pria itu.
Zareena masih mengingat perkataan Tristan pada saat mereka berada di restoran. Pemuda itu mengatakan akan sibuk selama dua hari, dan mungkin tidak akan bisa menghubunginya.
Hari pertama Zareena tahu yang dimaksudkan adalah berkunjung ke makam mendiang Lily, lalu hari kedua pasti Tristan meratapi atau mengenang masa-masa indah mereka.
Hati wanita memang rapuh. Secara fisik, mungkin Zareena kuat. Ia seorang atlet Judo. Namun, bicara mengenai perasaan, tetap saja Zareena seperti wanita pada umumnya. Sakit hati dapat ia rasakan seperti sekarang.
Memang Tristan saat ini meratapi kepergian kekasihnya. Dalam kamarnya, ia memandangi potret Lily Adrige. Perasaan bersalah terus saja menghampirinya. Tristan menyesal karena ia tidak tahu apa-apa tentang penyakit Lily.
Sebagai kekasih, ia merasa tidak perhatian. Tidak peka dengan apa yang terjadi. Tristan juga menyayangkan mengapa waktu itu ia tidak curiga atas penolakan Lily yang tidak ingin tinggal bersama.
Ada satu rahasia yang disembunyikan, dan itu merenggut kebahagiannya. Tristan merebahkan diri sembari mendekap potret Lily. Sampai kapan pun, wanita itu akan tetap berada dalam hatinya.
Besok paginya, Tristan kembali pada realita kehidupan. Setiap tahun selama dua hari, ia akan bersedih. Tapi setelah itu, ia harus bangun untuk melanjutkan hidup.
__ADS_1
Sebuah pesan ucapan "selamat pagi" dikirim pada Zareena. Tawaran makan siang juga Tristan berikan dan ia menunggu balasan dari gadis itu.
Sampai selesai sarapan dan Tristan yang siap untuk ke kantor, balasan dari Zareena tidak ia dapatkan, padahal pesan itu telah terbaca. Sembari mengendarai mobil, Tristan mencoba menelepon.
Syukurlah Zareena mengangkatnya. Suara dari seberang sana membuat suasana hati Tristan membaik.
"Kau tidak membalas pesanku," ucap Tristan.
"Oh, maaf, Tris. Aku sedang sibuk saat ini. Kau bisa menghubungiku nanti."
"Maaf, aku tidak bisa."
Sambungan telepon itu diputus sepihak. Tristan mengumpat. "Ada apa dengannya? Sibuk apa, sih, dia?"
Gerutuan itu berakhir ketika Tristan sampai di kantor. Ia akan memberi kesempatan pada Zareena siang ini, dan mungkin benar wanitanya itu memang sibuk.
__ADS_1
Namun, pada saat jam makan siang sampai sore hari ketika Tristan pulang, Zareena masih tidak ada kabar. Kegiatan menelepon sebelum tidur pun, absen untuk satu malam.
Rupanya bukan hanya sehari. Besoknya, Tristan tidak dapat menghubungi Zareena. Nomor telepon wanita itu tidak aktif. Kesal sudah pasti, apalagi Tristan sangat merindukannya.
"Dia ke mana, sih?" gerutu Tristan. "Apa aku ke rumah Calmington saja?"
Sayangnya Valdo telah pindah rumah. Lalu, jika Tristan ke rumah Zareena, alasan apa yang harus ia gunakan? Mengatakan kepada Mary dan Henry kalau ia ingin bertemu anak gadisnya? Tristan mengurungkan niat itu. Mengutarakan alasan tersebut bukan pikiran yang baik.
"Zareena ini sibuk apa, sih?" Tristan sungguh kesal dibuatnya.
Ia menjentikkan jari. Tidak menerima telepon dari Zareena telah membuat otaknya buntu. Tristan bisa mengunjungi Zareena di tempat latihan Judo atau di gedung wanita itu kursus memasak.
Tentu saja Zareena mengabaikan Tristan karena ia telah menerima Chris sebagai bagian dari hidupnya. Ia mempersiapkan pertunangan yang sebentar lagi akan diselenggarakan, lalu menghabiskan waktu bersama Chris agar hubungan mereka semakin dekat.
Bersambung
__ADS_1