
Tristan menjatuhkan diri di atas tubuh Zareena, membuat wanita itu tertawa juga merasa berat tertimpa bobot tubuh yang diperkirakan sekitar 70 sampai 82 kilogram. Tristan juga bertubuh tinggi menjulang seperti model.
"Kau berat," kata Zareena, yang berusaha untuk menyingkirkan tubuh pria itu ke sisi samping.
"Cepat bangun dan pergi mandi," ucap Tristan.
"Kau sudah siapkan air hangatnya?"
"Sudah, dan air dalam bathtub itu penuh dengan busa. Aku juga memasukkan aromatherapi di dalamnya. Ayo, kita mandi bersama," bujuk Tristan.
"Aku malas membuka bajuku."
"Izinkan aku membukanya."
Zareena tertawa kecil. "Aku pasrah saja kalau begitu."
Tristan mengecup bibir itu sekilas, lalu melucuti satu per satu pakaian yang masih melekat pada tubuh Zareena. Sesekali Tristan mengecup bagian yang tadi malam begitu menggodanya. Zareena bergumam tidak jelas ketika Tristan menarik putik yang mencuat itu.
"Kau semau hati menariknya," kata Zareena.
Tristan hanya tersenyum, lalu membenamkan wajahnya di antara belahan padat itu. Zareena tertawa saking gelinya, tanpa sadar jemarinya sudah tertaut di antara helaian rambut pria itu.
"Kita harus membersihkan diri dulu," ucap Zareena.
__ADS_1
Tristan mengangguk, lalu menarik tangan Zareena sampai wanita itu bangun dari rebahannya. Tristan menggendongnya, merasakan rambut halus menyentuh perutnya ketika Zareena melingkarkan kaki di pinggang.
"Aku merasa bebas," ucap Tristan sembari menggeser pintu kamar mandi.
"Apa selama ini kau terkekang?" tanya Zareena.
Perlahan Tristan menurunkan Zareena. "Tidak, di sini aku merasa bebas bersamamu."
Tristan membuka baju handuk yang ia kenakan, meletakkannya di atas meja marmer wastafel. Ia masuk lebih dulu ke dalam bathtub yang sudah terisi air busa, dan membuat air itu meluber. Zareena menyusulnya masuk, menghadap pria itu. Tristan sungguh pintar memilih kamar hotel. Kamar mandinya begitu besar dilengkapi bathtub yang muat untuk dua orang.
"Di mana gadis penggoda itu?" kata Tristan.
"Aku tidak menggodamu. Kau menelepon di saat yang tidak tepat," sahut Zareena.
Zareena menghadap belakang, mundur sedikit agar semakin dekat dengan Tristan. Ia mendongak ketika air hangat itu menyentuh pundaknya, lalu tangan Tristan yang mengusap punggung itu dengan lembut.
Satu kecupan Zareena dapatkan di bahunya, Ia tersenyum, menoleh pada Tristan yang disambut dengan kecupan di bibir.
"Aku menahannya sampai kita bisa di sini," bisik Tristan sembari memagut daun telinga Zareena, dan membuat wanita itu merasa geli.
"Aku juga merindukan sentuhanmu. Bisakah kali ini kita melakukan hal itu?"
"Kau ingin aku memasukimu?"
__ADS_1
Zareena mengangguk, lalu ia menggigit bibir tatkala tangan Tristan mencengkeram lembut bagian tubuhnya. Seperti pijatan, tetapi membuat bangkit gairah.
"Kau suka aku menyentuhmu di mana?" bisik Tristan lagi.
"Semuanya. Aku ingin kau menyentuhku."
"Kau ingin aku bermain di sini?" Tristan menurunkan jemarinya ke bawah.
"Ya, Sayang," jawab Zareena.
Tristan tersenyum, ia mengusap bagian dalam kaki milik Zareena. Mengusapnya, lalu memasukkan satu jari ke dalam sana. Zareena menggigit bibir, menahan suaranya agar tidak keluar.
"Jangan menahannya," ucap Tristan.
Zareena menoleh, menangkup pipi Tristan, lalu mengecup bibir itu. Ia bersandar di tubuh pria itu, semakin melebarkan kakinya agat Tristan dapat leluasa masuk ke dalam sana.
"Lebih cepat, Sayang," pinta Zareena.
Tristan kembali mengecup bibir itu. "Seperti yang kau inginkan."
Jeritan itu keluar begitu saja, padahal Zareena telah berusaha untuk membungkam dirinya. Tapi, ini nikmat dari yang dibayangkan. Tristan begitu hebat membuatnya bergetar. Ia pasrah, ia takluk di bawah kendali pria itu.
Bersambung
__ADS_1