
Zareena keluar dari mobil ketika melihat Valdo dan Tristan yang berjalan keluar dari makam. Ia menyunggingkan senyum, menghampiri pria itu, lalu memeluknya. Pelukan sebagai seorang teman yang turut berduka cita.
"Aku akan meneleponmu nanti," bisik Tristan.
Zareena menarik dirinya. "Kau yang tabah, Tris."
Tristan mengangguk. "Iya, terima kasih."
Sungguh aneh, mereka berdua terlihat sangat tidak akrab, padahal keduanya telah mengetahui sisi terdalam masing-masing.
"Kami pulang," ucap Valdo.
Tristan menyempatkan diri membuka pintu mobil untuk Zareena. Perlakuan itu mendapat ucapan terima kasih tulus yang Tristan dengar.
"Sampai jumpa nanti," kata Valdo.
"Ya ...."
Tristan melambaikan tangan, lalu mobil melaju keluar jalan pemakaman. Ia masih memperhatikan kendaraan sedan warna hitam itu melaju sampai menghilang dari pandangannya.
"Zareena, dia tidak berpikir-pikir macam-macan, kan?" Tristan menghela. "Aku akan meneleponnya nanti."
Kemudian masuk mobil, lalu berlalu dari sana. Sepanjang perjalanan, Valdo heran dengan diamnya sang adik. Zareena yang cerewet saat bersamanya, malah diam saja. Tidak mungkin kalau adiknya itu kerasukan roh halus saat di sana.
__ADS_1
"Zareena!" panggil Valdo dengan sedikit keras.
"Aku tidak tuli."
"Kau diam saja. Kau ini kenapa?"
"Aku baik-baik saja. Kenapa kau cerewet sekali?" Zareena kesal karena asik melamun malah ditegur.
"Kau aneh sekali. Biasa mulutmu ini tidak bisa diam. Ada saja yang kau keluhkan."
"Hanya tidak percaya kalau Tristan bisa setia terhadap pasangannya. Dia itu, kan, playboy."
"Bukan playboy, tapi seorang pria dewasa butuh penyaluran hasrat. Dia membutuhkan wanita di tempat tidur untuk keperluannya itu. Termasuk aku juga," tutur Valdo tanpa malu.
Zareena menutup wajah, lalu menangis. Valdo segera menepikan mobil karena adiknya yang tiba-tiba bersedih.
"Ada apa?"
"Aku hanya ingin menangis." Zareena mengusap air mata, tetapi tetap saja lelehan itu tidak berhenti keluar dari kelopak matanya.
"Kau sedih tentang nasib Tristan?" tanya Valdo.
Zareena mengangguk. Anggap saja seperti itu. Namun nyatanya, Zareena sendiri tidak tahu kenapa ia ingin menangis. Apakah karena Tristan yang tidak bisa melupakan mantannya atau karena perkataan Valdo mengenai penyalur hasrat.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi. Hapus air matamu. Jika mama melihat matamu sembab, aku pasti yang disalahkan," gerutu Valdo.
Zareena mengusap lelehan air matanya. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Antar aku pulang, Valdo."
Sang kakak mengangguk, lalu kembali mengendarai mobil menuju kediaman orang tua mereka.
"Aku langsung saja." Zareena langsung keluar ketika mobil baru berhenti di depan gerbang rumah.
Valdo mendecakkan lidah melihat adiknya yang berlari masuk. Ia menggeleng, kemudian berlalu dari sana. Valdo tidak sempat untuk singgah karena harus balik ke kantor.
"Zaree, kau kenapa?" tegur Mary, yang melihat putrinya berjalan cepat menuju anak tangga.
"Jangan mengangguku, Mama. Aku butuh sendirian."
"Kau bertengkar dengan Valdo?"
Zareena mengabaikan pertanyaan ibunya. Ia lekas masuk kamar, lalu mengunci pintu. Zareena langsung menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
"Aku tidak mungkin punya perasaan pada Tristan, kan?"
Zareena selalu menyangkal hal itu. Namun buktinya, ia telah jatuh cinta pada sosok Tristan.
__ADS_1
Bersambung