
Zareena keluar dari toko roti dengan diikuti oleh Tristan. Pria itu terus saja mengekor ke mana langkah Zareena pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Zareena berhenti melangkah, ia memutar tubuh menghadap pria itu. "Bicara saja."
"Aku minta maaf padamu."
"Kalau aku sudah memaafkanmu, kau akan pergi, kan?"
"Aku akan tetap di sini sampai kau bersedia pulang bersamaku."
"Jangan harap untuk itu!" Zareena kembali melangkah, dan Tristan tetap mengikutinya dari belakang.
"Aku sudah minta maaf pada Chris, Valdo, juga orang tuamu. Aku bersedia memberi pernyataan jika aku yang mengacaukan pertunanganmu." Tristan mencoba memberitahu segalanya.
Zareena berhenti lagi melangkah, lalu menoleh pada Tristan. "Dengan begitu kau akan semakin membuat semua orang tahu. Kau ingin aku dipermalukan lagi?"
"Kalau begitu, kita menikah saja. Aku mencintaimu, Zareena. Aku punya perasaan padamu."
Zareena tersenyum sinis, memutar tubuh sepenuhnya menghadap Tristan. "Drama apalagi ini? Kau ingin balas dendam padaku karena telah menghancurkan kenanganmu bersama Lily?"
__ADS_1
"Seharusnya barang-barang itu memang harus dihancurkan. Aku berterima kasih padamu, Zaree. Selama ini aku terbelenggu pada rasa bersalah. Selama menjalin hubungan bersama Lily, aku tidak tahu apa yang dideritanya. Sebab itulah, aku selalu menyalahkan diriku."
Tristan mengungkapkan perasaan yang ia rasakan pada Lily selama ini. Tristan juga takut mencintai, karena setiap orang yang cintai, selalu saja pergi dari kehidupannya.
"Aku menyadari perasaaku, Zaree. Kau wanita yang selalu ada dalam pikiranku."
"Aku tidak mempan akan bualan darimu. Kata-kata manismu itu tidak bisa meluluhkan hatiku," ucap Zareena.
"Ayo, kita menikah. Bila perlu sekarang juga agar kau percaya kalau aku bersungguh-sungguh."
"Kau gila!"
"Zaree!" panggil Tristan.
Zareena meronta, tetapi Tristan berhasil menghimpit kakinya agar ia tidak bisa menendang. Menekan tubuh agar tidak bergerak, lalu menggenggam kedua tangannya agar tidak bisa memukul.
Tristan menarik diri. Ia memandang Zareena lekat. "Aku ingin menghabisi pria yang menyentuhmu. Sekali lagi, Zareena. Jika kau membiarkan pria lain menyentuhmu, maka aku akan berbuat hal yang lebih memalukan lagi."
"Kau tidak berhak. Aku cukup untuk bersenang-senang di sini. Pria yang bersamaku lebih baik dari dirimu!" Zareena kembali berkata bohong untuk menyakiti Tristan.
__ADS_1
"Bibirmu begitu manis sampai aku tidak tahan lagi untuk terus menyentuhnya." Tristan kembali mengecup bibir Zareena. Mendesak dengan lidahnya agar wanita itu membuka bibir. Tidak berhasil dengan cara itu, Tristan sedikit menyakitinya. Memberi gigitan kecil sampai Zareena pasrah lidah itu masuk sepenuhnya.
"Aku percaya padamu. Kau tidak mungkin membiarkan pria lain menyentuhmu. Kau tidak bisa berpaling dariku, Zareena." Tristan berbisik seraya memagut daun telinga wanita itu.
"Lepaskan aku, Tristan."
"Tidak akan."
"Lepaskan aku." Zareena menitikkan air mata.
Melihat itu, Tristan menarik diri. "Sayang, jangan menangis. Aku minta maaf."
Zareena mendorong tubuh Tristan. "Aku membencimu, Tris. Enyahlah dari hadapanku!"
Zareena langsung berlari menjauh. Tristan terpaku, ia tidak ingin mengejar karena Zareena sudah pasti akan marah.
"Sialan!" Zareena menghapus air matanya. "Tidak sia-sia aku menitikkan air mata demi lepas darinya. Tristan sialan! Enak saja datang dan memintaku menikah. Tidak akan semudah itu." Zareena kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah.
"Wah! Apa ini? Zareena mempermainkan Tristan."
__ADS_1
Ketika Miles ingin menyapa wanita itu, ia tidak sengaja mendengar Zareena bergumam. Padahal posisinya tepat di belakang, tetapi Zareena tidak menyadarinya.
Bersambung