
"Kau serius?" Brian malah mempertanyakan itu.
"Kau kira cuma Zareena yang hanya ahli dalam atlit Judo? Temanku yang lain juga banyak. Kau tenang saja. Saat Zareena dan Tristan membuat pesta, kau datang saja." Kembali Miles mengucapkan kata-kata merayu Brian. "Lagipula, menikah itu malah membuat dirimu akan diatur oleh para istri. Tristan sudah membuktikan itu. Dalam beberapa jam saja dia dibuat bangkrut oleh Zareena."
Tristan berdeham. "Kau ini terlalu mengada-ngada."
"Kau juga merasakannya, Bung. Kau tidak bisa lagi ke kelab malam dan berpesta bersama para wanita cantik."
"Siapa bilang aku tidak bisa?" tanya Tristan.
Giliran Zareena yang bersuara. "Apa? Kau ingin ke kelab malam?"
"Maksudku kita bisa pergi bersama."
"Sudah menikah kau ingin ke sana?" Zareena kembali bertanya pada suaminya sembari menaikkan sebelah alis.
"Tentu saja tidak, Sayang. Aku sudah cukup puas bermain. Lebih baik menghabiskan waktu bersama istri, juga anak kita nanti."
Miles menyikut lengan Brian, lalu berbisik, "Sudah kubilang, kan? Dalam sekejap dunia pernikahan bisa mengubah seorang pria."
"Aku ingin bergabung bersama Bibi Marta dan lainnya." Zareena beringsut dari mejanya ke meja yang ditempati Marta.
Tristan menatap tajam Miles. "Kau juga akan merasakannya nanti."
__ADS_1
"Aku tidak akan berkomitmen."
Tristan mencebik. "Aku pernah mengatakan itu. Buktinya aku menikah sekarang."
"Selamat untukmu, Zareena." Marta mengucapkannya seraya mengecup pipi wanita itu.
"Zaree, kami ucapkan selamat untukmu." Giliran Nyonya Sarah yang mengatakan itu. "Dia pria yang tampan. Kau beruntung mendapatkannya."
"Aku yang beruntung mendapatnya." Tristan menyahut.
"Ya, itu benar. Tristan harus memohon pada Zaree," ucap Brian.
Yang lain tertawa mendengarnya. Tristan memang memohon pada istrinya agar diterima menjadi seorang suami.
"Kukira besok karena kami juga harus memberitahu orang tuaku."
Untuk kembali ke London, Zareena merasakan kegugupan. Ia sudah menikah tanpa memberitahu semuanya, dan ia juga sama sekali tidak menghubungi keluarganya. Tapi Zareena tidak peduli apakah Mary setuju atau tidak. Ia sudah menikah, dan Tristan adalah hidupnya saat ini.
Makan malam itu dilewati dengan tawa dan canda. Brian menerima Zareena yang bersama Tristan karena Memang dari awal Zareena mencintai pria itu.
Tinggal Tristan dan Zareena kembali ke London. Mengumumkan pada semua bahwa mereka telah menikah dan membuat pesta pernikahan.
"Sudah malam, sebaiknya kita pulang." Nyonya Sarah berucap. "Terima kasih, Zaree, Tristan atas jamuannya."
__ADS_1
"Kami yang harus berterima kasih." Tristan menyahut.
"Memang sudah malam, aku juga harus pulang." Marta beranjak dari duduknya.
"Terima kasih, Bibi." Zareena memeluk Marta, lalu Nyonya Sarah, setelah itu Emma serta lainnya.
"Zaree, selamat selagi lagi untukmu." Emma memberi hadiah berupa gantungan kunci yang terbuat dari tanah liat. "Semoga kau segera diberi keturunan."
"Oh, terima kasih. Ini sangat lucu. Aku akan menyimpannya." Zareena mendekap gantungan dengan hiasan bayi berselimut.
"Istriku akan secepatnya hamil." Tristan menyela. "Dalam satu bulan," ucapnya menambahkan.
"Ya, kau memang perkasa." Giliran Miles yang bersuara.
Tristan menoleh pada sahabatnya. "Kau diam saja. Sebaiknya kau antar para wanita cantik ini ke rumah mereka masing-masing."
"Baiklah, selama di sini aku akan jadi bawahanmu." Miles mengatakannya dengan sedikit kesal.
Brian menepuk pundak Miles. "Ayo, kita antar dulu para wanita cantik ini, lalu kau ikut bersamaku. Kita bisa bersenang-senang."
"Ide bagus. Sepertinya kau cocok jadi sahabatku."
Bersambung
__ADS_1