
Zareena beringsut duduk, membiarkan selimut turun dari tubuh polosnya. Ia menoleh ke samping, Tristan telah tertidur lelap setelah keduanya melakukan dua ronde pergulatan malam ini.
Ia melangkah tanpa alas kaki meraih tas bahu yang tergeletak di sofa. Tangannya mencari-cari botol obat warna putih yang memang seharusnya Zareena minum saat ini juga.
"Percuma membawa ini. Tristan sama sekali tidak mengunakannya." Zareena mendecakkan lidah saat mendapati pengaman yang ia pegang. Sekali lagi, Tristan tidak mengunakan benda itu, meski telah membawanya.
Botol kontrasepsi ia dapatkan dari sekian banyak barang pribadi yang Zareena bawa. Satu butir pil itu ia telan bersama air mineral botol yang berada di meja yang sama.
Sekali lagi Zareena memandang Tristan. Ia sendiri tidak tahu apa yang diinginkan dari pria itu. Jika dibilang suka, memang Zareena menyukainya, tetapi suka bukan berarti saling mencintai.
"Tristan, aku ingin kau tahu perasaanku saat ini. Aku menyukaimu. Aku benci melihatmu bersama wanita lain. Aku ingin kau terus berada di sisiku. Menurutmu, apa aku sungguh jatuh cinta padamu?" gumam Zareena, lalu ia menggeleng merasa bahwa apa yang ia katakan hanya omong kosong.
Zareena masih menyangkal kalau dirinya punya perasaan terhadap pria itu. Lebih dari sekadar teman kencan atau sahabat dari kakaknya. Zareena tahu jika dirinya telah merasakan cinta untuk Tristan.
Paginya setelah melewati sarapan pagi bersama, Zareena dan Tristan menyempatkan diri berenang di laut dangkal yang memang disarankan untuk para turis yang mengunjungi pulau Milos. Lalu, keduanya berjemur di bawah sinar mentari pagi.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
Ucapan Tristan, membuat Zareena memperhatikan pria itu. "Ke mana lagi?"
__ADS_1
"Sebuah rumah yang berada di Swiss."
"Kau punya rumah di sana?"
"Swiss sangat indah. Aku punya impian berdiam di sana. Di rumah yang telah aku siapkan."
"Kita akan ke sana?" Zareena sekali lagi ingin memastikan.
"Jika kau tidak keberatan. Kita bisa dua hari lagi di sini. Lalu, berkunjung ke Swiss, setelah itu pulang."
Zareena mengangguk tanda setuju. "Aku tidak keberatan. Jadwal kita bersama selama dua minggu."
Zareena bangun dari kursinya. Sementara Tristan beringsut duduk, memberi peluang untuk Zareena di dekatnya.
Satu kecupan di pundak Zareena dapatkan. Tristan dengan sengaja membuka tali penutup yang membungkus bagian depan tubuh wanitanya.
Ia kecup tengkuk leher belakang, menjalar sampai pada punggung. "Terima kasih untuk tadi malam."
"Buat apa?"
__ADS_1
"Kau bekerja keras. Aku suka itu."
"Kau menikmatinya?"
"Sangat, kau mulai terbiasa akan permainan ini," bisik Tristan sambil memagut daun telinga Zareena.
"Jangan di sini. Semua akan melihat kita."
Tristan tahu wanitanya begitu sempurna. Ia kembali mengikat tali baju renang yang Zareena kenakan. Satu hal yang Tristan perhatikan adalah, Zareena selalu memakai baju renang berwarna cerah. Pakaian minim tersebut begitu mengundangnya untuk menikmati tubuh gadis itu.
"Mereka tidak punya kesempatan melihat kita. Aku tidak akan membiarkan itu." Tristan meraih kain pantai yang terlampir di punggung kursi. Ia menutupi tubuh Zareena mengenakan kain itu.
"Padahal aku ingin menjemur tubuhku," protes Zareena.
"Kau sudah cukup cantik. Aku suka warna kulit putihmu."
Tanpa Zareena sadari, di sisi belahan negara lainnya, seorang pria bernama Chris tengah menantikannya. Menunggu telepon serta pesan darinya.
Bersambung
__ADS_1