My Hot Baby

My Hot Baby
Tunangan


__ADS_3

Pilihan jatuh pada gaun satin putih dengan potongan sabrina. Rambut di sanggul modern model twisted serta riasan tipis yang membuat wajah Zareena terlihat manis.


Ia siap untuk turun ke lantai bawah, menemui para tamu undangan. Menyapa mereka untuk sekadar basa-basi. Namun, Zareena juga gugup lantaran malam ini, ia secara resmi akan terikat pada pria bernama Chris.


Pintu kamar dibuka. Mary muncul bersama Henry yang rapi dalam balutan busana formal mereka. Zareena lekas bangkit dari duduknya. Menyunggingkan senyum manis seolah ia bahagia malam ini.


"Kau terlihat cantik, Sayang." Henry merentangkan kedua tangannya.


Zareena masuk dalam pelukan hangat sang ayah. "Terima kasih, Papa. Malam ini kau juga terlihat tampan."


Henry tertawa. "Papamu ini memang tampan. Itu sebabnya, Mamamu begitu tergila-gila padaku."


"Apa yang kau katakan ini, Henry. Kau-lah yang tergila-gila padaku." Mary menyela.


"Lihat, Sayang. Mamamu masih tidak mengaku."


Zareena tidak dapat menahan tawanya. "Jangan menggoda Mama lagi. Papa bisa tidur di kamar lain nantinya."

__ADS_1


"Sudah cukup kita bercanda. Ayo, Sayang. Kita turun ke lantai bawah. Chris dan keluarganya sudah tiba. Pertunangannya harus segera dilaksanakan," ucap Mary.


Zareena mengangguk, lalu mengulurkan tangan yang disambut oleh Henry dan Mary di sisi kiri kanan.


Satu per satu ketiganya menuruni anak tangga. Suara riuh tamu disertai alunan musik syahdu terdengar. Zareena mulai menyinggungkan senyum termanisnya.


Dari kejauhan sana, seorang pria dalam balutan jas hitam menunggu. Chris berjalan menghampiri calon istrinya yang tampil memukau.


Chris mengulurkan tangan. "Kau tampak cantik, Sayang."


Zareena menyambut uluran tangan itu. "Terima kasih. Kau juga tampak tampan."


Dentingan gelas membuat perhatian tertuju pada sosok Henry. Seorang pria memberi mikrofon kepada pria paruh baya itu.


"Malam ini aku sangat bahagia. Putriku satu-satunya akan bertunangan dengan seorang pria yang ia pilih. Tapi ini juga kesedihan bagiku. Zareena akan dimiliki oleh Chris."


Semua yang hadir bertepuk tangan. Zareena mendekat pada sang ayah, lalu memberi pelukan. "Aku tetap putrimu, Papa."

__ADS_1


"Kalian dengar, putriku membuatku terharu." Henry mengecup kening Zareena yang membuat tamu memberi tepuk tangan meriah padanya.


"Baiklah, aku tidak akan membuang waktu begitu lama. Bagaimana kalau kita lakukan saja acara tukar cincin ini?"


"Ya, itu yang sedari tadi kami harapkan." Valdo menyahut.


"Tunggu dulu!"


Setiap kepala menoleh ke belakang. Pria yang mengenakan jas biru laut menyesap minumannya dalam sekali teguk.


Tristan bangun dari duduknya. Berjalan menghampiri dua sejoli. Zareena menoleh pada Valdo, dan kakaknya itu cuma bisa menggelengkan kepala.


"Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum acara pertunangan ini berlangsung." Tristan meminta mikrofon pada Henry.


"Tris, kau ingin mengucapkan sesuatu?" Henry bertanya seraya menyerahkan mikrofon itu.


"Benar, Tuan Henry. Aku ingin mengatakan sesuatu." Tristan mencoba mikrofon itu sebelum bicara. Ia memandang Zareena dengan senyum. Tampak wajah wanita itu berubah pucat. "Malam ini kau begitu cantik, Zareena."

__ADS_1


Yang dipuji menyunggingkan senyum tidak enak. Rasa takut itu timbul bila Tristan sampai mengatakan hal yang tidak diinginkan. Zareena tidak memikirkan pertunangan ini, tetapi reputasi keluarga bisa saja tercoreng karena ulah pria itu.


Bersambung


__ADS_2