My Hot Baby

My Hot Baby
Tetap Di sini


__ADS_3

"Hidungku!"


"Maafkan aku, Tristan." Zareena langsung saja menutup pintu dan menguncinya.


Tristan yang melihat itu, lalu mengumpat. Ia mengedor pintu beberapa kali. "Zareena, aku terluka. Kau tega sekali."


"Aku minta maaf. Aku tidak sengaja, aku kira kau itu Brian." Zareena berseru dari daun pintu.


Tristan mengumpat lagi. "Brian, Brian lagi. Sekarang juga, aku akan menghabisinya. Kau akan lihat pria itu masuk rumah sakit."


"Kau gila?"


"Aku tidak peduli."


Zareena mendekatkan telinganya pada daun pintu, ia mendengar langkah sepatu Tristan yang telah pergi. "Aku harus hubungi Brian kalau begitu."


Ponsel yang dicari entah ke mana. Zareena harus membuang selimut untuk dapat menemukannya. Ia segera menelepon Brian, tetapi pria itu tidak mengangkatnya.


"Ke mana, sih, dia?" Zareena tampak kesal.


Lantas, ia meraih jaket, memakainya, lalu melangkah menuju pintu. Tristan harus segera dihentikan. Zareena tidak ingin adanya perkelahian antara keduanya.

__ADS_1


Zareena menarik pintu. Ia terperanjat kaget. "Kau masih di sini?"


"Kena kau!"


Zareena tidak dapat mengelak ketika Tristan langsung mendorongnya masuk. Menutup pintu, kemudian menguncinya.


"Kau tidak ingin bertanggung jawab. Lihat hidungku!" Tristan menunjuk hidungnya yang sedikit mengeluarkan noda merah. "Kau membuatnya patah."


"Aku tidak memukulmu terlalu kuat. Kau jangan mengada-ada," protes Zareena.


"Kau bisa lihat sendiri."


Zareena mendengkus, ia berjalan ke arah laci dapur, mengambil kotak obat pertolongan pertama. "Ambil ini dan obati lukamu. Lalu pergilah dari sini."


Zareena terperangah mendengarnya. "Karanganmu begitu bagus. Kau tahu dari mana aku tidak menyukai Chris. Kami bahkan menghabiskan waktu bersama."


"Tentu saja dari Chris. Aku bicara padanya."


Zareena melempar kotak obat itu yang langsung ditangkap oleh Tristan. "Pergi dari sini. Aku sudah bertanggung jawab dengan memberimu obat."


"Jika ini karena Lily, aku tidak bisa melupakan, bukan berarti aku mencintainya, kan? Dia wanita yang sempat hadir dalam hidupku."

__ADS_1


"Aku tidak ingin menjalin hubungan bersama pria yang terjerat pada masa lalunya." Zareena memberi kode bahwa ia memang tidak menyukai Lily, meski wanita itu telah tiada. Ia cemburu karena Tristan begitu mencintainya.


"Setiap orang punya masa lalu, Zaree. Kenapa kau menyiksaku begini?" Tristan berkata lirih.


"Kau yang tidak jujur padaku. Kau bahkan menyediakan waktu untuk mengenang kebersamaanmu bersamanya. Aku tidak ingin dibandingkan, Tristan. Aku tidak ingin menjadi bayang-bayang Lily."


Tristan menggeleng. "Apa aku pernah berkata demikian? Apa aku pernah menyebut nama Lily di hadapanmu? Saat aku tidur bersamamu, apa aku pernah menyerukan namanya? Kau adalah kau. Aku sadar siapa wanita yang kuinginkan."


Berdamai pada masa lalu, mungkin Zareena harus melakukan itu. Tapi, ia tidak ingin membuat ini begitu mudah bagi Tristan.


"Aku memintamu pergi, Tris."


"Aku tidak ingin." Dengan cepat Tristan menolaknya.


"Terserah padamu. Aku tidak peduli kau mau pergi atau tidak."


Zareena membuka jaketnya, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Tidak peduli, Tristan tidur di mana, asal pria itu tidak berada di dekatnya.


"Aku akan tetap di sini," kata Tristan.


"Aku tidak peduli, asal jangan naik ke atas tempat tidur." Zareena melempar bantal begitu saja ke lantai.

__ADS_1


Tristan memungutnya, dan ia cuma bisa memperhatikan Zareena yang bergelung dengan selimut dalam posisi membelakanginya.


Bersambung


__ADS_2