
Kegugupan melanda ketika Zareena dan suaminya telah berada di depan kediaman Calmington. Zareena juga sudah menghubungi Valdo untuk menemuinya di rumah orang tua mereka guna memberi pengumuman penting bagi keluarga.
"Kau takut?" Tristan menggengam erat tangan istrinya.
"Lebih kepada gugup. Ya, takut juga kalau pernikahan ini tidak direstui. Kau begitu juga, kan?" Zareena memandang suaminya.
"Mungkin lebih ke perasaan tidak enak saja. Apa pun itu, kita hadapi saja. Ayo, kita masuk. Lagian sudah sampai di sini. Tidak mungkin pulang lagi."
Zareena mengangguk. "Ayo, kita masuk dan hadapi apa pun yang terjadi."
Keduanya melangkah bersama menuju pintu depan. Zareena tahu jika orang tuanya sudah pasti sudah menunggu, hanya saja mereka memang sengaja untuk membuatnya begitu dramatis.
Bel ditekan dua kali. Pintu langsung saja dibuka oleh pelayan. Nah! Sudah Zareena duga memang kedatangan mereka tengah ditunggu.
"Nona sudah ditunggu," ucap pelayan itu.
Zareena cuma mengangguk, lalu melangkah masuk bersama Tristan. Valdo, Mary serta Henry rupanya tengah duduk di ruang keluarga.
"Papa!" Zareena berseru.
Henry bangun dari duduknya, lalu memeluk Zareena. "Kau kembali, Sayang."
"Ya, bersama suamiku." Zareena menjawab sekaligus memberitahu statusnya.
__ADS_1
"Apa maksudnya suami?" Mary menatap tajam putrinya.
"Duduklah dulu," ucap Henry, "ayo, Tristan. Kau juga."
Tristan mendaratkan diri di sofa disusul oleh Zareena di sampingnya. Valdo masih enggan untuk menegur sahabatnya itu. Ia pun memalingkan wajah ketika tidak sengaja bertabrakan pandang bersama Tristan.
"Tuan, Nyonya. Aku mau membuat pengakuan. Aku dan Zareena sudah menikah," ucap Tristan.
"Menikah tanpa kami? Kau mengambil putri kami tanpa persetujuan." Mary mulai marah.
"Aku tahu itu. Aku mencintai Zareena. Dengan kesungguhan, aku menikahinya. Kalian tenang saja, kami akan buat pesta pernikahan. Tentunya dengan tradisi keluarga."
"Masalahnya bukan itu. Apa kau baik untuk putriku?"
"Kau tidak bisa melupakan mantanmu itu." Valdo membuka suaranya.
"Aku melupakan cintanya. Biar saja Lily menjadi kenangan dari bagian hidupku di masa lalu. Sekarang masa kini dan masa depan hidupku ada bersama Zareena," ucap Tristan.
"Sudahlah Mary, Valdo. Zareena dan Tristan sudah menikah. Kita mau apa lagi. Mereka berdua telah menjadi sepasang suami istri." Henry mencoba untuk membuat semuanya berdamai.
"Kenapa kau membelanya? Tristan telah membuat malu keluarga kita." Mary sepertinya masih tidak terima atas peristiwa waktu itu.
"Dan Tristan menikahi wanita yang dipermalukannya itu. Mereka telah menikah. Sebagai orang tua, kita hanya memberi restu. Putrimu sudah dewasa dan dia berhak menentukan hidupnya sendiri."
__ADS_1
"Mama, aku mencintai Tristan. Itu sebabnya aku menerimanya sebagai suamiku," ucap Zareena.
Mary mendengkus. Ya, memang ia harus menerima keadaan. Zareena dan Tristan telah menikah.
"Rencanakan saja pesta pernikahannya. Harus mewah dan mengundang banyak orang."
"Aku akan wujudkan itu." Tristan menyahut.
Valdo memandang keduanya. "Selamat untuk kalian berdua."
"Kau masih marah, Val?" Tristan tidak lupa bahwa ia harus membujuk sahabatnya.
"Aku hanya kecewa akan sikapmu."
"Aku tahu, dan aku sudah minta maaf untuk itu."
"Valdo, aku bahagia bersama Tristan." Zareena menyela.
Valdo tersenyum pada adiknya. "Sudah kelihatan saat kau menangisi pria itu."
"Kau setuju, kan?" Zareena memastikan.
"Memangnya ada pilihan? Aku harus setuju, kan?"
__ADS_1
Bersambung