
"Sepertinya kau perlu ke dokter," kata Valdo saat Tristan baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kau benar, Val. Aku memang perlu dokter. Aku mau pulang."
"Habiskan dulu jus yang ibuku buatkan."
Tristan meraih gelas yang ada di meja, lalu meneguk jus itu sampai habis. Ia menyeka bibirnya dengan lengan jas yang dikenakan setelah itu.
"Di mana Zareena?" tanya Tristan.
"Dia sudah pergi," jawab Valdo.
"Sampaikan padanya aku sangat berterima kasih," ucap Tristan. "Oh, aku pergi dulu. Sampai jumpa nanti."
"Tunggu, Tris," cegat Tristan.
"Ya, ada apa?"
Valdo memerhatikan dirinya dari atas sampai bawah, dan itu membuat Tristan tidak nyaman. Takutnya pria itu tahu apa yang ia lakukan bersama Zareena.
"Pergilah ke dokter," ucap Valdo.
Tristan mengangguk. "Baiklah, aku akan segera ke dokter."
"Biar aku antar sampai ke depan."
__ADS_1
Astaga! Tristan ingin menghilang saja saat ini di hadapan Valdo. Sahabatnya itu seperti seorang penyidik yang penuh kecurigaan terhadap terdakwa saat ini.
Keduanya tiba di depan beranda rumah dan Valdo masih belum beranjak sebelum Tristan masuk mobil. Setelah pria itu keluar dari halaman rumah, barulah Valdo masuk.
Tristan menghentikan mobil ketika melihat seorang gadis berada di balkon kamar atas. Wanita itu tersenyum seraya menjulurkan lidahnya tanda menggoda.
"Sialan! Awas kau, Zareena," gumam Tristan, lalu kembali mengendarai mobilnya.
Dari atas sana, Zareena tertawa. "Saat kita bersama nanti, aku tidak ingin kau menundanya lagi."
"Zareena!" tegur Belva.
Zareena menoleh. "Iya, Belva."
"Mama memanggilmu. Ayo, turun."
Zareena berlalu dari kamar menuju ruang TV. Ia berjalan perlahan ketika semua anggota keluarga duduk di sana, dan mata mereka tertuju padanya.
"Ada apa?" tanya Zareena.
"Duduklah, Nak. Ada yang ingin Mama bicarakan padamu," ucap Mary.
Zareena duduk di samping sang ibu. Perasaannya kali ini tidak enak. Dalam hati Zareena mulai bertanya-tanya, dan takutnya ini masalah yang sangat serius.
"Begini, Nak. Kami ingin agar kau segera menikah," ucap Henry.
__ADS_1
"Papa tidak ingin menampungku di rumah ini? Aku bisa tinggal di apartemenku," kata Zareena.
"Apa yang kau katakan? Sebelum menikah, kau harus tinggal di rumah ini, kecuali Valdo. Dia bebas ke mana pun."
"Sekarang dia tidak bebas karena sudah menikah," sahut Mary.
Belva cuma tersenyum, sedangkan Valdo mendengkus. Kenapa dirinya dibawa-bawa? Ia melirik istrinya, lalu tersenyum, dan Belva malah salah tingkah.
"Maksud Papa apa?" tanya Zareena.
"Kami ingin kau menikah. Dia anak dari teman Papa."
"Kalian ingin menjodohkanku?" Zareena tidak percaya kalau ia akan bernasib sama seperti Valdo.
"Anaknya sangat tampan dan mapan, Sayang. Kami mengenal keluarganya dengan baik dan kalian pasti sangat cocok," Mary menimpali.
"Kau tidak perlu menerimanya langsung, Nak. Kami cuma ingin kalian berkenalan lebih dulu," ucap Henry.
"Benar, Sayang. Kamu pikirkan saja. Kalau kau tidak mau, ya, kami tidak akan memaksa," kata Mary menambahkan.
Zareena mengangguk. "Iya, aku akan memikirkannya dulu."
Henry dan Mary tersenyum. Zareena adalah anak yang patuh, dan bisa dipastikan wanita itu akan menerimanya. Namun, Zareena memiliki pria yang saat ini bersamanya.
Tristan? Bagaimana tanggapan pria itu nantinya? Tapi antara Tristan dan dirinya memang tidak terlibat hubungan apa pun. Mereka hanya bersenang-senang dan saling memuaskan satu sama lain.
__ADS_1
Bersambung