My Hot Baby

My Hot Baby
Alasan Sebenarnya


__ADS_3

"Kau gagal lagi?" Miles tertawa melihat wajah murung Tristan. "Kau kurang pandai merayu."


"Kau bisa diam tidak?" Tristan semakin kesal mendengar ejekan Miles. "Coba kau berikan solusi untuk masalahku ini."


"Kau tinggal buka saja pakaianmu itu. Melihatmu tanpa sehelai kain, Zareena pasti akan tergila-gila." Miles tertawa mengucapkan hal itu.


"Sialan kau!" Tristan menenendang Miles, tetapi sayang tendangannya meleset. Bahkan Miles semakin mempermainkannya. "Kau jangan membuatku kesal."


"Aku memberimu solusi yang benar. Pertengkaran akan padam bila dibarengi dengan kehangatan. Buat Zareena meluapkan amarahnya pada tubuhmu."


Sungguh sial bagi Tristan telah mengajak Miles ikut bersamanya. Tristan juga mau mengajak Zareena bergelut dalam selimut, dan kebetulan ia juga merindukan wanitanya itu. Andai semudah yang Miles katakan. Nyatanya tidak begitu. Zareena masih dalam keadaan marah, dan entah sampai kapan itu.


"Kau temani aku mencari kediaman Tuan Smith. Pasti rumah sewa Zareena tidak jauh dari kediaman Bibi Marta." Tristan lekas berjalan menuju mobil.


Sementara Miles masih dalam mengejek. Ia tidak ingin mengatakan apa yang ia dengar dari bibir Zareena. Biar saja Tristan menderita. Hitung-hitung sebagai hiburan.


Miles menyusul masuk mobil. Tristan langsung menjalankan kendaraannya menuju jalan perumahan Bibi Marta. Sampai di sana, Tristan lebih mudah bertanya warga sekitar, dan ia mendapatkan alamat di mana Zareena tinggal.


"Kenapa kau memutar mobil lagi? Kau tidak ingin menemui Zareena?" Miles sedikit heran karena Tristan mengemudikan mobil ke arah lain.


"Aku tidak akan membawamu. Kau kembali saja ke hotel."

__ADS_1


"Kenapa? Aku bisa membantu membujuk Zareena."


"Pokoknya kita pulang ke hotel." Tristan menegaskan nada ucapannya.


Miles cuma bisa mendengkus. "Baiklah, kita kembali ke sana."


Tristan tidak ingin menemui Zareena terlebih dulu lantaran mereka baru saja bertengkar. Ia akan mengulur sedikit waktu, lalu datang ketika suasana wanitanya tenang. Sementara Miles kecewa lantaran tidak akan bisa melihat Tristan murung karena penolakkan Zareena.


"Kau pulang cepat." Brian langsung duduk di tepi tempat tidur Zareena. "Apa kau dipecat?"


"Tristan menemuiku, lalu ia membeli semua roti."


Brian mengangguk. "Ah, ibuku juga bilang jika dia didatangi oleh dua orang pria. Tristan memang berniat mencarimu."


"Lalu? Bukannya itu keinginanmu?"


Zareena mengedikan bahu. "Entahlah. Aku kecewa karena dia membatalkan pertunanganku."


"Kurasa bukan begitu." Brian menyela.


Kening Zareena berkerut. "Apa lagi?"

__ADS_1


"Kau kecewa lantaran Tristan masih mencintai kekasih lamanya. Itulah alasan kenapa kau membencinya."


Zareena terdiam karena apa yang Brian katakan adalah hal kebenaran. Ia kecewa pada Tristan yang masih mengingat akan masa lalunya. Zareena malah bersyukur pertunangan itu batal. Memang keluarganya cukup dibuat malu karena batalnya pertunangan, tetapi itu sebagai peringatan pada ibunya yang senang mengatur.


"Kau jangan menyiksa dirimu, Zaree. Kau juga punya perasaan padanya, kan?"


"Jangan menebak lagi, Brian."


"Kelihatan dari wajahmu. Kau memang mencintainya."


"Aku akan buatkan makan malam." Zareena mencoba mengubah topik.


Brian mengangguk karena ia juga tidak ingin membuat Zareena merasa tidak nyaman dengan pembahasan ini.


Selesai makan malam bersama, Brian pamit pulang. Lagi-lagi Brian mencuri kesempatan dengan mengecup pipi Zareena dan membuat wanita itu merencanakan perhitungan padanya.


Ketukan pintu terdengar lagi. Zareena tersenyum. "Kau ingin mengambil kesempatan lagi Brian. Itu tidak akan terjadi."


Zareena mengepalkan tangannya, ia bersiap untuk memberi pukulan pada Brian. Zareena menarik handel pintu, lalu melayang tinjuannya.


"Sial!"

__ADS_1


Zareena menutup bibirnya sembari melotot. "Tristan!"


Bersambung


__ADS_2