
Sayangnya urusan lain telah menunggu Tristan. Siang ini ia tidak bisa menghabiskan waktu bersama wanitanya, begitu juga dengan Zareena yang menunjukkan layar ponsel jika Mary telah melakukan panggilan berkali-kali dan meminta untuk pulang segera.
"Memangnya di rumah ada acara?" Tristan sedikit kesal karena gangguan telepon yang terus berdering itu.
"Ada makan malam bersama salah satu sahabat papaku."
"Ibumu pasti menyuruhmu memasak atau membuat puding, seperti pertemuan bersama keluarga Belva."
Zareena menahan tawa. "Itu salah satu promosi. Siapa tahu mereka menyukai masakanku, lalu aku bisa terkenal."
"Tapi ibumu tidak berpikir demikian. Mungkin saja kau akan bernasib sama seperti Valdo. Bisa saja ibumu menunjukkan kemampuanmu agar para tamu itu kagum, dan mengambil kau sebagai menantu mereka."
Perkataan Tristan begitu tepat menusuk hati Zareena. Memang yang dikatakan pria itu sangat benar, dan Zareena tengah menjalani perjodohan itu.
"Kau keterlaluan, Tris."
Tristan menyadari ucapannya. "Maafkan aku."
"Sudahlah."
"Aku hanya bicara apa yang kulihat, Zaree. Kalian sangat kaya, tetapi ibumu sangat berpikir kuno."
"Cukup menghina ibuku." Tegas. Zareena mengucapkannya.
__ADS_1
"Aku menyesal telah mengatakannya."
"Tapi ucapanmu ada benarnya. Valdo susah diatur dan dia suka bermain-main. Orang tuaku menjodohkan dia bersama Belva agar hidupnya teratur."
Tristan meraih tangan Zareena. "Lupakan, Sayang. Aku sungguh minta maaf."
"Aku harus pulang."
"Tunggu di sini sebentar, aku bayar dulu makananannya." Tristan beranjak dari duduknya.
Napas Zareena terasa sesak. Andai Tristan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ia sama sekali tidak ingin memberitahu Tristan tentang perjodohan itu. Tidak ada alasannya untuk berkata yang sebenarnya.
Zareena bangun dari kursinya ketika Tristan sudah datang. "Aku bawa mobil sendiri." Memberitahu jika Tristan tidak perlu repot mengantarnya.
"Biar aku antar sampai ke mobil."
"Aku akan meneleponmu nanti," ucap Tristan.
"Ya, aku pulang dulu."
Zareena masuk, dan Tristan menutup pintu mobil. "Sampai nanti, Sayang."
Zareena mengangguk, lalu tersenyum. Ia menyalakan mesin, kemudian berlalu dari sana. Tristan melihat mobil yang Zareena kendarai menjauh, barulah ia berlalu dari hadapan restoran.
__ADS_1
Waktu terasa berlalu dengan cepat. Langit yang biru cerah, berganti tinta warna hitam. Hidangan makan malam sudah tersedia. Kakak dan kakak ipar telah datang untuk menyambut keluarga Hemswort.
Zareena juga telah tampil cantik dengan gaun putihnya. Ia berdandan untuk acara istimewa ini. Suara dari pelayan yang memanggil tuan rumah, semakin membuat Zareena merasa gugup.
Chris dan orang tuanya telah datang dan di sinilah nanti penentuan garis takdir Zareena. Semua datang menyambut, tidak terkecuali Zareena yang menyapa Chris.
"Aku begitu senang menerima pesanmu."
"Maaf karena aku tidak membalas pesanmu," ucap Zareena kikuk.
"Kau sedang liburan dan aku malah menganggu."
"Jangan merasa bersalah begitu. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Ya, tapi aku memang sedikit bersenang-senang."
"Sampai kapan kalian akan mengobrol di situ terus," tegur Valdo. "Ayo, gabung."
Zareena dan Chris saling melempar senyum. Keduanya bergabung bersama keluarga. Pembicaraan mengenai perjodohan di mulai.
"Semua keputusan ada di tangan anak-anak. Serahkan saja semuanya pada mereka," ucap Henry, lalu memandang Chris. "Bagaimana Chris, apa kau mau menerima perjodohan ini?"
Chris tersenyum. "Aku menerima Zareena sebagai calon istriku."
"Lalu, kau, Zareena?" tanya Henry.
__ADS_1
"Iya, aku juga menerima Chris," jawab Zareena.
Bersambung