My Hot Baby

My Hot Baby
Mau Juga


__ADS_3

Zareena tidak membeli barang keinginannya secara langsung, tetapi ia membeli secara online. Barang-barang itu nantinya akan dikirim ke kediaman Calmington.


"Kau tidak ingin membelikanku rumah?" tanya Zareena.


"Kita sudah ada rumah. Mau yang bagaimana lagi bentuk rumah yang kau inginkan?"


"Tentu saja rumah baru atas namaku. Jika kau bertingkah, maka aku bisa langsung pulang ke tempatku sendiri."


"Kau sungguh tidak percaya padaku. Rumah itu aku bangun sendiri. Kalau kau cemburu pada Lily, aku bersumpah dia tidak pernah menaiki rumah itu, bahkan aku juga baru pindah setelah dia tiada."


"Aku tidak mengungkit Lily. Lalu, kenapa kau membahasnya?" Zareena meletakkan ponselnya di atas nakas.


Keduanya saat ini telah berada di kamar hotel setelah makan siang bersama. Tristan tidak dapat menyentuh istrinya lantaran Zareena yang sibuk berbelanja.


Seribu pound lenyap begitu saja. Entah apa yang dibeli Zareena. Asal istrinya itu senang, ia tidak keberatan sama sekali. Tristan akan bekerja keras lagi agar Zareena tidak merasa kurang.


"Bukan aku yang ingin membahasnya, tetapi kau yang cemburu pada orang mati."


Zareena tersenyum. "Wah, Tris. Kau tidak bersedih lagi rupanya."

__ADS_1


Tristan sungguh kesal mendengar Zareena terus menyindirnya. Ia beranjak dari sofa menuju tempat tidur. Mendorong Zareena sampai wanita itu terlentang tidak berdaya. Tristan membuka paksa celana jeans yang istrinya itu kenakan.


"Aku belum mengizinkanmu." Zareena mencoba menghalangi tangan Tristan yang mulai menurunkan kain katun pada bagian terakhir dari kakinya.


"Sungguh? Kau tidak menginginkan ini?" Tristan mengusap kuntum yang belum merekah itu. "Sudahi kecemburuanmu itu, Sayang. Sekarang rasakan saja nikmatnya permainanku."


Tristan menyibak kelopak mawar yang memerah. Putik yang memanggil dirinya untuk segera disentuh, dan Tristan tentu tidak ingin membuang waktu.


Zareena berteriak ketika Tristan malah memberi gigitan bukan sapuan. "Sakit ...."


"Siapa lagi yang menyentuhnya?" Tristan mengusap bagian yang ia gigit tadi. Menyapunya bekasnya dengan lidahnya yang lembut.


"Kau ingin aku mencicipi ini?" Tristan memainkan larutan air yang memikatnya.


Zareena mengangguk. "Iya ...."


"Kau harus jujur. Siapa yang pernah mencicipi ini? Kau tidur bersama Chris dan Brian?"


Zareena bangun dengan bertopang dua siku tangannya. "Tidak, aku berbohong padamu. Ayo, Sayang. Jangan siksa aku seperti ini."

__ADS_1


Tristan tersenyum. "Kau sendiri yang senang yang menyiksaku."


Zareena yang tidak tahan, lantas menarik rambut Tristan, lalu membenamkan kepala suaminya di sana. "Lebih kuat lagi, Sayang."


Tristan menggerutu dalam hati. Tadi saja Zareena seperti jual mahal. Sekali merasa, malah istrinya itu yang tidak tahan.


"Enak?" Tristan menarik diri.


"Jangan berhenti. Aku mau lagi." Zareena kembali membenamkan kepala Tristan di bagian bawah miliknya.


"Sebentar, Sayang. Buka dulu bajumu."


"Nanti saja. Puaskan aku dulu." Zareena membelai rahang tegas suaminya. Perlahan ia kembali membujuk Tristan agar kembali mencucup kelopak yang tengah berkedut saat ini.


Tristan pun tidak sanggup menolak. Memasukkan dua jari sekaligus, kemudian membuatnya bergerak keras. Sembari menekan perut Zareeena, dua jari itu bergetar di dalam sana. Zareena melipat bibir, ia menjerit saat Tristan menarik dua jarinya bersamaan keluarnya air mancur dari sisi terdalamnya.


Zareena terengah-engah, sedangkan Tristan lekas membuka pakaiannya. Permainan ini masih akan berlanjut sampai batas Tristan dan Zareena memutuskan untuk berhenti.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2