
Malam yang membahagiakan karena Zareena serta Chris menerima perjodohan mereka. Makan malam istimewa pun menjadi lebih ceria. Terlihat dari wajah orang tua keduanya yang berseri-seri.
Chris pun tidak hentinya melayangkan senyum pada Zareena. Sungguh tidak menyangka jika wanita di hadapannya ini juga menerima perjodohan ini.
Sementara Zareena, berada dalam situasi yang rumit. Setengah hati menerima dan setengah hati tidak. Semua ini karena kedekatannya bersama Tristan. Bila waktu bisa diputar, maka Zareena akan memilih untuk tidak mengenal pria itu.
"Zaree," tegur Mary.
"Iya ...." Zareena tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
"Jangan memperhatikan Chris terus," seloroh Mary.
Zareena tersipu malu. Ia ingin meralat ucapan Mary, bahwa dirinya bukan memperhatikan Chris. Mata Zareena memang terarah pada calon suaminya. Namun, percayalah jika pikirannya telah melanlang buana pada Tristan.
"Ambil makanan penutupnya," ucap Mary.
Zareena mengangguk, lalu tersenyum. "Iya, tunggu sebentar."
Tiba-tiba ucapan Tristan tadi siang terlintas dalam pikiran Zareena. Ia membuat makanan penutup ini khusus untuk makam malam istimewa, dan tinggal melihat apakah Mary akan memujinya seperti apa yang Tristan pikirkan.
Puding strobery di letakkan di atas meja. Zareena memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu membaginya rata. Terakhir untuk Chris, dan sebagai ucapan terima kasih, Zareena mendapat senyum manis dari pria itu.
"Pudingnya enak," ucap Ellis Hemswort, ibu dari Chris.
"Zareena yang membuatnya," sahut Mary, lalu dibarengi dengan pujian yang lain.
__ADS_1
Untuk ini, Zareena mengacungkan dua jempol pada Tristan. Pembicaraan yang membosankan terjadi di meja makan. Keluarga membahas tanggal pertunangan, tetapi sesekali keluar dari topik, dan membuat obrolan itu tidak akan pernah selesai.
"Chris, kau mau ikut bersamaku?" tawaran itu tercetus juga dari bibir Zareena.
"Tentu saja."
Keduanya berpamitan dulu, sebelum melangkah menuju tepi kolam renang. Sesaat keadaaan menjadi hening. Baik Chris dan Zareena tidak tahu harus bicara apa.
"Puding tadi saat enak," ucap Chris.
Zareena memandangnya. "Aku bisa membuatkannya untukmu."
"Aku jadi tidak sabar."
"Apa alasannya?" tanya Zareena.
Chris mengerutkan kening. "Apa?"
Zareena tidak suka obrolan terlalu basa-basi. "Kau menerima perjodohan ini. Jangan katakan karena kau mematuhi perintah orang tuamu."
Chris menggeleng. "Keluargaku tidak pernah memaksa. Aku menerimamu karena aku memang menyukaimu."
"Sejak kapan?"
"Sejak kita berada di taman waktu itu. Kau menarik bagiku. Termasuk tipe wanita yang kuinginkan. Kau terlihat kuat juga pintar, dan sepertinya kita punya kesamaan yang sama," ungkap Chris. "Kau suka baca buku?"
__ADS_1
"Sedikit, tetapi aku lebih suka buku masakan."
"Lalu kau?" Chris balik bertanya.
"Tidak ada alasan untuk menolak. Ada pria tampan dan mapan ingin menikahiku, lalu kenapa aku menolaknya?"
Chris tertegun mendengarnya. "Kau yakin dengan apa yang kau katakan?"
Zareena tertawa. "Lupakan ucapanku tadi. Tentu saja aku juga suka padamu."
Delapan puluh persen untuk ucapan pertama tadi, lalu dua puluh persen untuk bagian kedua, yaitu "aku juga suka padamu."
"Ceritakan pengalaman liburanmu," pinta Chris.
Zareena memberitahu perjalanannya selama liburan di pulau Milos. Tentu saja lebih banyak kebohongan di sana karena Tristan dibicarakan sebagai seorang perempuan.
Chris memandang calon istrinya. "Sekarang kita sudah resmi. Kau adalah calon istriku."
Zareena tersenyum. "Iya, dan kau adalah calon suamiku."
"Aku beruntung mendapatkanmu."
Chris meraih kedua tangan Zareena. Mengangkatnya, lalu mendaratkan kecupan lembut di sana.
Bersambung
__ADS_1