
Sampai di Athena, Tristan dan Zareena langsung melanjutkan penerbangan menuju pulau Milos. Kemungkinan mereka akan tiba pada larut malam waktu setempat. Namun, untuk mengunjungi tempat terindah, maka perjalanan lelah ini akan segera terbayarkan.
Selama perjalanan keduanya menghabsikan waktu untuk tidur. Karena itu juga Zareena melarang Tristan untuk menyentuh bibirnya dikarenakan tidak ingin aroma menyengat yang keluar dari mulutnya bisa membuat pria itu pingsan.
Sayangnya Tristan tidak memperdulikan hal itu. Setiap ada kesempatan, maka ia akan mengecup bibir Zareena seakan sewaktu-waktu wanita itu akan lari darinya.
"Hentikan, Tris," ucap Zareena yang mendorong wajah pria itu.
Tristan tertawa. "Aku tidak mau berhenti."
"Aku ini baru bangun tidur. Mulutku beraroma mengerikan dan rasanya tidak enak."
"Aku tidak peduli. Apa pun yang ada di dirimu, aku sangat menyukainya."
"Tetap saja aku tidak mau kau menyentuhku. Duduk tenanglah dan tunggu sampai pesawat ini mendarat, baru kau boleh menyentuhku."
"Baiklah, aku tidak akan sembarangan lagi," ucap Tristan.
Setidaknya untuk beberapa saat Tristan menuruti keinginan Zareena untuk tidak menyentuh bibirnya secara sembarangan, dan kini pria itu terlihat memejamkan mata. Berharap Tristan tertidur pulas kali ini agar Zareena dapat leluasa melanjutkan mimpi indahnya.
Tristan terbangun ketika mendengar suara pramugari yang mengatakan mereka akan tiba sebentar lagi. Tristan menoleh pada si putri tidur. Ia menggeleng, lalu mengguncang pelan tubuh Zareena.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya.
"Kita akan sampai."
"Akhirnya sampai." Zareena meregangkan tubuhnya. "Aku lapar."
"Kau sudah menghabiskan makan malam di pesawat," ucap Tristan.
"Tapi aku kelaparan."
Tristan mengacak-acak rambut wanitanya. "Kita makan dulu nanti."
Keduanya singgah dulu di cafe, menikmati secangkir kopi panas dan roti isi untuk mengisi perut malam ini sebelum menuju hotel yang telah dipesan.
"Malam ini aku akan tidur nyenyak," ucap Zareena.
"Kau tidak ingin mandi malam?" tanya Tristan. "Ayolah, Sayang. Kau sejak tadi sudah tidur pulas dalam pesawat."
"Tetap saja tubuh ini terasa lelah. Rebahan di atas kasur empuk pasti sangat nyaman."
"Lebih baik kita segera ke hotel. Ayo, cepatlah," kata Tristan.
__ADS_1
Zareena melahap satu potongan kecil roti yang ditinggalkan Tristan. Sangat sayang bila menyisakan sedikit cemilan isian daging dan keju di dalamnya. Kemudian mengeret koper menyusul Tristan yang tengah membayar makanan mereka.
Tidak begitu lama sampai mereka menemukan taksi yang mengantar menuju hotel Berlia Santorini. Tristan juga telah menyewa hotel dan resort itu selama kurang lebih sepuluh hari ke depan.
Sampai di sana, tinggal menunjukkan ponsel, Tristan telah mendapatkan kartu kuncinya. Keduanya berjalan menuju kamar mereka dengan dipandu seorang pelayan yang membawa koper.
"Silakan, Tuan, Nona," ucap pelayan itu.
Tristan memberi pelayan itu tip sepuluh euro karena telah mengantar mereka. Pintu ditutup, Zareena langsung merebahkan diri di kasur. Kamar yang luas dan menghadap langsung ke laut. Sayangnya pemandangan akan lebih baik disaksikan pada siang hari.
"Kau tidak ingin mandi?" tanya Tristan.
"Bawa aku bersamamu," kata Zareena.
"Kau ingin berendam bersama?"
"Boleh, aku akan ikut apa pun yang ingin kau lakukan."
"Aku akan melakukannya dan membalas perbuatanmu tadi malam," ucap Tristan.
Bersambung
__ADS_1