My Hot Baby

My Hot Baby
Wanitaku


__ADS_3

"Lucu, Valdo sangat menyebalkan. Dia menitipkanmu padaku, tetapi dia menyuruhmu untuk menjauh dariku," kata Tristan.


Zareena terkekeh. "Dia tahu siapa sahabatnya yang sebenarnya. Bagaimanapun, Valdo adalah kakakku. Dia tidak ingin adiknya ini terluka atau disakiti oleh pria seperti dirimu."


"Aku?" tunjuk Tristan pada dirinya sendiri. "Kau tidak salah bicara? Kau-lah yang membuatku menderita."


"Hentikan pembahasan ini. Lebih baik aku kembali ke kamarku." Zareena turun dari tempat tidur, lalu melangkah ke pintu. Namun, ia berhenti kemudian memutar tubuhnya menatap Tristan.


Pria itu malah tertawa, dan malah menjatuhkan dirinya di atas ranjang empuk. "Aku sudah bilang jika tidak bisa tidur tanpa pelukan seorang wanita."


Zareena mendengkus, lalu kembali ke atas tempat tidur. Tristan langsung memeluknya dan mengecup pipi wanita itu.


"Jangan menyentuhku sembarangan," protes Zareena.


Tristan tidak peduli. "Tidurlah, Sayang."


Jantung Zareena berdegup kencang. Ia mengira Tristan akan kembali melanjutkan kegiatan tadi. Nyatanya pria itu malah tidur. Ada sedikit rasa kecewa di sana. Zareena ingin sekali mengutuk dirinya yang tergila-gila akan sentuhan pria itu.


Rasa nyaman baru kali ini Tristan rasakan ketika di sampingnya terlelap seorang gadis cantik. Wanita yang telah mampu mengalihkan perhatiannya. Zareena yang dulu menyembunyikan kecantikannya. Ingin sekali Tristan menyuruh Zareena kembali mengenakan rok tutu serta blouse bertumpuk agar tidak ada satu pun pria yang akan mendekati gadis cantiknya.


"Aku akan menghadapi Valdo jika dia berani menentang hubungan kita," bisik Tristan.


Zareena mengeliat, Tristan kembali memeluk dan mengecup kening wanita itu. Ia mengusap punggung belakang Zareena agar semakin pulas dalam tidur.

__ADS_1


Matahari sudah bersinar terang ketika Zareena mengeliat dari tidurnya. Perlahan ia membuka mata dan Tristan tidak ada lagi di sampingnya.


Terdengar pintu kamar mandi digeser. Tristan keluar dengan handuk membalut setengah tubuhnya. Zareena menatapnya, tersenyum melihat pemandangan yang menyegarkan mata itu.


"Kau tidak ke kantor?" tanya Zareena.


"Aku akan bekerja dari rumah. Tugasku adalah menjagamu."


"Kau tidak takut merugi?"


"Aku tetap bekerja, tetapi di rumah," jawah Tristan yang melangkah mendekati Zareena. Ia mendaratkan kecupan di kening."


"Kau suka sekali menyentuhku."


"Lekaslah mandi atau kau ingin aku memandikanmu?"


"Sepertinya itu ide bagus."


Tristan terperangah. "Kau sengaja melakukan ini padaku. Cepatlah mandi dan buatkan aku makanan untuk makan siang nanti."


"Kau masih ingin menyiksaku?"


"Aku hanya meminta dibuatkan makanan bukan menyuruhmu membersihkan seluruh rumah. Aku ingin mencicipi masakanmu."

__ADS_1


Zareena mengulurkan tangannya. "Gendong aku ke kamar mandi."


"Dasar manja." Namun, Tristan melakukannya. Menggendong Zareena menuju kamar mandi. "Aku akan siapkan pakaianmu."


Pintu kamar mandi ditutup. Tristan memanggil pelayan untuk mengambil pakaian Zareena yang ada di kamar tamu.


Sementara Zareena begitu senang pagi ini. Tristan memperlakukannya dengan baik. Terlebih tadi malam mereka tidur bersama dengan saling berpelukan.


"Aku bisa gila jika terus bersama Tristan," gumam Zareena seraya menepuk pipinya.


"Zareena, aku tunggu kau di bawah. Pakaianmu akan dibawa oleh pelayan," seru Tristan.


"Oke ...."


Ketika sampai di ruang makan, sarapan sudah tersedia. Tristan mengisi perutnya lebih dulu seraya membaca koran.


"Maaf, Tuan. Menu makan siangnya apa ada yang khusus?" tanya pelayan.


"Biarkan Zareena yang memasak selama ia berada di sini. Oh, ya, beritahu semua untuk menjaga keamanan di rumah ini."


Pelayan itu membungkukkan tubuhnya. "Baik, Tuan."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2